
"Hmm… hebat juga, kau, ya, karena bisa memasukan hubungan antara fitoplankton dan tumbuhan." Noctis memuji dengan tenang. "Kurang lebih, fitoplankton memang kasihan karena kerja kerasnya menghasilkan oksigen untuk dunia kurang diakui dan kurang dipandang oleh masyarakat luas. Orang-orang lebih mengetahui dan mempedulikan apa yang mereka lihat di depan mata mereka. Sesuatu di balik mereka, sesuatu yang tidak mereka ketahui diabaikan begitu saja."
Sebenarnya fitoplankton dan tumbuhan tidak bekerja keras untuk menghasilkan oksigen. Tujuan mereka adalah untuk mendapatkan energi sedangkan oksigen adalah hasil sampingan dari proses mereka. Ini sama saja seperti manusia yang menghirup oksigen dan mengubahnya menjadi karbondioksida. Jika bisa, bukankah lebih enak jika hasil pernapasan juga oksigen sehingga bisa digunakan berulang kali?
Fitoplankton mendapatkan energi melalui proses fotosintesis dengan menyerap karbondioksida di atmosfer dan mengubahnya menjadi oksigen. Karena itu, fitoplankton harus berada di permukaan lautan atau kumpulan air supaya mendapatkan cahaya matahari. Alasan fitoplankton bisa menghasilkan oksigen banyak karena luas lautan. Wajar saja jika mereka bisa menghasilkan oksigen lebih banyak dari pada tumbuhan.
Theresa memperhatikan pada Noctis sebelum dia melihat pada kedua sosis panggangnya dan menyadari bila salah satu sisi mulai gosong. Satu sosis berada di tangan kanannya, sementara sosis satunya ditancapkan ke tanah dan dibiarkan terpanggang sendiri. Untung saja stik kayu yang dibawa Noctis cukup panjang untuk melakukan itu.
"Oh, sepertinya sudah saatnya untuk memutarnya." Theresa memutar-mutar sosis di tangan kanannya, kemudian dia mengambil sosis yang tertancap di tanah dan melakukan hal yang sama padanya seperti yang dilakukan pada sosis di tangan kanannya. "Ini pertama kalinya aku memasak sendiri benda ini. Jika hanya memasak makanan sederhana seperti telur, aku sudah terbiasa. Tetapi untuk sosis bakar ini, ini pertama kalinya, jadi aku tidak terlalu ahli melakukannya."
"Tenang saja, Gadis Pink. Tidak ada yang merasa dirugikan jika sosis yang kamu panggang itu sampai gosong. Kamu akan memakan sosis itu sendiri. Jika sampai menjadi tidak enak, maka kamu sendiri yang akan menanggungnya." Sama seperti Theresa, dia memutar sosis di depannya. "Jika kamu ingin matang yang lebih merata, aku beritahu kau untuk terus memutarnya. Terlalu lama berhenti akan membuat kematangan fokus pada satu sisi dan membuat gosong."
"Memutarnya terus untuk membuatnya matang merata…. Terima kasih atas saran membantumu, Noctis-sensei." Sophia tetap datar ketika dia memutar terus sosis bakarnya.
Ada alasan mengapa mereka adalah pemula dalam hal ini. Mereka berada di dunia dengan era terbelakang dari dunia maju, sementara Noctis membeli itu dari dunia modern. Tentu saja mereka tidak pernah memakan sosis bakar seperti itu sebelumnya. Namun setidak-tidaknya, mereka pernah memakan sesuatu seperti daging buruan, ikan, dan rumah.
__ADS_1
Tidak banyak yang mereka lakukan setelah itu. Sesuai kisah singkat dari Yovanca, mereka semua melanjutkan untuk memanggang sosis bakar mereka masing-masing, menjaganya agar tidak gosong hanya di satu sisi. Mereka yang memasaknya dan mereka sendiri yang memakannya. Tidak ada orang lain yang akan dirugikan bila itu gosong, tetapi mereka sendiri yang akan makan sosis gosong itu.
Serigala kecil itu terbangun oleh bau sedap sosis. Theresa yang menyadarinya berkata pada serigala kecil, "Apa kamu juga mau? Aku sengaja membakar dua dari mereka. Salah satunya adalah untukmu. Berusahalah untuk bangun, Ōkami-san!" Kemudian Theresa lebih mendekatkan sosis yang berada di tangan kirinya pada serigala kecil.
Serigala itu sedikit kesulitan menggerakkan tubuh lemahnya. Namun setidaknya, kondisi tertidur selama seharian membuat tubuhnya menjadi memiliki sedikit tenaga yang kembali, membuatnya memiliki beberapa energi untuk melakukan aksi. Masih sangat menyedihkan ketika dia berada dalam kondisi terpuruk seperti ini. Dia juga terlihat imut bersama bulu-bulunya yang membuat mereka semua bersimpati pada serigala kecil.
Perlahan, dia berusaha berdiri dan lebih mendekat pada tangan kiri Theresa, di mana salah satu sosis bakar ada di sana. Penglihatan dari mata sipitnya membuat dirinya tidak terlalu jelas melihat pada benda di depannya, tetapi hidungnya dapat mencium bau sedap dan dia hanya perlu menuju ke arah dari bau yang diciumnya ini.
Bau sedap dari sosis bakar sudah cukup menggugah selera manusia selama yang memasaknya berhati-hati dan menggunakan bumbu minimalis berupa margarin. Serigala yang notabene memiliki penciuman tajam tentu saja akan dapat mengetahui di mana lokasi dari sosis ini. Belum lagi, lokasi dari sosis tersebut tidak terlalu jauh, hanya beberapa sentimeter dari tempatnya kehilangan kesadaran sebelumnya.
Dengan tubuhnya yang masih lemas, serigala kecil itu hanya menggigit kecil sebagian dari daging sosis. Tidak terlalu banyak pada awalnya, namun setelah beberapa gigitan, dia mulai menggigit lebih besar dan menghabiskan satu batang sosis dalam waktu singkat.
'Menyedihkan sekali…. Sosis itu memerlukan waktu sekitar sepuluh menit untuk memanggangnya, tetapi habis setelah beberapa gigitan yang durasi waktunya kurang dari dua menit.' Setelah melihat pada serigala kecil, Sophia kembali pada sosis di tangan kanannya. 'Sepertinya aku sendiri juga akan melakukan sesuatu yang sama dengan itu. Waktu memasak lebih lama dari waktu memakan. Menjadi mandiri dan memulai semuanya dari nol adalah pekerjaan sulit….'
'Jangan begitu, Sophia-chan. Ada perbedaan antara memakan masakan sendiri dan memakan masakan orang lain. Apakah kamu tidak merasa puas dengan cita rasa yang telah kamu buat sendiri? Rasanya lebih seru dan mendebarkan ketika kamu memakannya sendiri, bukan?' balas Theresa melalui pikirannya.
__ADS_1
'Huh, baiklah. Setidaknya kali ini kamu menghubungiku melewati hubungan mental di antara kita.' Sophia memutar matanya ke arah lain. 'Aku tidak ingin kamu membocorkan isi pikiranku sesuka hatimu. Kamu sendiri pasti akan merasa tidak nyaman bila orang lain mengetahui tentang pikiranmu, bukan?'
'Hehe.' Theresa hanya tertawa kecil dalam pikirannya yang ikut tersalurkan pada Sophia.
Melihat serigala kecil menghabiskan sosis dalam satu stik kayu, Theresa menawarkan sosis miliknya. "Apakah kamu masih mau lagi? Kamu pasti sangat kelaparan sampai-sampai tertidur seharian." Dia mengarahkan sosis di tangan kanannya pada serigala kecil itu sambil tersenyum.
Sosis yang satu ini akan dikonsumsi Theresa sendiri sebenarnya. Namun setelah melihat serigala kecil sangat menikmati itu dan juga terlihat masih lapar, Theresa merasa tidak tega dalam hatinya membiarkan serigala kecil itu.
Serigala Kecil itu sedikit mengangguk dan mulai memakan dengan lahap sosis satunya. Rasa laparnya hari ini membuatnya menjadi makhluk rakus dan memakan jatah makan orang lain dari padahal dia tidak bekerja. Bagaimanapun dia tetaplah hewan dan hanya bergerak sesuai instingnya.
Melihat itu, Noctis berkata, "Hah, kamu adalah gadis yang terlalu naif. Untuk ukuran hewan seperti itu kamu tidak perlu memberikan sosis bakarmu. Cukup berikan saja yang masih mentah dengan sedikit dihangatkan. Apa kamu tidak merasa telah melakukan kesia-siaan?"
"Hmm… bagaimana, ya." Theresa mendongak ke atas. "Aku hanya merasa ingin memberikan yang lebih baik pada orang lain. Barangsiapa melakukan kebaikan meski terhadap hewan, bukankah itu artinya seseorang tersebut telah menunjukkan kasih sayangnya? Juga karena hewan tidak selalu bisa membalas budi, maka ini menjadi wujud keikhlasan." Dia mengarahkan senyuman cerahnya pada Noctis.
"Hmph! Kamu tetap saja terlalu baik, Gadis Pink!" Noctis menyodorkan sosis bakarnya pada Theresa. "Ini! Kamu bisa memiliki milikku. Lagi pula, spirit tidak memerlukan makanan selama mendapatkan energi alam."
__ADS_1