Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik

Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik
Kelas dengan 6 Murid


__ADS_3

Di akademi, kelas yang dipegang Noctis sedang dalam jam pelajaran olahraga. Semua murid yang berjumlah 6 orang menuju ke lapangan yang sepi. Bukan hanya karena Noctis memiliki elemen kegelapan yang cukup ditakuti, namun kelas olahraga Noctis cukup menyeramkan dan menghancurkan sekitarnya.


"Baiklah, semuanya. Karena Sensei sedang malas hari ini, kalian latihan sendiri saja," ucap Noctis malas.


"Eh? Ada sugesti apa ini, Sensei? Biasanya Sensei melatih kita secara barbar dan hampir menjadi bunuh-bunuhan, tapi kenapa kali ini Sensei memberikan jam kosong?" Theresa merasa terkejut, lalu dia menjadi tenang dalam waktu singkat.


"Sebenarnya aku kurang enak niat, jadi aku mau makan beberapa burger. Yah, walau di kerajaan ini makanan itu tidak dijual, aku bisa membuat makanan itu."


"Tidak apa-apa, Sensei. Lagian mendapatkan satu atau dua jam kosong tidak buruk selama presensi kami tidak kosong." Angelica tertawa riang dengan matanya yang tampak berbinar setelah selesai.


"Baiklah. Kalian jangan ramai atau membuat keributan. Jika hanya beberapa ruangan yang kalian hancurkan, tidak akan masalah. Tapi akan menjadi celaka jika kalian menghancurkan seluruh akademi."


*Whirl!*


Menggunakan kemampuan portal dari penguasaan dimensi miliknya, Noctis menghilang dari hadapan mereka semua. Seperti yang telah dikatakannya sebelumnya, dia berniat pergi ke dunia lain untuk membeli makanan ini.


Hanya tersisa ke-6 murid di lapangan itu yang sedang malas dan bingung mau ngapain. Mereka saat ini tidak memiliki pelajaran, tidak masalah jika mereka jalan-jalan ke luar akademi atau makan ke kantin. Tapi sebagai murid yang berusaha teladan, mereka semua memutuskan tetap di lapangan dan berlatih seperti hari-hari normal.


"Cukup malas untuk melakukan sesuatu.” Lalu, Theresa kemudian mengarahkan pandangannya pada 2 orang yang terlihat mirip, dan berkata, "Apa yang akan kalian lakukan di jam kosong ini?"


Mereka adalah Senia Xenolia dan Zenia Xenolia. Senia merupakan putri dari keluarga bangsawan Xenia dan saudara kembar Zenia, sedangkan Xenia merupakan putra keluarga bangsawan Xenia dan saudara kembar Senia.


Mereka berdua memiliki penampilan yang mirip. Masing-masing memiliki rambut pendek berwarna biru tua, mata coklat kekuningan, dan kulit putih. Bedanya, Senia memakai rok sedangkan Zenia memakai celana panjang yang mana, kedua pakaian itu berwarna kuning emas. Baju mereka sama, yaitu berupa kemeja warna putih yang tertutup blazer coklat tua.


"Haha, yah, kami berdua akan pergi ke kantin. Aku rasa, aku tidak akan bisa mengikuti latihan yang terlihat menyakitkan," Zenia tertawa kering sambil berusaha membuat senyuman.

__ADS_1


"Ya, aku rasa melakukan latih tanding tanpa pengawasan sangat berbahaya," Senia membuat senyuman ramah ketika melakukan penolakan.


Mereka berdua berusaha untuk sebisa mungkin tidak membuat Theresa marah atau hal buruk mungkin akan terjadi. Tampaknya, Theresa telah melakukan banyak perkembangan dalam beberapa hari terakhir ini sampai membuat murid lainnya di kelas mereka memilih mundur.


"Sayang sekali karena kalian tidak bergabung. Jika hanya sedikit orang yang bertarung, maka medan pertempuran tidak akan seru. Tapi bukankah di sini tidak ada kantin karena hanya ada kita berenam di akademi ini? Apa yang kalian maksud ini adalah makan di ruangan asrama kalian sendiri, ya?” tanya Theresa.


“Um!” Keduanya mengangguk pada saat bersamaan.


Theresa cemberut karena itu merasa disayangkan karena beberapa orang meninggalkan medan latihan, kemudian beralih pada seorang lelaki, lalu bertanya, "Apa yang akan kamu lakukan, Gil?"


Nama aslinya adalah Goldwin Olivier. Merupakan putra ke-4 keluarga Olivier. Dia memiliki mata berwarna abu-abu gelap yang menatap malas dan rambut berwarna dengan warna hijau gelap. Dia terlihat kurang motivasi saat ini karena mungkin beberapa peristiwa pahit. Selain itu, Theresa memanggilnya dengan sebutan "Gil" karena mengucapkan "Goldwin" terlalu panjang baginya.


"Aku akan jalan-jalan ke kota. Aku akan mencari uang tambah dengan melakukan beberapa pekerjaan," jawab Gil.


"Benar juga. Untuk beberapa alasan, kamu di nomor akhirkan oleh keluargamu sendiri. Jika kamu tidak mencari uang, kamu mungkin akan menghabis hari-harimu dengan memakan kecambah," Theresa tampaknya sedih dengan berkurangnya murid pada kelasnya.


Sekarang hanya ada 2 orang di lapangan itu, yaitu Theresa dan Angelica. Sophia tidak dihitung sebagai orang karena dia bukan manusia, melainkan spirit. Namun karena akan sulit mendeskripsikannya, maka kita anggap ada 3 orang di lapangan, yaitu Theresa, Sophia, dan Angelica.


"Baik, Angelica, mari kita bertarung!" Theresa berbalik pada Angelica sambil semangat yang menyertainya.


"Ap-Apa! Aku! Tidak, tidak, tidak, kemampuan yang aku kembangkan tidak cocok untuk bertarung, aku hanya akan menjadi penonton dari jarak jauh!" Angelica menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Kalau tidak salah, kamu mengembangkan kemampuan untuk menciptakan sebuah cahaya semu semacam ilusi, bukan? Apa namanya itu …?"


"Kemampuan yang aku kembangkan adalah Hologram. Aku bisa membuat cahaya yang menyerupai imajinasiku. Menggunakan kemampuan ini, aku bisa membuat lawan kebingungan. Tetapi karena kemampuanku tidak memiliki kemampuan ofensif, ini menjadi tidak cocok bertarung. Sangat berbeda dengan kemampuanmu."

__ADS_1


"Kamu tidak perlu berkecil hati, kok, Angelica." Theresa mengarahkan senyuman manis dan riangnya yang tanpa beban pada Angelica. “Aku yakin, suatu saat nanti itu akan berguna. Kalau bukan dalam pertrungan, itu pasti akan berguna untuk mencari nafkah. Beberapa tempat yang mengadakan pesta pasti akan sangat terhibur dengan pertunjukan hologram itu.”


‘Wah, kamu secara terang-terangan mengatakan jika kemampuan ini sama sekali tidak memiliki kegunaan untuk bertarung dan lebih cocok untuk digunakan dalam pesta dan hiburan. Aku sama sekali tidak tahu apakah itu merupakan pujian atau sindiran,’ pikir Angelica.


"Kamu dari tadi terus-terusan berbicara padanya. Bagaimana kalau kita melakukan latih tanding? Noctis mengatakan kalau kita boleh melakukan apapun selama dia pergi, bukan? Beberapa latih tanding seharusnya tidak akan menjadi masalah besar, juga aku bisa memulihkan lukamu bila itu terjadi," ucap Sophia datar.


"Mari kita melakukannya sekarang juga. Lagi pula, tidak ada yang berada di dekat sini. Jadi kita bisa melakukan serangan habis-habisan sekarang," jawab Theresa dengan bersemangat.


'Oe, oe, oe, aku masih di sini, woy! Apa kalian ingin membuat aku terkena imbas pertarungan kalian!' dalam benak Angelica.


"Baiklah. Karena kalian akan bertarung aku akan pergi ke tepi untuk menghindar dari imbas pertarungan." Angelica pergi ke sisi lapangan, menghadap pada Theresa dan Sophia, kemudian duduk di tanah tanpa alas.


Di tengah lapangan, hanya menyisakan Theresa dan Sophia. Mereka berdua masih berdiri tenang saling berhadapan, bersiap untuk bertarung. Kemudian ….


*Slurp!* *Slurp!*


Darah bergerak menuju ke tangan mereka berdua.


Pada tangan Theresa, busur terbentuk di tangan kanannya dan anak panah terbentuk di tangan kirinya. Untuk Sophia, dia hanya membentuk sebuah pedang berwarna merah yang dipegangnya menggunakan kedua tangannya.


*Tap!* *Sis!*


Theresa melompat mundur sambil melesat anak panah menuju Sophia.


*Tap!* *Slash!*

__ADS_1


Sophia melompat menuju Theresa sambil menebas anak panah di jalurnya menjadi dua.


__ADS_2