Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik

Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik
Suku Inicia


__ADS_3

Kai dan Dr. Francais memang kuat, tapi itu untuk ukuran manusia biasa. Dibandingkan dengan semua hal magis yang terjadi ini kekuatan mereka tidak ada apa-apanya. Alhasil mereka berdua ditangkap sulur-sulur dan dibuat pingsan menggunakan serbuk. Hutan ini seakan-akan hidup. Dia memiliki kesadarannya sendiri. Ketika mereka berdua bangun mereka sudah tidak ada di tengah hutan. Mereka dibawa oleh suku terpencil yang mendiami tempat ini.


Sangat terbelakang memang peradaban mereka. Ruangan ini luas dengan kayu lingkaran dengan pola spiral. Mereka berdua ada di tengah-tengah spiral. Di sekeliling mereka adalah orang-orang dari suku ini. Mereka mengerumuni keduanya hingga memenuhi ruangan.


"Jadi kita tertangkap, ya? Tak kusangka ini akan terjadi." Dr. Francais terkekeh mengetahui kondisinya.


"Siapa yang tadi bilang jika tempat ini aman?" gerutu Kai.


Mereka berdua tetap di tengah ruangan dengan dikelilingi oleh orang-orang dari penduduk setempat. Tak lama kemudian, seseorang maju dan berdiri tegap di hadapan mereka berdua. Keduanya mendongakkan kepala mereka untuk melihat wajah orang itu.


"Jadi ini ya orang yang berani membakar hutan? Kalian sudah melakukan sesuatu yang tabu!" ujar orang itu pada mereka.


"Ini salahmu, Nak. Bukan aku yang membakar hutan," bisik Dr. Francais.


Kai mengalihkan wajahnya. Dia lalu bertanya," Siapa kau? Dan kenapa kalian tinggal di sini?"


"Kami adalah Suku Inicia. Sejak zaman dahulu kala kami sudah meninggali tempat ini. Kalian yang mengancam tempat ini akan mendapatkan ganjaran yang sesuai."


'Ah, ini tidak akan mudah,' batin mereka berdua.


Mereka berdua dibawa dengan paksa oleh para prajurit Suku Inicia. Tangan mereka diikat. Tidak ada perlawanan yang bisa mereka lakukan. Masuk ke bawah tanah, melewati lorong-lorong berbatu, mereka dibawa ke aula bawah tanah. Tempat itu berbentuk lingkaran berukuran jauh lebih luas dari sebelumnya. Di sekeliling altar lingkaran tersebut terdapat selokan dalam, di mana di bawahnya adalah air tanah.


Mereka berdua dilemparkan begitu saja ke tengah-tengah altar. Bukan hanya mereka, Bromo Agni yang berada di dalam sangkar rotan juga dilemparkan ke tengah altar. Sangat aneh karena Bromo Agni tidak bisa membakar kayu rotan.


“Kik…?”


“Jadi kamu juga tertangkap, ya? Kita sama.” Kai tersenyum masam pada Bromo Agni.


“Kik! Kik! Kik! (Ini salahmu yang menyuruhku membakar hutan!)”


Satu orang berdiri di atas tiang batu tinggi. Dia adalah ketua suku. Sementara itu di luar parit dalam Suku Inicia lainnya memandang sinis merek. Si Ketua Suku berkata, “Kawan-kawan! Hari ini dua penyusup datang dan menghancurkan hutan! Mereka membakar hutan dan merusak tanah kita!”

__ADS_1


Sorakan mengikuti seusai ia menyelesaikan kalimat.


“Tentu kita pernah bertemu penyusup lainnya. Namun mereka hanya datang untuk mengamati. Sedangkan untuk mereka berdua ini, mereka dengan tak merasa malu membakar hutan menggunakan penthernya. Kali ini sudah keterlaluan! Ini tidak bisa dibiarkan!”


Sorakan kembali mengikuti.


“Karena itulah, saudara-saudaraku sekalian. Kita akan mengeksekusi mereka berdua. Demi Lucia Yang Mulia!”


“Demi Lucia Yang Mulia!” sorakan dari suku yang mengikuti.


Sementara itu Dr. Francais terkekeh. “Heh, tampaknya mereka memiliki semacam sesembahan di sini.”


“Memangnya kenapa?” tanya Kai.


“Kau tahu, apa kau tidak berpikir tempat ini aneh? Di tengah gurun terpencil terdapat hutan lebat. Ini aneh, bukan?”


“Aku mulai paham maksudmu. Ada seekor penther yang membuat semua ini mungkin. Namun kepintaran penther tidak begitu tinggi. Apapun itu, dia pasti bukan penther biasa.”


Bumi bergetar secara tiba-tiba. Gempa yang dirasakan keduanya membuat mereka kehilangan keseimbangan. Hal ini sampai membuat Kai terguling ke lantai. Di saat itu juga Bromo Agni merasakan aura menekan. Dia menciut ketakutan. “Kik….”


Tak berselang lama dari itu, penther-penther bermunculan. Bukan hanya satu atau dua. Jumlah mereka sangat banyak. Wujud mereka seperti ular, namun bukan ular biasa. Sisi mereka besar seakan terbuat dari besi. Warna tubuh mereka hitam mengkilap. Mata mereka menatap tajam ke mereka dan sekali-kali mereka menjentikkan lidah. Ular-ular itu keluar dari semua sisi altar batu.


Bromo Agni menjadi waspada. Dia mengobarkan api di seluruh tubuhnya untuk memanaskan area di sekelilingnya. Kandang memang tidak terbakar namun bukan berarti api tidak bisa keluar dari sana. Adapun sebuah bola api yang ditembakkan pada ular-ular itu, bola api tersebut meledak namun tidak berhasil membakar mereka.


“Ini adalah situasi yang berbahaya…,” ujar Dr. Francais.


“Ugh…!” Kai berusaha melepaskan ikatan di pergelangan tangan. Kedua tangannya diikat di belakang punggung. Tak peduli seberapa kuat Kai menarik tangannya, ikatan itu sama sekali tidak menjadi lebih longgar. Justru ia menyakiti tangannya.


Di saat genting ini, untung ada yang menolong mereka.


*Cetas!* *Cetas!*

__ADS_1


Tongkat kayu ditembakkan pada ular-ular tersebut. Tidak berhasil mengalahkan mereka, namun membuat mereka terpelanting.


*Tap!*


Kemudian disusul dengan seorang berjubah mendarat di dekat keduanya. Orang berjubah itu membawa busur X dan menembakkan ular-ular menggunakan panah kayu. Setiap anak panah yang ditembakkan membuat ular terpelanting.


“A-Apa-apaan itu? Bromo Agni saja tidak bisa mengalahkan mereka!” Kai terperangah.


Sang Sosok Berjubah melompat ke atas dan menembakkan panah kayu ke ikatan Kai dan Dr. Francais. Dia juga menembakkan satu yang menghancurkan kandang Bromo Agni. Langsung saja burung itu terbang ke arah Kai. Sosok berjubah mendekat ke mereka dan berkata, “Hei, penther-mu bisa terbang, ‘kan? Sebaiknya kau juga membawaku pergi dari sini.”


“Dari suaramu kau adalah seorang wanita. Apa yang dilakukan Nona ini di tempat seperti ini?” tanya Dr. Francais.


“Tentu,” jawab Kai mengabaikan pertanyaan Ayahnya.


Ukuran Bromo Agni menjadi besar. Dia membuat dinding api yang memisahkan antara mereka dengan ular-ular. Lalu dia membawa Kai dan Dr. Francais di cekernya. Untuk sosok berjubah itu, dia melompat dan naik ke atas tubuh Bromo Agni.


“Ke mana kita akan pergi?” tanya Kai.


“Aku akan menunjukkan jalan! Suruh penther-mu untuk mematuhiku!”


“Baik!”


Sosok itu menjadi penunjuk jalan. Bromo Agni—kendaraan mereka—hanya mengikuti. Entah ke mana gadis berjubah ini akan membawa mereka, yang pasti ini lebih baik dari pada harus menjadi makan malam para ular. Perjalanan mereka di atas langit, mereka sudah keluar dari kawasan Suku Inicia. Berjalan lurus segaris dengan Green Valley, akhirnya mereka sampai ke sebuah gua.


Ketiganya mendarat dan Bromo Agni mengecilkan ukuran tubuhnya. Gadis itu menanggalkan jubahnya hingga terlihat penampilannya. Penampilan dari gadis itu cukup membuat Dr. Francais memberikan respon, “Kamu lebih cantik dengan melepaskan jubah itu.”


“Ayah, jangan bicara sembarangan….”


Rambut panjang kuncir kuda berwarna pirang, mata kebiruan, dan kulit putih. Tubuhnya mungil untuk usianya. “Terserah kau ingin berbicara apa. Aku hanya akan membawa kalian ke tempat Tuan Lucia. Namaku adalah Emera. Ingat itu baik-baik.”


“Lucia? Bukankah itu yang dikatakan suku itu?” tanya Kai.

__ADS_1


__ADS_2