
Elena dan kedua temannya —Theresa & Sophia— jalan-jalan untuk lebih mengenal gedung akademi ini. Tidak banyak yang mereka lakukan di waktu yang singkat ini ketika sebentar lagi kelas akan dimulai, selain hanya jalan-jalan memperhatikan lingkungan akademi.
"Hmm? Dia, 'kan…?" gumam Elena.
Ketika sedang berjalan-jalan, mereka berpapasan dengan seorang siswi yang merupakan kakak kelas mereka. Usianya sekitar usianya sekitar 2 tahun lebih tua dari mereka, yang rupanya dia berada di tahun ketiga sekolah ini. Gadis yang satu ini memiliki rambut berwarna merah membara seperti api yang diikat menggunakan gaya twinstail, mata yang sama membaranya dengan warna rambutnya, kulit yang tidak perlu dideskripsikan lagi karena sama dengan kebanyakan karakter di novel ini, dan mempunyai ekspresi wajah yang percaya diri. Penampilannya ini memberikan perasaan jika dia merupakan "senpai yang dapat diandalkan" dan "murid teladan".
Dia memakai gaun berwarna merah yang serasi dengan warna rambutnya, serta dengan tas kulit yang berisikan buku pelajaran yang akan digunakan untuk pelajaran hari ini.
"Oh, Glence, lama tidak bertemu, ya." Elena melambaikan tangannya pada gadis tersebut yang bernam Glence.
Glence membalikkan badannya pada mereka bertiga dan menunjukkan wajah percaya dirinya sebelum menyapa, "Elena kah? Selamat pagi!"
"Selamat pagi!" sapa Theresa sambil mengangkat tangannya.
"Pagi," jawab Sophia datar.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Glence-senpai?" tanya Theresa.
"Hmm? "Senpai"." Glence bertanya-tanya terhadap kata yang belum pernah didengarnya ini.
"Kata "senpai" yang dimaksud Theresa maksudnya menunjukkan jika kamu merupakan senior atau kakak kelas di tempat ini." Elena lalu melirik pada Theresa sambil mengatakan, "Aku sudah menyarankannya untuk tidak memakai kata-kata aneh yang asing di negara ini, tapi aku rasa itu tidak berpengaru untuknya."
__ADS_1
"Hehe, aku rasa kata itu terdengar bagus, jadi aku menggunakannya." Theresa menunjukkan wajahnya yang tersenyum tanpa rasa bersalah.
"Umu, aku paham!" Glence tidak marah dan memberikan anggukan paham. "Tapi, tolong jangan menggunakan bahasa sehari-hari di tempat ini, karena beberapa bangsawan mungkin tidak suka jika seseorang memperlakukan mereka seperti rakyat jelata. Sebaiknya, kamu mulai membiasakan dirimu dengan menggunakan kata baku dan formal ketika berbicara, mengerti?"
"Ya, Senpai! Aku tidak akan menggunakannya selain kepada orang yang akrab denganku. Lagi pula, keluarga Magnifix adalah keluarga pedagang, dan sudah menjadi kebiasaan keluargaku mengagumkan kata baku ketika bernegosiasi," jawab Theresa.
"Baik, kembali ke pertanyaan awal. Apa yang ku lakukan di sini?" tanya Sophia menggantikan Theresa.
"Aku?" Glence berbalik ke arah jendela dan melanjutkan, "Aku sedang memperhatikan salah satu siswi yang memiliki kontrak dengan Spirit King of Light. Mungkin, aku bisa membantunya ketika mengalami kesulitan di tempat ini."
Majalah dinding sedang sepi dengan Angelica yang membaca nama orang yang berhasil masuk ke akademi ini. Sepertinya dia sedang mencari nama seseorang, namun sayangnya tidak ketemu. Inilah pemandangan yang dilihat dari dalam jendela oleh Glence.
"Huh, hanya karena memiliki kontrak dengan Spirit King of Light, dia menjadi sorotan di negara ini. Apakah dunia ini menjadi tidak adil?" Sophia melipat tangannya dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Jangan begitu, Sophia. Mau bagaimanapun juga, Kontraktor Spirit King of Light sebelumnya merupakan salah satu orang yang menyelamatkan negara ini dari ancaman monster di masa lampau, jadi wajar saja jika dia —kontraktor Spirit King of Light saat ini— mendapatkan banyak sorotan dari pemerintah. Bahkan, aku tidak akan terkejut jika dia menjadi maskot negara ini, walaupun tidak cocok." Elena melingkarkan tangan kanannya ke bahu Sophia.
"Ta-Tapi, aku tidak bisa menerima begitu saja jika kamu yang memiliki kontrak dengan Spirit King of Darkness mendapatkan perlakukan buruk hanya karena kontraktor sebelumnya pernah hampir menghancurkan negara ini." Sophia menunjukkan wajah sedihnya pada Elena.
"Haha, aku senang kamu memikirkanku." Elena menaruh tangan kanannya ke atas kepala Sophia serta mengacak-acak rambutnya. "Tapi kamu tidak perlu terlalu sedih pada kondisiku, karena aku bisa pergi ke negara lain kapan saja atau menghancurkan negara ini dengan mudah melalui bantuan Noctis."
"Begitu ya." Sophia masih tertunduk sedih walau sedikit mendapatkan penghiburan dari Elena.
__ADS_1
"Yang lebih penting lagi, "Angelica"?" Elena melepaskan tangannya dari Sophia. "Aku tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya."
"Eh? Apa kamu benar-benar tidak tahu tentang dia Elena? Aku pernah membicarakannya denganmu sebelum ini, lho!" Theresa berbalik pada Elena dengan terkejut.
"Theresa temanku, aku memiliki daya ingat besar yang membuatku hampir bisa mengenang semua peristiwa hidupku. Tapi jika peristiwa itu tidak penting, aku akan melupakannya secara manual. Aku tidak mengingat tentang pembicaraan yang menyangkut topik "Angelica", karena itu mungkin sesuai yang tidak penting. Jadi jika kamu tidak keberatan, biasakan kamu menjelaskannya lagi?" minta Elena denhan senyuman kecil.
"Ehem, jadi biarkan aku menjelaskannya lagi kepadamu. Sederhananya, Angelica Rosemary merupakan satu-satunya anak perempuan yang berasal dari keluarga bangsawan miskin —Rosemary—. Dia menjadi terkenal karena membuat revolusi makanan berupa "Nasi Goreng" yang menjadi populer di kalangan rakyat jelata maup—," jelas Theresa yang terpotong.
"Aduh, hahahaha, ugh, perutku, perutku, haha…." Elena telah tertawa dengan sampai jatuh ke lantai sambil memegangi perutnya.
"Ada apa, Elena? Apa ini ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Glence heran saat dia tidak tahu apa yang membuat Elena tertawa terbahak-bahak seperti ini.
Elena menenangkan dirinya dan kembali berdiri sebelum mengatakan, "Nasi Goreng bukankah itu masakan sederhana dengan memasukkan nasi ke dalam minyak dengan beberapa tambahan bahan tertentu? Bukankah ini terlalu sederhana untuk melakukan revolusi di bidang industri?"
'Jujur saja, pengaturan dunia ini sangat aneh. Kerajaan Pulchrasia merupakan kerajaan yang ada di dalam garis khatulistiwa dan memiliki iklim tropis. Namun anehnya, di sini tanaman gandum lebih banyak dikembangbiakkan. Mungkin, yang membuat dunia ini merupakan orang tropis yang mencoba meniru-niru kebudayaan Eropa dan malah berakhir dengan pengaturan dunia yang aneh,' batin Elena.
"Uh, yah, sebagai bangsawan seharusnya kamu tahu sendiri, 'kan? Mayoritas bangsawan tidak suka sesuatu yang kacau seperti nasi, sedangkan harga minyak cukup mahal untuk ukuran rakyat jelata, sehingga dia yang pas-pasan di antara keduanya jadi bisa membuat nasi goreng dan menyebarluaskannya. Memangnya, apa saja yang kamu lakukan selama 10 tahun hidupmu sampai-sampai tidak tahu dengan tokoh terkenal seperti dia?" tanya Glence dengan tatapan intensif.
"Tidak banyak. Aku menghabiskan sebagian besar hidupku di dalam hutan dan fokus berlatih selama 10 tahun itu, jadi wajar saja jika aku tidak tahu kabar terkenal dari dunia luar, 'kan?" jawab Elena tanpa memiliki rasa bersalah atau aneh dalam dirinya.
"Barbarian," ucap mereka bertiga secara serentak.
__ADS_1