Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik

Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik
Misi Penyerangan Bajak Laut


__ADS_3

Ringkas cerita, akhirnya serangan mendadak Cztery berhasil dihalau oleh mereka. Meski menyebabkan kekacauan namun emas yang ditinggalkan oleh si penyerang cukup banyak untuk kompensasi. Selanjutnya Yovanca dkk. melaporkan semua kejadian pada raja dari Kerajaan Freies, Hiiro.


Raja Hiiro adalah seorang pria tinggi tegap dengan tubuh berotot. Kulitnya agak kecoklatan dikarenakan iklim panas. Ia memiliki rambut lebat berwarna biru bak lautan. Pupil matanya juga kebiruan, namun dengan warna yang lebih gelap. Alih-alih kemewahan dia lebih suka kesederhanaan yang fungsional. Bahkan jika bukan untuk menyambut tamu istana di kerajaan ini tidak akan didirikan. Dan saat ini pria itu duduk di ruang tahta di hadapan Yovanca dkk..


"Yovanca Madison sebagai perwakilan Kerajaan Pulchrasia datang menghadap Anda, Yang Mulia Hiiro." Yovanca menundukkan kepalanya diikuti Theresa, Sophia, dan Alex.


Noctis tidak bersama mereka. Ide buruk untuk membawa orang yang tidak mau tunduk. Antara terjadi perseturuan atau kesan tidak menghormati akan memberikan akhiran buruk.


"Cukup. Kalian tidak perlu terlalu menundukkan kepala di hadapanku." Hiiro mengayunkan tangan pada mereka berempat.


Keempatnya pun mengikuti aba-aba. Theresa memperhatikan raja di hadapannya dan dalam hati berkata, 'Wajahnya tidak seperti orang sini.'


'Aku dengar dari Yovanca. Katanya Hiiro ini sebenarnya berasal dari benua seberang. Dia terdampar ke benua ini dan menjadi raja. Pernah juga ia menyebarkan pengetahuannya. Tapi malah membuat kebudayaan yang aneh karena masyarakat lokal tidak terlalu paham,' jawab Sophia melalui hubungan telepati.


"Jadi langsung saja kuberi tahu inti masalahnya. Beberapa waktu yang lalu kami menerima jikalau Pulau Indigo, sebagai tempat pengeringan ikan, tiba-tiba menjadi dihalangi bayang-bayang. Cahaya mentari tidak bisa bercahaya di sana meski langit sedang cerah. Komuditas dagang kami yang berupa ikan kering terganggu. Memang tidak akan berdampak pada pangan, tapi kami akan kesulitan untuk melakukan impor."


"Apakah tidak ada usaha penyelidikan?"


"Bukannya tidak ada, tetapi nihil dan sekarang semakin parah. Sebelumnya kami bisa mengirimkannya tim penyelidik ke dalam pulau meski mereka tidak menemukan apa-apa. Sekarang, setelah para perompak berdatangan, penyelidik semakin sulit dilakukan."


"Dengan kata lain, masalahnya adalah 'cahaya yang menghilang' dan 'perompak'? Baiklah, saya bersama rekan-rekan akan segera terjun untuk menyelidiki."


'Kasus ini dan kemunculan perompak terasa ada hubungannya. Apakah elit global sudah mulai bertindak?' tanya Theresa dalam batin.


'Si Red Moon itu memang tukang buat perkara. Gak usah tanya kalau berhubungan dengan mereka,' jawab Sophia.


Mereka melakukan persiapan. Sebenarnya tidak juga karena mereka hanya membawa apa yang mereka bawa saat ini. Selain itu mereka juga meminta sesuatu yang bisa membawa mereka ke pulau seberang. Benda yang mereka minta adalah sebuah sampan kecil. Biasanya sampan seukuran itu digunakan untuk menangkap ikan.

__ADS_1


"A-Apakah kita benar-benar akan menggunakannya?" suara Theresa bergetar. Dia memasang ekspresi aneh.


"Tentu kita akan menggunakan itu. Apakah ada yang tidak setuju?" Noctis melirik Theresa menggunakan sudut matanya.


"Ti-Tidak." Theresa berkeringat dingin. "Tapi lawan kita perompak, lho! Bagaimana cara kita memang hanya menggunakan sampan kecil?"


"Selama ada kekuatan absolut, semuanya akan tunduk!" Noctis memberikan penegasan. Dia menyilangkan tangan. Sudah tidak mendengarkan pendapat orang lain lagi jika sikapnya sudah begini.


Dengan begitu Yovanca, Theresa, Sophia, Alex, dan Noctis memulai perjalanan. Mereka saling berdesakan di dalam sampan. Belum lagi mereka harus menjaga keseimbangan. Lagi juga tidak ada yang bisa menggunakan elemen ait di antara mereka. Kapal kecil dan tidak ada pengguna elemen air. Bagaimana mangsa empuk di tengah gurun. Alex hanya bisa menggelengkan kepala. Tapi di sisi lain ia juga yakin pada pilihan Noctis.


"Hah… hah… hah… sampai kapan aku harus mendayung!" bentak Theresa.


"Sabar. Seseorang berkata ini adalah cara agar kita berguna," timpal Sophia.


"Heh? Apakah kalian tidak terima dengan keputusanku?" Noctis menyeringai.


"Ti-Tidak! Mana mungkin aku menolak perkataan Noctis-sensei!" Theresa berteriak, menegaskan argumennya.


"Huhuhu, apa-apakah aku tidak akan pernah pulang lagi? Berubah menjadi darah kalau tubuhku tersebar di laut aku tidak bisa memperbaiki tubuhku. Kenapa elemen darah selemah ini…." Ia pun mulai berderai air mata.


"Maaf-maaf nih ya kalau kemampuanku memiliki banyak kekelaman. Tapi jangan mengatakannya langsung di depan orangnya… mau kujadikan umpan hiu?" Sophia merasa tercemooh.


"Jangan lembek seperti stroberi, Gadis Pink. Lalu bergembiralah!" Noctis menatap jauh ke horizon. "Kau sudah tidak perlu lagi mendayung sampan penangkap ikan ini."


"Eh? Benarkah?" Theresa dibangunkan oleh kata-kata Noctis. Dia keheranan dengan penuh tanda tanya. Ia menunggu kalimat berikutnya dari Noctis.


"Seperti yang bisa kau lihat, di sana ada kapal besar. Dilihat dari bentuk dan ukurannya itu seharusnya kapal bajak laut. Kau sudah tahu maknanya, 'kan?"

__ADS_1


"Tu-Tunggu, ja-jangan bilang kita akan melawan mereka." Theresa kembali tergagap.


"Tidak, tidak. Kita tidak akan melawan mereka." Noctis menggelengkan kepalanya.


"Fiuh… kupikir kita akan melakukan hal gila seperti melawan musuh yang jumlahnya sangat banyak. Kalau bertarung aku yakin Noctis-sensei pasti bisa menang, sih." Theresa menghembuskan napas lega. Dia memegangi dadanya di atas paru-paru.


"Kita memang tidak akan melawannya. Tapi kau lah yang akan melawan mereka."


"E-Eh? Apa!"


Tidak sempat Theresa bertindak, bayangan hitam di sekitar tubuhnya naik hingga membentuk tangan. Tangan bayangan itu kemudian melilit tubuh Theresa. Selanjutnya Noctis melemparkan Theresa menuju ke kapal bajak laut di sana.


"Huwa…!!!" Theresa berteriak selama di udara. Air matanya tertiup angin ketika menetes. Tubuhnya benar-benar menjadi lemas karena rasa takut.


"Ingat untuk tidak membunuh kapten mereka!"


Yang paling menakutkan adalah ketika ia jatuh ke laut dan dimakan ikan. Membentuk tubuh yang sudah menjadi darah tidak bisa ketika berada di dalam air. Daya tekam air jauh berbeda dengan udara.


"Kamu sama sekali tidak punya ampun," komentar Sophia.


"Heh, lawannya hanya bajak laut biasa. Kau pikir dia akan mati?" Noctis mendengus.


*Sprat!*


Tubuh Theresa langsung berdarah-darah ketika menabrak tiang kapal. Seakan-akan menjadi kembang api yang meledak dengan darah sebagai pewarnanya. Selanjutnya tubuhnya jatuh ke dek kapal dengan darah mengucur dari tubuhnya. Semua awak kapal menatapnya dengan keheranan. Siapa yang membuang mayat ke kapal mereka? Apakah ada yang mau menakut-nakuti mereka? Itu yang mereka pikirkan pada awalnya. Pikiran-pikiran itu berubah saat mereka melihat Theresa terbangun dari kubangan darah.


"Ugh… itu sangat sakit." Theresa mengusap pelipisnya yang mengucurkan darah. "Maaf, ya, kalian semua. Tapi aku disuruh membunuh kalian kecuali kapten."

__ADS_1


*Blup!* *Blup!*


Semua darah Theresa yang ada di sana-sini bergerak menjadi senjata gadis itu.


__ADS_2