Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik

Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik
Masih Bertarung...


__ADS_3

*Whirl!* *Bam!*


Dwa membuka portal ke belakang punggung Elena sebelum akhirnya dia memukul dengan keras menggunakan sayap besar di punggungnya itu.


*Sis!* *Bugh!*


Elena melesat ke bawah sebagai akibat dari serangan tersebut, serta menabrak tanah sebelum itu menghentikannya.


Elena perlahan-lahan bangkit dengan debu-debu yang menyelimutinya, lalu mengatakan, “Adududuh, itu tadi cukup menyakitkan. Aku tidak menyangka dia akan membuat gerakan secara tiba-tiba seperti itu saat mengontrol banyaknya bulu-bulu tersebut. Terlebih lagi, aku tidak sempat memakai Osteokinesis dan Myokinesis untuk memperkuat tubuhku sebelumnya.”


‘Sayang sekali, ya. Aku membuyarkan fokus milikku terhadap semua bulu-bulu yang aku kendalikan. Sekarang, itu semua menjadi hilang tanpa berhasil memberikan kerusakan padanya. Setidaknya, aku telah berhasil memukulnya dengan keras menggunakan sayapku,’ batin Dwa.


“Apa kau ingin menyerah saja. Elena? Sudah sangat lama sejak pertarungan ini dimulai. Aku yakin pembaca merasa lelah menunggu plot cerita segera maju tapi masih tersumbat pada adegan pertarungan ini. Kau tahu sendiri, bukan? Penyerangan dimulai BAB 16 dan sampai sekarang yang merupakan BAB 29 ini masih belum juga selesai. Apa kamu ingin memenuhi novel ini hanya dengan adegan pertempuran ini saja?” tanya Dwa dengan malas di atas langit.


“Hah? Menyerah? Itu hanya alasanmu saja!” Elena membuat gerakan menebas menggunakan tangan kanannya. “Bilang saja kalau sebenarnya kamu ini sudah lelah dan berada dalam kondisi terdesak. Pertarungan ini bahkan masih belum berjalan selama 10 menit. Apa kamu lelah hanya karena ini?”


“Gadis yang sangat merepotkan, ya. Aku ingin tahu bagaimana Noctis mengurusmu dan masih tetap sabar berada di sisimu.” Dwa pun terkekeh setelah mengatakannya.


“Apa kamu ingin menyindirku? Maaf saja, tapi aku tidak akan terpengaruh oleh provokasi kecil seperti itu. Selain itu, aku ini sebenarnya adalah gadis yang sangat pendiam dan penurut ketika bersama Pria bernama Noctis itu. Tidak aneh sama sekali jika dia masih bisa bersabar menghadapiku, karena sejak awal aku ini adalah gadis yang baik sampai kamu mengganggu waktu tenangku!” Elena meninggikan suaranya, menjawab dengan tidak terima.

__ADS_1


“Apa temanmu memerlukan dua tangan untuk menghitungnya?” tanya Dwa.


Yang dimaksud dengan “memerlukan dua tangan untuk menghitungnya” adalah jumlah yang lebih dari lima. Jika kurang dari itu dan dapat dihitung menggunakan satu tangan, artinya Elena tidak pandai dalam bersosialisasi bersama individu di sekitarnya, lalu ini akan menjadi penyangkalan untuk argumen Elena sebelumnya yang menyatakan dirinya merupakan gadis baik sebab tidak memiliki banyak teman dekat.


“....” Elena terdiam tidak menjawab sambil mengeluarkan aura gelap. Dia juga menatap tajam pada Dwa, merasa tidak terima dan kali ini cukup terprovokasi atas kata-kata tersebut.


“Maaf lain kali aku tidak akan mengungkit tentang itu. Sebenarnya, aku juga hanya memiliki sedikit teman. Tidak kusangka kamu memiliki nasib yang kurang lebih serupa denganku,” kata Dwa dengan canggung.


“Huh, terserah kau mengatakannya seperti apa. Yang lebih penting dari pada itu, akhirnya aku telah selesai mengumpulkan cukup banyak energi untuk membuat sebuah serangan yang lebih kuat.” Elena menunjukkan senyumannya dan mengarahkannya ke atas pada Dwa.


“Tunjukkan padaku! Biar aku sendiri yang melihat, seberapa kuat serangan yang kau banggakan itu. Organisasi kami memang tidak dapat mengukur kekuatanmu secara tepat, tapi kami memperkirakan jika kamu memiliki kekuatan yang dapat menghancurkan sebuah kota walau itu akan memakan waktu yang cukup lama.” Dwa mengepalkan kedua tangannya erat-erat, menunggu dan mewaspadai serangan yang akan datang.


Kemudian, sebuah bangun datar berbentuk segi enam muncul di tanah di bawah kaki Elena dan berputar. Ukuran segi enam kali ini sangat luas, luasnya mampu menutupi seluruh tanah akademi sekitar mereka. Selain itu, alih-alih memiliki warna biru pucat seperti sebelumnya, segi enam raksasa tersebut memiliki warna amber (Warna amber adalah warna kroma murni, terletak pada roda warna di tengah-tengah antara warna kuning dan oranye).


*Wung!*


Segi enam tersebut pecah menjadi puluhan bngun segi enam yang lebih kecil, lalu tersusun ulang di tangan kanannya membentuk sebuah pedang.


Masih sama seperti segi enam sebelumnya, pedang tersebut memancarkan warna amber dengan pola segi enam lebih kecil di sepanjang bilahnya. Desain dari pedang tersebut sangat sederhana. Selain mata pedang yang memiliki pola segi enam dan memancarkan warna amber, dia memiliki pegangan berbentuk tabung yang mudah dipegang oleh Elena. Ini juga sama saja dengan pedang energi biru sebelumnya, hanya saja memiliki warna amber.

__ADS_1


“Apa kamu pikir semburan api yang aku lakukan tadi hanya serangan acak? Sayangnya tidak, aku memang sengaja menembakkan api ke tanah dan mengisi bidang energi tersembunyi menggunakan energi panas. Aku tidak memiliki nama yang benar-benar spesifik atau cocok untuk senjata ini, jadi panggil saja Pedang Energi Thermal.” Elena mengarahkan ujung lancip pedangnya pada Dwa.


‘Kemampuan Teleportasiku hanya memindahkan benda, ini tidak dapat memindahkan energi. Pertama kali dalam pertarungan ini saat aku berteleportasi ke belakangnya [lihat BAB 26], aku menyembunyikan bidang energi yang sebelumnya ada di kakiku ke dalam tanah. Ini membuatku tidak terlalu fokus untuk menghindari serangan bulu-bulunya sehingga dia berhasil menyelinap ke belakangku dan memberikan pukulan telak.’


‘Menurutku pengorbanan selama beberapa waktu itu cukup setara untuk membuat pedang ini. Energi panas yang dihasilkan oleh pedang ini dapat membuat tanah mencair menjadi magma. Jika aku memegang pedang ini tanpa menggunakan Thermokinesis, aku tidak akan bisa mengendalikannya dan malah akan terbakar olehnya, membuatnya menjadi salah satu alasan mengapa aku tidak suka memakai teknik ini.’


“Sebuah pedang variasi baru kah? Tapi hanya dengan menggunakan satu senjata tambahan yang sedikit lebih kuat, jangan berpikir kamu bisa mengalahkanku begitu saja!” ucap lantang Dwa, walau dalam benaknya dia mengatakan, ‘Satu tebasan dari pedang itu, lalu aku akan meleleh. Memang, salah satu sifat bayangan di sini adalah mampu menyerap suhu. Tapi jika sampai sepanas itu, maka beda lagi ceritanya.’


“Heh! Katakan itu setelah kamu berhasil mengalahkanku!” Elena menggenggam gagang pedang menggunakan tanganya, lalu mengangkat pedang setinggi pelipisnya di sebelah kanan dengan ujung yang diarahkan ke depan. Tubuhnya juga sedikit membungkuk lebih rendah dari biasanya.


“Kalau begitu, akan aku tunjukkan kepadamu salah satu senjata andalanku!” kata Dwa dengan percaya diri.


*Whirl!* *Zlab!*


Dwa membuka portal kecil seukuran pergelangan tangannya, memasukkan tangan kanannya untuk mengambil sesuatu, kemudian menutup kembali portal tersebut setelah benda yang dicari diambilnya.


Item yang diambil Dwa adalah sebuah pedang. Pedang tersebut memiliki tubuh yang sepenuhnya terbuat dari emas dengan tambahan beberapa berlian berwarna-warni dalam taraf warna gelap di gagangnya. Di lain itu, pedang tersebut memiliki kabut berwarna merah lembayung yang menyelimutinya.


“Nama dari pedang ini adalah Exe-Caliburn. Aku cuma tahu kalau pedang ini kuat. Tentunya, aku tidak bodoh sampai-sampai membocorkan informasi mengenai kekuatanku ke pada lawan.” Dwa mengangkat pedang tersebut menggunakan tangan kanan dan mengarahkan ujung lancipnya pada Elena di bawahnya.

__ADS_1


‘Dekorasi berlian di gagang pedang menyulitkanku untuk memakainya, karena itu pedang ini jarang aku gunakan,’ batin Dwa.


__ADS_2