Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik

Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik
Story Telling


__ADS_3

Setelah menyelesaikan beberapa kesalahpahaman di antara mereka, mereka semua makan malam dengan sosis bakar yang telah dibeli di supermarket sebelumnya. Tidak lupa juga, Noctis membeli mentega untuk memudahkan dalam proses pembakaran dan saus tomat untuk menambah rasa makanan. Sayang sekali dia lupa membeli mayones, tetapi setidaknya dia tidak lupa membeli tusuk yang membantu mereka dalam pembakaran.


Masing-masing dari mereka memiliki sebuah sosis yang dituduhkan pada stik kayu dan dipanggang di dekat api unggun. Kecuali Theresa, dia memanggang dua sosis untuk dirinya dan serigala kecil. Bagaimanapun dia memiliki tanggung jawab sebagai seseorang yang membawa hewan liar ke kamp ini. Meski tugasnya tidak terlalu sulit, tidak perlu sampai mencari makanan sendiri, tetapi lebih banyak pekerjaan dilakukan karena harus mengurusi serigala kecil.


"Hmm… malam-malam begini di tengah hutan terlalu sepi. Apa kalian tidak memiliki satu cerita di malam sunyi ini?" tanya Noctis.


"Sebuah cerita kah? Aku tidak bisa mendapatkan ide dalam waktu singkat. Lagi pula, aku juga bukan seorang penulis cerita atau pencerita yang handal. Aku lebih suka membicarakan tentang politik dan ekonomi dari pada itu…," jawab Theresa.


"Tidak ada angin, tidak ada hujan, tidak ada badai aku heran apa motivasimu untuk melakukan ini, Noctis-sensei? Dan lagi, bukankah kita masih harus mendiskusikan tentang keanehan di dalam hutan ini? Bahkan dalam gelap malam seperti ini, kita tidak melihat banyak hewan selain serangga kecil, katak, dan hewan kecil lainnya." Mata datar Sophia tertuju pada Noctis bersamaan tangan kanannya memegang stik kayu.


"Tidak apa, bukan? Terlalu sunyi jika tidak ada yang berbicara di antara kita dalam hutan gelap ini, jadi aku ingin beberapa kisah untuk menghibur malam panjang. Jika terlalu banyak membahas topik bahasan berat, kapan otakmu akan beristirahat? Bahkan aku berencana membawa sound system ke tempat ini, tetapi kuurungkan rencana itu karena akan terlalu berisik." Noctis mengarahkan wajahnya pada Sophia.


"Ngomong-ngomong, Noctis-sensei, kenapa kaku jauh-jauh membeli makanan dari supermarket? Walaupun tidak banyak hewan di tempat ini, tapi karena tempat kita dekat sungai aku yakin kita akan bisa menangkap beberapa ikan? Terus, lalu kamu juga sangat lama pergi meninggalkan kita."

__ADS_1


"Jadi seperti ini, Muridku, Theresa." Noctis beralih padanya sebelum melanjutkan, "Aku tidak terlalu suka makan ikan. Masalahnya ada pada duri mereka yang terlalu banyak, jadi sangat sulit untuk mengolahnya mereka. Aku yakin Gadis Kecil itu pasti bisa membuat fillet ikan yang memudahkan saat memakannya, tapi sayang sekali dia tidak ada di dunia ini sekarang."


"Sudah, sudah, kembali saja pada ide bercerita seperti tadi. Aku akan mulai bercerita sebagai yang paling pertama di sini. Dengarkan, ya?" ucap Yovanca mengambil perhatian mereka semua.


'Woah… Bibi Yovanca memang ahli untuk mendamaikan suasana,' batin Theresa.


“Baiklah, Bibi yovanca!”


Entah mengapa Theresa bersemangat karena perkataan Yovanca. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari bercerita dalam tempat sunyi ini, tetapi setidaknya itu akan sedikit membuat suasana menjadi lebih hangat dan ramai. Sangat membosankan sekali ketika tidak ada yang berbicara dalam tempat sunyi ini. Kalian pasti pernah mengalaminya ketika semua orang di antara kalian masing-masing terlalu fokus pada smartphone masing-masing.


Dia menceritakan semua alur cerita hanya dalam satu tarikan napas. Keempat orang sisanya tentu saja mendengarkan itu, tetapi tidak terlalu jelas dalam prosesnya. Pembacaan ini terlalu cepat! Dia tidak cocok untuk menjadi pendongeng. Namun usahanya patut diberikan apresiasi karena telah memecahkan suasana terlalu suny di tempat ini.


“Entah mengapa aku merasa jika kamu tidak terlalu niat dalam bercerita. Apakah kamu memang memikirkan cerita ini dengan sungguh-sungguh?” Noctis menatap Yovanca dengan sungguh-sungguh.

__ADS_1


“Noctis-sensei, begini-begini Bibi Yovanca sudah berani untuk bercerita. Aku akui plotnya terlalu singkat, klimaksnya tidak terasa, dan bahkan nama tokohnya sekalipun tidak disebutkan. Dia juga membacakan cerita ini hanya dalam satu tarikan napas. Kisahnya ini memang sangat singkat dan cepat dalam pembawaannya. Tapi tetap saja, Bibi Yovanca sudah berjuang untuk memikirkan sebuah cerita dalam waktu singkat. Setidaknya ini lebih baik.” Theresa memberikan pembelaannya.


“Fumu, itu bisa diterima.” Alex menutup matanya sambil mengangguk.


“Yah, maaf jika cerita yang aku bawakan singkat dan antiklimaks. Aku membawakan cerita yang disukai Elenaku ketika dia masih kecil dulu,” jelas Yovanca. “Oh, maksudku bukan cerita ini memiliki isi yang sama, hanya saja cerita ini memiliki … em… bentuk yang kurang lebih sama. Cerita-cerita yang disukai Elenaku adalah cerita yang sepenuhnya berupa majas alegori atau berisikan filsafat, bukan pesan moral biasa.”


“Apakah itu benar, Noctis-sensei?” Theresa menengok ke Noctis setelah dari Yovanca untuk mengkonfirmasi.


Mereka berdua—Noctis dan Elena—telah bersama sejak Elena masih bayi, sehingga pengalaman Elena juga akan terekam oleh Noctis. Dengan begitu, bertanya pada Noctis adalah bertanya langsung pada informan yang saat itu ada di tempat kejadian. Asalkan Noctis menjawab dengan jujur, juga dia bukan seorang pembohong, maka Theresa akan mendapatkan jawaban terverifikasi.


“Aku sendiri sudah tidur dan tidak ingin mendapatkan informasi lainnya saat malam hari, jadi aku sendiri juga kurang tahu jika setiap malam Gadis Kecil itu akan dibacakan cerita. Namun ketika aku bekerja lembur, beberapa kali aku mendengar jika Gadis Kecil itu dibacakan sebuah cerita. Ceritanya juga sama seperti itu, belepotan dan tidak jelas pada alurnya. Aku tidak peduli dan melanjutkan pekerjaan lemburku,” penjelasan Noctis dengan tak acuh.


“Hmm… alegori kah?” Sophia memegang dagunya menggunakan tangan kiri dengan tangan kanannya mengangkat stik kayu. "Aku rasa aku tahu maksud alegori dari cerita Bibi Yovanca ini. Maksudnya, kurang lebih ini seperti hubungan antara plankton dan tumbuhan, bukan?"

__ADS_1


"Benar. Aku pernah dengar dari penjelasan Noctis. Dia bilang dalam penjelasan itu, jika fitoplankton di lautan menghasilkan sekitar 50% sampai 85% oksigen setiap tahunnya, sementara pohon dan tumbuhan lainnya hanya sekitar 20%. Tapi karena pohon ada di permukaan dan lebih mudah dilihat, dia lebih terkenal dari pada fitoplankton. Ketika kita ditanya penghasil oksigen, kebanyakan murid akan menjawab "tumbuhan". Sangat menyedihkan untuk menjadi fitoplankton, ya?" Yovanca memandang ke sekelilingnya dengan tangan kanannya mengangkat stik kayu.


__ADS_2