Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik

Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik
Penther Harimau


__ADS_3

*Kresek!* *Kresek!*


Dan seperti biasa, Penulis novel pun membuat adegan klise di mana semak-semak bergerak dengan sebab yang masih tanda tanya. Cara ini merupakan sesuatu yang sangat umum seharusnya, namun masih tetap digunakan sehubung Penulis yang kurang inspirasi untuk membuat adegan klise lainnya.


“Apa itu?” Mate Elena seketika dia menengok ke arah semak-semak tersebut.


Aya sedikit membuka matanya dengan malas ketika ikut merasa waspada terhadap ini. Kai & Leon juga merasa penasaran dengan itu. Leon hanya menatap ke arah semak-semak tersebut dengan heran, sementara Kai merasa waspada dengan memegang pet house di dalam sakunya.


“A-Apakah kamu mau memastikannya, Elena?” kata Leon lirih.


“Ma-Mana mungkin, ‘kan? Aku tidak ke sini hanya untuk mati.” Elena mengangkat bahunya sambil menggelengkan kepalanya.


“Kalian berdua, jangan bercanda. Meskipun sudah pasti jika itu hanya hewan kecil, jika itu hewan berbisa yang memiliki skill racun, maka dia tetap menjadi ancaman yang berbahaya. Sebagai amatir, jangan pernah meremehkan kepada lawan kalian dan teruslah fokus pada mereka,” saran bijak Kai sambil menahan suaranya agar tetap pelan.


“(Nyan…, aku akan langsung lari jika itu merupakan penther kuat. Skill pertamaku yang saat ini bisa aku gunakan adalah “Ghost Walk” yang dapat menambah kecepatan. Sayang sekali aku hanya penther kelas rendah dan masih memiliki satu skill, ya.)”


‘Ugh, dasar…. Kupikir, kamu akan memiliki sikap setia kepadaku yang telah menolongmu. Tapi tidak aku sangka…, kamu akan langsung lari tanpa menungguku. Aku sudah menghabiskan semua sisa energi alamku untuk memulihkanmu, kau tahu? Aku sendiri juga bingung kenapa manusia tidak bisa menggunakan centher energy namun penther bisa menggunakan energi alam.’ Elena mengernyitkan bibirnya.


“Aku akan menggunakan Bromo Agni--penther milikku--untuk memastikan apa yang ada di sana. Kalin tunggulah di sini.” Kai melirik ke belakang pada Leon dan Elena.


*Throw!*


Sebelum mereka berdua memberikan tanggapan, Kai telah melemparkan pet house miliknya ke arah semak-semak tersebut yang membuat Elena berpikir, ‘Kenapa kamu menanyakan pendapat kami saat kamu mengambil tindakan tanpa mendengarkan pendapat kami?’

__ADS_1


Ini memang menjadi langkah yang paling aman untuk diambil. Di dunia itu, penther lebih kuat dari manusia dan mereka seringkali digunakan dalam duel atau pertarungan. Wajar saja jika mereka menggunakan penther untuk memastikan keamanan dari sesuatu yang asing. Meskipun cara ini mungkin dianggap tidak adil dan terlalu mempengaruhi hak-hak para penther, namun tidak ada yang menyuarakan pendapatnya dan memilih setuju bulat.


*Blaze!*


Api mulai berkobar dari dalam pet house tersebut, kemudian membentuk wujud burung elang jawa dengan bulu merah kobaran api. Ukuran tubuhnya jauh lebih mengecil dari sebelumnya. Ini tentu saja diakibatkan karena ruang gerak yang ada di sini terbatas.


‘Ukurannya jauh lebih kecil dari sebelumnya. Apa dia memiliki skill untuk menyesuaikan ukuran tubuhnya? Kalau tidak salah, Bromo Agni itu berasal dari penther jenis Ignis Nisaetus bartelsi. Adaa baiknya mengetahui nama dari suatu spesies meskipun kebanyakan orang di dunia akan memanggilnya dengan sebutan kucing, elang, anjing, serigala, dll.’


*Set!*


Bromo Agni menukik turun ke arah semak-semak dengan cakarnya yang bersiap mencengkram apapun yang ada di sana.


“Hati-hati! Jangan sampai membakarnya! Turunkan suhu badanmu, ya!” peringat Kai.


“(Tenang saja, Bos. Aku sudah tahu jika tujuan kita kemari adalah menangkap. Bukan menghabisi,)” pekik Bromo Agni.


*Tap!*


Cengkraman cakar Bromo Agni meleset dan hanya mengenai dedaunan dari semak-semak. Dia sempat memutar kepalanya pada anak harimau yang baru saja lari itu, namun sayangnya momentum yang terjadi ketika dia menukik membuat dia tidak dapat secepatnya mengejarnya. Ini sangat disayangkan, pasalnya targetnya sangat dekat dan ada di depan mata.


‘Dia lumayan cepat juga. Ukurannya yang kecil dikombinasikan kelincahannya ini membuat dirinya lebih mudah untuk melarikan diri dari kita. Aku tidak bisa mengejarnya tanpa memiliki energi alam yang mendukung kemampuan fisikku. Aku bisa saja menggunakan Teleportasi untuk langsung muncul di hadapannya, tapi tidak mungkin kugunakan di depan mereka berdua. Untuk Myokinesis, ranting-ranting pohon masih menghalangi gerakanku,’ batin Elena sambil memandang pada penther tersebut.


“Ah! Dia lari! Apa kita harus mengejarnya?” tanya Leon.

__ADS_1


Dirinya sendiri tidak cukup bodoh untuk melakukan persaingan kekuatan fisik dengan seekor penther. Lagi pula, medan di hadapan mereka bertiga saat ini tidak mendukung untuk melakukan pengejaran.


“(Serahkan saja padaku! Aku mungkin masih lemah setelah kondisi kritis kemarin, tapi aku pasti bisa menghadapinya jika hanya seekor anak harimau.)” Aya melompat turun dari atas kepala.


“Hmm…, apakah aku hanya bernilai sebagai pijakan sekarang?” gerutu kesal Elena dengan tangannya yang bersedekap.


*Tap!* *Tap!* *Tap!*


Aya berlarian dengan cepat, menggunakan batang, akar, dan ranting pepohonan sebagai pijakannya. Dia tidak hanya berlari dalam satu garis lurus, namun juga membuat gerakan zig-zag yang dapat membingungkan lawannya. Kecepatannya yang tinggi ini, memberikan dirinya keuntungan dalam kejar-mengejar seperti ini. Ini juga yang membuat dirinya cukup percaya diri.


Dalam kecepatannya saat ini, hanya terlihat bayangan kabur dari Aya jika menggunakan pandangan mata manusia normal.


‘(Kemampuan dari skill Ghost Walk adalah memaksimalkan atau menambah kecepatan dari penggunanya. Tubuhku terasa sangat ringan ketika memakai kemampuan ini, juga pandanganku menjadi lebih jelas. Sayang sekali ada kelemahan di mana aku hanya memiliki jumlah kapasitas maksimal centher energy yang terbatas. Aku perlu cepat-cepat naik level atau mendapatkan evolusi untuk menggunakan kemampuan ini lebih lama.)’


‘(Ya sudahlah. Aku juga sudah berhasil mengejarnya. Sebentar lagi, dia akan jatuh ke dalam cengkramanku. Sayang sekali aku tidak memiliki cakar yang bisa mencengkram seperti burung, tapi cakar milikku masih bisa digunakan untuk menyayat. Dia tidak akan marah jika buruannya memiliki beberapa luka sayatan, benar?)’


*Tap!*


Pada sebuah dahan pohon, Aya melompat pada anak harimau itu dari sisi kanan atas.


Dia telah menyiapkan cakarnya yang ada di tangan (kaki depan) kanannya dan bersiap memberikan kerusakan. Bukan maksud untuk melukai, hanya saja ingin melumpuhkan. Selama targetnya tidak mati, seharusnya ini bukan masalah besar bagi Aya. Tapi jika itu menjadi sekarat, tetap akan menjadi masalah baru karena tujuan mereka adalah mendapatkan partner penther. Juga, lokasi rumah sakit dari sini sangat jauh dan memerlukan beberapa puluh menit untuk sampai ke desa.


*Set!*

__ADS_1


Anak harimau tersebut berhenti dan bergerak mundur, membuat cakar Aya melesat.


“(Apa! Dia bisa menghindarinya dari jarak sedekat itu? Padahal, aku sudah yakin menggunakan kecepatan tinggiku untuk mengenainya. Apakah dia memiliki semacam kemampuan yang dapat meningkatkan fokusnya atau sejenisnya?)” Aya tercengang ketika dia mendarat sambil memperhatikan pada anak harimau itu.


__ADS_2