Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik

Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik
Green Valley


__ADS_3

Melintasi padang pasir yang luas, Kai dan Dr. Francais menunggangi Bromo Agni. Kai ada di depan sedangkan Ayahnya—Dr. Francais tepat di atas punggung. Hubungan mereka dalam tali kekeluargaan tidak bisa dibilang baik. Kai Kesal atas Dr. Francais yang lebih mementingkan tugasnya sebagai Doctor di Asosiasi Trainer dan jarang menemui keluarganya. Namun Kai diam tanpa sepatah katapun. Keberadaannya di sini juga merupakan misi.


"Padang pasir yang luas, ya!" Dr. Francais memulai pembicaraan.


Kai sama sekali tidak menghiraukan. Pandangannya menuju pada hamparan pasir luas. Dari timut ke barat, dia menyisir seluruh panorama. Satu hal yang menarik perhatiannya, ada angin berpasir jauh di depan. Masih sangat jauh dari lokasi Kai. Namun mereka akan berpapasan bila melanjutkan.


"Badai pasir," ucapan singkat Kai.


"Barat, Nak. Ada lembah di sana. Itu lebih baik dari pada terjebak di badai pasir," sahut Ayahnya.


Kai mendengarkan arahan itu. Dia langsung memberikan perintah pada Bromo Agni untuk mengubah haluan. Burung itu memekikkan suara kicauan keras sebelum ia berganti arah. Kecepatannya stabil di atas langit, tidak berubah dari sebelumnya. Memang, Bromo Agni mampu terbang dengan cepat. Ia seharusnya sampai ke tempat berteduh sebelum badai pasir menyapu mereka. Memang, dia adalah penther yang kuat. Hembusan angin yang berlawanan dari mereka seakan sama sekali tidak mempengaruhi pergerakannya.


Semakin lama mereka terbang, semakin terlihat jelas tempat berteduh. Tempat itu adalah sebuah lembah. Dua gunung batu besar ada di kanan dan kirinya. Tanah di sana tandus khas gurun pasir. Hanya ada tumbuhan yang melambai-lambai di sana. Tak ada satupun hewan yang bermukim di dekat lembah tersebut. rasanya tempat itu seperti memancarkan aura buruk. Bahkan Bromo Agni yang terbang di atas merasa tidak nyaman. Dia berkicau pelan beberapa kali.


"Apa kau yakin di sini aman?" Kai melirik Dr. Francais menggunakan sudut matanya.


"Tenang, tenang, aku jamin tempat ini aman." Dr. Francais menambah, "Yah, tidak sepenuhnya aman juga, sih. Menurut laporan dari Asosiasi, tempat ini hanya ditumbuhi tumbuhan kering. Kejadian aneh juga ditemukan dengan penther yang lebih memilih untuk menghindari tempat itu. Tapi untuk kita, manusia. Tenang saja. Orang dari Asosiasi sudah banyak yang keluar-masuk dari tempat itu."


Mereka mendarat di depan lembah yang menganga. Keduanya memandang ke atas pada puncak lembah yang sangat tinggi. Di depan mereka adalah lembah dalam dengan cahaya matahari tertahan untuk masuk ke dalamnya. Tempat ini sangat aneh. Daerah sekitarnya memang kering tapi di dalamnya tumbuhan tumbuh dengan lebat. Daun-daun mampu untuk menghalangi sinar Matahari dan membuat dasar lembah menjadi gelap.


"Apa kau yakin ini aman? Mencurigakan…." Kai memegang dagunya.

__ADS_1


"Green Valley. Tempat ini memang seperti itu. Meski area sekitarnya kering di dalam gunung berisi persediaan air tanah yang terpompa naik ke atas lembah menggunakan akar-akar pohon. Seperti pulau tropis di tengah padang pasir. Anggap ini seperti liburan." Dr. Francais masuk ke dalam lembah. Dirinya benar-benar menikmati tempat itu sampai-sampai mulutnya membentuk senyuman lebar.


Kai masih tidak yakin untuk masuk ke dalam sana. Dia menengok ke belakang, di mana badai pasir semakin mendekat. Bukan hanya Kai yang tidak ingin masuk. Bromo Agni yang bertengger di bahu Kai juga tidak ingin masuk. Ia memelas dan mengemis agar Kai tidak membawanya masuk melewati lembah. "Aku tahu…. Aku juga tidak ingin masuk ke dalam sana. Tapi di belakang kita adalah badai pasir. Malah akan menjadi sulit kalau kita tetap di sini."


Di dalam lembah seakan-akan mereka berada di dunia yang berbeda. Suasana gurun pasir kering berubah menjadi hutan hijau menyebar. Saking lebatnya tumbuhan di dalam sana membuat Dr. Francais mengeluarkan pisau dan memotong daun-daun di jalurnya. Kai dan Bromo Agni mengikuti di belakang. Kai masih merasa curiga akan tempat ini. Di dalam pikirannya ia masih menaruh spekulasi jika sesuatu terjadi di tempat ini. Tak mungkin ada tempat hijau di tengah padang pasir. Perhatiannya melayang ke setiap sudut yang bisa dijangkau olehnya. Dia mencari detail-detail sekecil apapun dan waspada bila ada serangan.


*Kresak!* *Kresak!*


Dedaunan tiba-tiba saling menggesek satu sama lain hingga menimbulkan suara. Kai dan Dr. Francais teralih perhatiannya pada daun-daun tersebut. Dr. Francais masih santai menghadapi ini, namun Kai sungguj waspada akan kemungkinan serangan dari penther liar.


"Kau bilang penther dan hewan lebih memilih untuk menghindari tempat ini. Lalu bisa kau jelaskan apa yang menimbulkan suara itu?" Mata Kai masih tertuju pada tempat dedauanan yang baru saja bergerak.


"Entahlah? Mungkin satu atau dua ada yang memilih tinggal di sini."


"Kik!" Burung itu beranjak dari bahu Kai. Ukurannya yang sebelumnya seperti burung hantu mengambang menjadi sangat besar.


Bromo Agni terbang sambil mengepakkan sayapnya. Bola-bola api tercipta di sekeliling tubuhnya, kemudian mereka melesat ke arah dedaunan lebat di depan. Seketika itu juga api menyala besar dan menghanguskan apapun yang disentuhnya. Tempat yang sebelumnya hijau perlahan-lahan menjadi abu.


“Wow, wow, wo, Boy…. Kau terlalu merusak alam. Jangan menghancurkan area tropis di tengah padang pasir,” ujar Dr. Francais.


Kai mana mau mendengarkan ucapan Ayahnya. Semakin diperintah, dia malah merasa semakin ingin mengacau. “Bromo Agni, terbang dan cari tahu siapa yang mengawasi kita!”

__ADS_1


“Kik!” Burung itu mengepakkan sayapnya cepat-cepat. Seluruh tubuhnya menyalakan api. Ketika dia menabrak dedaunan, dedaunan itu langsung berubah terbakar. Hal ini juga berlaku sama pada dahan dan akar-akar yang melayang menghubungkan kedua sisi lembah. Jalan berubah menjadi garis api.


“Bagus, kau menyebabkan kebakaran hutan.”


“Tidak selama Bromo Agni ada di sini,” timpal Kai sarkas, Dia bersedekap dan melanjutkan, “Penther itu lebih hebat dari pada yang kau bayangkan. Dia bisa mengendalikan api yang sudah ditembakkannya.”


“Terserah kau saja. Aku bisa melaporkan ke Asosiasi jika penther kuat membuat kita terpaksa membakar seluruh lembah. Mereka mungkin tidak akan percaya, sih,” sahut Dr, Francais.


“Ya….”


Mereka berdua berdiri tegap di tempat. Keduanya mengamati hutan yang perlahan-lahan terbakar. Alih-alih api merambat dan memperbesar area bakarannya, mereka malah padam. Kemudian area terbakar juga lebih kecil dibandingkan dengan yang seharusnya dan dengan yang mereka bayangkan.


“Kau tahu, ‘kan?” tanya Dr. Francais.


“Ya,” jawab Kai.


Insting mereka merasakan serangan datang dari punggung. Mereka melompat, kemudian melihat tusukan sulur menyerang tempat mereka.


“Sepertinya ini tidak akan mudah. Kau masih ingat cara bertarung, ‘kan, Kai!” Dr. Francais mengeluarkan belati. Dia bersiaga dengan benda itu di tangan kanannya.


“Kau pikir aku siapa?” Di sisi satunya, Kai menyiapkan kedua tinjunya dan bersiap memukul apapun itu.

__ADS_1


Mereka tidak sekuat penther, tapi mereka juga bukan amatiran. Mereka tentu akan mengeluarkan keterampilan bertarung jika situasi memaksa. Dan inilah salah satu situasi itu.


__ADS_2