Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik

Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik
Kenalan Baru di Dunia Baru


__ADS_3

“Hah…, apakah hutan ini tidak akan ada akhirnya? Aku sudah sangat kelelahan terus-menerus menyusuri hutan ini.” Helaan napas dari Elena ketika dia melewati jalanan setapak di hutan.


‘Ini sudah beberapa jam sejak tadi aku masuk ke dalam hutan. Saat ini, aku sudah menemukan jalan setapak yang sepertinya membawaku untuk pergi keluar dari hutan ini. Selain itu, aku masih belum menemukan jejak peradaban selain jalan setapak ini, tapi setidaknya aku tahu jika eksistensi sering melewati jalanan ini sampai membentuk jalan setapak.’


‘Salah satu masalahku sekarang adalah.’ Elena mendongakkan kepalanya ke atas pada langit mendung kelabu. ‘Saat ini langit sudah mulai mendung dan gelap, energi alam dalam tubuhku tidak cukup banyak, dan aku tidak tahu jarak yang harus kutempuh. Dalam kemungkinan terburuk, aku mungkin harus berada di dalam hutan ini untuk semalaman.’


Elena menurunkan kepalanya dan melanjutkan, ‘Itu tidak akan menjadi masalah jika aku dalam kondisi normal --saat aku memiliki banyak energi alam--. Namun dengan hanya memiliki sedikit energi dan tidak bisa memulihkannya, aku rasa ini akan menjadi malam yang cukup mencekam bagiku di dalam hutan belantara. Aku lebih suka jika tidak harus mengambil opsi ini.’


‘Sebagai tambahan, kemungkinan besar di dunia ini akan ada makhluk berakal walau aku masih belum memastikan mereka manusia atau bukan. Bagaimana aku tahu? Itu karena hutan di sini terlihat terawat. Pohon-pohon semakin ke sini semakin kecil dan tidak terlalu tua, juga mereka seperti sudah tertata dalam sebuah barisan.’


‘Pohon yang tidak terlalu tua, menunjukkan jika di area sana ada orang yang sengaja memangkas pohon besar dan terlalu tua. Jika pohon tua di penghujung umur tidak dipangkas, pohon muda tidak akan mendapatkan cukup cahaya matahari untuk berfotosintesis sehingga mereka kurang subur, dan pohon tua itu akan mati dalam waktu dekat, membuat ekosistem hutan sedikit kacau.’


‘Oh, ada tambahan juga. Aku tidak menemukan hewan liar di sekitar sini. Dapat aku asumsikan, aa yang telah memburu mereka, sehingga tempat di sini lebih aman. Ini menjadi bukti tambahan jika ada makhluk pintar di dunia ini dan mereka sudah dapat membentuk peradaban. Aku harap, mereka tidak memiliki niat buruk apapun untuk pendatang baru sepertik--.’


*Bang!* *Bruk!*

__ADS_1


Ketika Elena sedang melamun memikirkan tentang berbagai hal mengenai dunia ini, tiba-tiba saja sebuah telapak kaki mendarat tepat di wajahnya. Elena yang tidak menyangka dan terkejut karena ini, dia pun tersungkur jatuh ke tanah dengan wajah yang terlihat kesakitan tanpa perlawanan atau antisipasi.


Bila saja ini berada di tengah pertarungan saat Elena memasang kewaspadaan dan fokusnya, maka ia akan dapat menghindari ini dengan mudah. Akan tetapi, berbeda dengan jika saat dia tidak fokus dan melamun.


“Hei! Tunggu sebentar! Kau akan menjadi milikku!” teriak seorang bocah yang melakukan hal kejam itu pada Elena sambil berlari pergi ke arah yang berlawanan dari Elena, seakan sedang mengejar sesuatu.


Elena perlahan-lahan berdiri dengan ekspresi wajahnya yang membentuk cemberut parah dan tatapan mata sinis. Kejadian ini sungguh sangat menyebalkan baginya, sampai-sampai dia berpikir akan mencabik-cabik orang yang melakukan ini padanya jika saja Elena memiliki cukup banyak energi alam.


“Grr! Kalau aku bertemu dengannya, aku pasti akan memberikan tonjokkan untuknya!” Elena menggeram sambil mengepalkan tinjunya dan urat-urat yang berdenyut di dahinya. “Aku, orang yang disangka sebagai salah satu orang terkuat di sana, siapa yang berani sekali menginjak wajahku ini! Aku tahu, kecantikanku rata-rata dan sesuai standar, tapi bukan berarti aku senang dengan perlakuan semacam ini!”


Tak berselang lama, angin kencang berhembus di sekitar Elena.


“Ugh, apakah ada makhluk yang cukup kuat di dunia ini?” Elena menyilangkan tangannya dan berusaha berdiri di terpaan angin yang dahsyat ini.


Di angkasa tepat di atas Elena, sebuah burung elang api dengan bulunya yang berwarna merah-jingga dengan api berkobar di seluruh tubuhnya dan mempunyai panjang sayap masing-masing 2 meter mulai turun. Elena telah memperhitungkan jika burung itu akan mendarat di depannya, sehingga dia sama sekali tidak perlu khawatir atas masalah ini. Dari pada itu, Elena lebih mempertanyakan tentang orang yang berdiri di atas burung.

__ADS_1


Orang itu terlihat sebagai Pria berumur 18 tahun, dia memakai jaket berwarna putih dengan bola api merah dan celana hitam dengan pola api merah, rambutnya berwarna merah terang, dan mata yang berwarna jingga, serta kulitnya berwarna coklat agak gelap.


‘Woah! Jarang-jarang authornya membuat karakter dengan warna kulit gelap. Apa cerita ini akan segera tamat setelah ini? Sungguh, sesuatu yang sangat keluar dari prediksiku,’ inilah yang dipikirkan Elena saat melihat sosok tersebut.


“Apa kamu tidak apa-apa? Sepertinya adikku sedikit melakukan sesuatu yang buruk ketika dia turun secara paksa saat berada di ketinggian. Aku sungguh sangat minta maaf dengan perilaku adikku yang sangat tidak sopan dan kurang ajar itu.” Pria itu menundukkan kepalanya, cukup menyakinkan sebagai seseorang yang menyesal.


‘Mana mungkin aku baik-baik saja! Sekarang, aku sangat ingin memasukkannya ke dalam kolam yang dipenuhi buaya dan piranha! Tenang, aku tidak sejahat itu sampai akan mengatakan hal ini padanya. Tapi jujur, aku memang ingin melakukan hal semacam ini padanya. Aku sangat marah saat ini,’ batin Elena.


“Tidak apa-apa, tidak apa-apa, itu tadi tidak terlalu menyakitkan dan dia tidak mengenai bagian vitalku, jadi sangat tidak apa-apa, hehe.” Elena tertawa kering untuk berusaha mencairkan suasana di sana sebelum melanjutkan, “Yang lebih penting lagi, bisakah kamu mulai dengan memperkenalkan dirimu? Akan sangat menyulitkan jika aku harus memanggilmu “Kamu” atau “Anda” saat kita berkomunikasi.”


“Tentu, baiklah jika kamu tidak keberatan.” Dia mengangkat kepalanya dan menghadapkannya pada Elena, dan mengatakan, “Aku adalah Pyro Kai, kamu bisa memanggilku dengan Kai saja karena itu lebih mudah. Aku merupakan seorang “Trainer” dan sedang mencari “Penther” bersama adikku di hutan ini. Dan Kamu?”


‘Wah, baru sampai di dunia ini aku sudah mendapatkan dua kata baru dengan definisi yang cukup panjang. Intinya, Penther adalah hewan yang dapat membuat fenomena magis menggunakan sesuatu yang disebut Centher --mirip dengan energi alam namun tidak dapat dipakai oleh manusia--, sedangkan Trainer sendiri adalah orang yang melatih Penther. Xenoglossy memang merupakan salah satu kemampuan pasif yang sangat nyaman saat berada di dunia lain. Dan lagi, aku tidak perlu khawatir dengan perbedaan bahasa ini.’


“Aku adalah Elena Madison, hanya seorang penjelajah normal. Beberapa saat yang lalu, aku masuk ke dalam hutan ini dan malah berakhir dengan tersesat, lalu menemukan jalan setapak dan mengikutinya. Ngomong-ngomong, kamu bisa memanggilku dengan sebutan Elena untuk memudahkannya. Aku sama sekali bukan gadis yang berbahaya, kok,” perkenalan singkat Elena yang terasa panjang.

__ADS_1


__ADS_2