Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik

Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik
Permainan Berakhir


__ADS_3

*Sret!*


Senolia turun pada tepian tanah curam.


Kawah ini memiliki kedalaman beberapa meter dengan satu lubang dalam tepat di tengah-tengahnya. Kehancuran besar ini membuat tidak ada satupun hewan dan tumbuhan di area dampal ledakan. Kedua penther Senolia yang kebetulan berada di area ledakan terpelanting jauh dan terbenam di dalam tanah. Untung saja keduanya tidak terluka berkat kemampuan membuat perisai Penther Pendukung.


Senolia dengan ramah dan tanpa rasa bersalah mendekati Elena sambil mengatakan, “Wah, wah, kamu tidak terluka dengan semua serangan itu, ya. Tidak, serangan itu adalah skill dari penthermu. Malah aneh jika kalian terluka karena itu. Yah, memang ada beberapa skill yang bisa melukai penggunanya sendiri, tapi baguslah kalian berdua tidak terluka.”


Elena masih mempertahankan wajah datar dan dinginnya pada Wanita ini. Matanya menatap tajam menunjukkan kebencian atau lebih mengarah pada ketidakpuasan pada Senolia. Tentu saja, alasannya adalah dia yang harus bertarung sampai menjadi seperti ini. Sesuatu seperti ini membuat Elena merasa jengkel pada orang ini dan ingin memberikan pukulan ringan yang tidak menyakitkan agar Wanita di hadapannya ini memiliki perasaan tentang kekesalannya.


Tidak jauh dengan Elena, Aya juga merasa jengkel dengan tindakan Senolia. Tatapan matanya mendatar dan memberikan kekesalan yang memancar. Sama seperti Trainernya, dia juga ingin memberikan beberapa pukulan atau cakaran pada Wanita ini. Tetapi saat ini dia mengurungkan niatnya dan menyerahkan perlakuan selanjutnya pada Elena. Juga, dia sudah sangat kelelahan karena menggunakan skill terakhir itu. Kelelahan menumpuk ini membuatnya tidak ingin melakukan tindakan sia-sia.


“Hmm? Kenapa kamu melihatku seperti itu?” Senolia mengangkat alisnya. “Permainan ini sudah berakhir, kok. Kamu memang sangat hebat karena bisa menemukanku setelah mengalahkan semua penther yang aku kirimkan ke padamu. Meski keduanya tidak mati, setidaknya mereka bertiga cukup tidak berdaya dalam melukaimu. Jadi. sudah bisa dikatakan kamu bisa mengalahkan mereka semua.”


“Apakah menurutmu ini lucu? Menyuruh seseorang untuk melakukan pertarungan seperti itu.” Elena mengarahkan katananya pada Senolia. “Aku sudah cukup lelah hari ini karena tidak menemukan apa yang kami perlukan, kemudian saat malam kamu malah memberikan sesuatu yang menyebalkan dan perasaan lelah seperti ini? Ini sama sekali tidak lucu untukku.”


“Sudahlah, lagi pula ini semua sudah selesai, benar?” Keringat dingin mulai muncul dari pelipis Senolia. “Aku juga akan menepati janjiku untuk memberitahukan rekomendasi yang tepat untuk memberikan makan kucingmu itu, lho. Yang kamu lakukan pada malam ini tidak sia-sia dan menguntungkan kedua belah pihak—aku dan kamu—. Tidakkah kamu merasa senang tentang itu?”

__ADS_1


“Huh….” Elena mengibaskan katana tersebut sebelum itu menghilang. “Apakah kamu tahu maksud dari menyakiti atau menjahili seseorang secara tidak sengaja? Kamu pasti tahu dengan manusia itu tempatnya salah dan lupa. Tidak semua manusia akan senang dengan perlakuanmu seperti ini.” Dia mengeluarkan sedikit dari unek-unek dalam kepalanya. “Aku tidak tahu apa tujuanmu, tapi aku tahu jika itu membuatku tidak nyaman.”


Pertama, Elena menggunakan banyak dari keterampilan bela dirinya. Meski ini tidak sampai membuka semua kemampuannya, tetapi dia menunjukkan sesuatu yang cukup luar biasa dari apa yang bisa trainer biasa lakukan. Ini menjadi salah satu hal yang dibenci Elena karena pasalnya dia ingin menyembunyikan rapat-rapat tentang kemampuannya ini.


Kedua dan menjadi paling fatal, Senolia memiliki kemunculan mencurigakan yang bahkan Elena sendiri kesulitan dan tidak mengetahui tentang asal-usulnya. Kemampuan cenayangnya—Telepati—tidak memberikan jawaban dari membaca pikiran Senolia yang menunjukkan betapa ahlinya Senolia untuk menyembunyikan emosi sebenarnya, bahkan dia mengubah pikirannya ketika melakukan akting. Ini sudah cukup untuk menebak bahwasanya Senolia bukanlah orang biasa.


Memperkirakan tentang Senolia yang memiliki kemampuan berakting seperti itu, Elena ragu bahwa dia bisa mengelabuhinya dengan menahan kekuatannya. Berpura-pura pingsan dan kehabisan tenaga bukan merupakan salah satu pilihan dengan kemungkinan Senolia dapat membedakan dengan pingsan sungguhan dan pingsan yang dibuat-buat. Elena juga merasa jika Orang ini akan tetap menyerangnya meski Aya sudah kalah. Jadi dia terpaksa memenangkan dari pertarungan ini.


“Em….” Senolia memandang ke atas dengan jari telunjuknya yang menempel di dagunya ketika dia berpikir. “Bagaimana jika aku melakukan satu hal yang bisa membuatmu menjadi lebih nyaman? Begini-begini aku adalah orang yang bertanggung jawab. Meski kesalahan dan membuatmu tidak nyaman ini aku lakukan secara tidak sengaja, aku tetap akan bertanggung jawab dengan ini.”


“Selama apa yang kamu minta bukan sesuatu yang tidak masuk akal dan tidak bisa aku lakukan!” Dia tersenyum cerah pada Elena, masih belum mengetahui tentang apa yang akan terjadi berkat ucapannya.


“Baik!” jawaban riang Elena.


*Bam!*


Elena tanpa sedikitpun rasa bersalah langsung mengepalkan tangannya dan meninju pipi Senolia. Dia justru memiliki ekspresi riang dan senang karena melakukan ini. Setidaknya ini membuat amarahnya sedikit mereda setelah melakukan hal buruk padanya. Tentu saja, dia tidak menggunakan seluruh dari kekuatannya untuk tidak memberikan kerusakan besar.

__ADS_1


•••••


“Jadi, dia akan tinggal bersama kita selama beberapa hari ke depan. Berbuat baiklah padanya,” ucapan Elena dengan tidak acuh ketika dia memperkenalkan Senolia pada teman-temannya.


Wajahnya saja mengarah pada arah lain dari Senolia. Hanya matanya saja yang memberikan lirikan padanya tanpa rasa simpati apapun, hanya untuk mengawasi gerak-gerik Senolia. Permainan sebelumnya cukup untuk memberikan kesan buruk pada Senolia, kemudian ini tidak akan mudah untuk dihilangkan. Kebanyakan orang memang menilai seseorang dari sikap pada pertemuan pertama, sih. Jadi karena itu kita perlu berpakaian sopan dan rapi saat bertamu dan menemui orang asing.


“Selamat malam. Namaku Eternity Senolia. Aku harap kita bisa berteman baik. Kemudian…, jika ada yang ingin kalian tanyakan, kamu bisa bertanya sekarang juga, lho. Aku sangat berharap kita akan memiliki hubungan baik untuk ke depannya. Tidak menyenangkan untuk tinggal bersama orang yang kamu benci, bukan?” perkenalan Senolia dengan ramah.


Singkatnya saja, Elena memaafkan Senolia meski masih memiliki beberapa kebencian padanya, lalu Senolia ikut bersama Elena untuk masuk dalam party-nya. Ini tentu saja mempermudah Senolia yang memiliki tujuan untuk mengetahui kekuatan Elena beserta grupnya.


Elena sendiri mau menerima Senolia mengikuti grupnya karena ingin menggali lebih dalam tentang identitas Senolia sebenarnya. Memperhitungkan kemampuan orang ini yang “elite”, setidaknya Elena yakin dia berasal dari sebuah perkumpulan tertentu. Dia tidak suka jika kemampuannya sampai bocor sedangkan dia masih belum tahu akan digunakan untuk apa itu nanti. Juga, Senolia masih belum mengatakan di mana tempat restoran bagus untuk makan Aya.


Kitsuna mengangkat tangannya dan bertanya, “Kenapa di pipimu kamu memiliki bekas pukulan?”


Pertanyaan yang sederhana dan langsung to the point tanpa memanjangkan atau memendekkan. Inti dari pertanyaan ini sangat jelas bahkan anak SD sekalipun dapat mengetahui apa maksud dari pertanyaan yang satu ini. Hanya saja, ini masuk dalam soalan sulit untuk beberapa alasan.


“Aku terjatuh dan terbentur batu. Bukan sesuatu yang penting, jadi kalian tidak perlu membahasnya.” Senolia melambaikan tangannya dengan pelan dan memberikan senyuman agar perhatian semua orang tertuju pada itu.

__ADS_1


__ADS_2