Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik

Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik
Gagal Pamer


__ADS_3

*Drap!* *Drap!* *Drap!*


Sophia, Alex, dan Noctis berlari melewati gelapnya hutan malam. Tanpa pencahayaan yang benar, mereka kesulitan untuk melihat kontur tanah dan beberapa kali menabrak ranting, tetapi masih terus berlari menuju sumber suara. Sangat sulit dan membuat tubuh beberapa kali memiliki luka goresan. Namun Sophia dan Noctis bisa langsung menutup kerusakan pada tubuh mereka, sedangkan tubuh Alex telah terlatih untuk menangani luka kecil.


Yang mengherankan adalah, mengapa Noctis dan Sophia tidak melayang saja di atas pepohonan? Tubuh spirit pada dasarnya adalah elemen yang mereka miliki, kemudian kemampuan spirit adalah untuk mengendalikan elemen mereka. Dengan begitu, mereka bisa mengendalikan tubuhnya sendiri untuk membuat gerakan di luar kemampuan manusia. Mereka bisa melayang!


Lalu untuk Alex dia juga aneh. Dia memiliki kontrak dengan spirit elemen api, lalu mengapa dia tidak membuat titik api kecil untuk penerangan? Sebuah titik api kecil tidak akan membakar hutan dan tidak sulit untuk dibuat. Setidaknya dia bisa melihat jalanan lebih jelas dan meminimalisir kemungkinan dia menabrak dahan pohon dan menerima luka gores.


Mereka bertiga sangat aneh. Entah apa yang merasuki mereka, mereka bertindak sangat bodoh dan ceroboh. Elena akan tertawa melihat ini. Cara mobilitas mereka tidak tinggi dan mempersulit pergerakan mereka. Apakah mereka bertiga sedang membuat tutorial mempersulit hidup di saat politik dan ekonomi sudah sulit? Sesungguhnya orang yang memilih jalan sulit padahal ada yang jauh lebih mudah dan tidak merugikan orang lain adalah orang-orang yang kurang pekerjaan.


Setelah selama beberapa menit berbenturan, tergores, dan salah jalan berkali-kali karena dahan pohon, akhirnya mereka bertiga sampai di sebuah lahan terbuka. Sebenarnya lahan itu bukan terbuka, sih. Tapi, pepohonan di sana sudah hancur menyisakan pangkalnya yang masih tertanam di tanah menggunakan akarnya. Kontur tanah dipenuhi jejak tebasan cakar sedalam beberapa sentimeter. Sudah menyebabkan berdarah-darah jika mengenai tubuh manusia.


“Itu…!” Alex ternganga melihat makhluk di depannya.

__ADS_1


Makhluk itu terlihat seperti serigala, tetapi tubuhnya beberapa kali lebih besar dan dia seakan terkena rabies, tindakannya sangat gila dan anarkis dengan menghancurkan semua hal di sekitarnya. Pepohonan ambruk dan tanah kacau ini disebabkan olehnya. Pertama kali mereka melihat serigala ini, serigala raksasa itu memiliki status “tersangka” sebagai individu yang menghancurkan semua ini.


“Monster, ya? Dia adalah monster dari hewan serigala. Monster dari hewan herbivora saja sudah merepotkan karena tubuh mereka yang meningkat. Monster karnivora akan lebih merepotkan lagi dengan insting mereka sebagai pemburu.” Sophia menatap datar pada makhluk di hadapannya. “Untung saja dia hanya serigala. Bukan hewan yang memiliki racun. Aku pasti bisa mengalahkannya.”


Dunia spirit memiliki energi alam yang membuat semua makhluk di dalam sana dapat memanfaatkan energi tersebut untuk membuat beragam fenomena magis. Hewan bukan pengecualian makhluk yang dapat menggunakan energi alam, tetapi ada resiko lain ketika menggunakan energi alam tersebut. Energi alam memerlukan kontrol tinggi atau penggunanya akan kehilangan kewarasannya karena energi alam yang mengamuk di dalam dirinya.


Manusia memiliki akal dan pikiran yang membuat kendali alam mereka menjadi cukup baik. Setidaknya mereka tidak akan berubah menjadi monster kecuali berada dalam kondisi tertentu. Namun untuk hewan yang tidak memiliki banyak kepintaran, mereka rawan untuk berubah menjadi monster ketika menerima terlalu banyak energi alam. Memperkirakan persyaratan dalam menggunakan energi alam, entah mengapa seakan manusia dibantu untuk bertahan oleh dunia ini.


Manusia menjadi makhluk yang paling cocok untuk menggunakan energi alam, sementara hewan memiliki resiko tinggi mengalami kegilaan ketika menggunakannya. Bukankah ini sudah menjadi bukti jika dunia ini terlalu mendukung keberadaan manusia dan kurang memperhatikan jenis lainnya? Namun manusia malah menggunakan kekuatan mereka untuk membuat kerusakan di atas muka bumi ini atas dasar keserakahan dan memuaskan ambisi mereka. Mereka bahkan sampai mengorbankan sejenisnya untuk tujuan mereka.


“Makhluk lemah! Aku akan menghabisinya dalam satu serangan!” Noctis mendengus sombong dan maju beberapa langkah di depan mereka.


“Woah… mulai beraksi juga, nih, Sang Guru. Aku ingin lihat, bagaimana Sang Guru akan menghadapi Monster liar itu…,” pujian Sophia datar.

__ADS_1


Jika saja dia terlihat lebih bersemangat, maka ini dengan jelas akan membuatnya terdengar sebagai sebuah pujian. Namun ucapan itu dikombinasikan dengan nada bicara datar Sophia, itu membuatnya terdengar sebagai sindiran. Dan buruknya, Noctis menganggap itu sebagai sebuah sindiran. Dia menganggap jika Sophia meremehkannya dan menyangka tidak akan bisa melukai monster serigala di depan mereka itu.


Mengabaikan pujian Sophia yang dianggapnya sebagai sindiran, Noctis terus melangkah dengan aura dingin menyeramkan menyelimutinya. Awan gelap menutupi di atas mereka, membuat lokasi mereka saat ini menjadi semakin gelap. Gelap gurita…, penggambaran yang sangat cocok untuk kemampuan Noctis yang dapat mengendalikan dimensi bayangan.


“Serigala…, jangan salahkan aku karena kamu akan mati hari ini. Salahkan saja nasib sialmu yang membuatmu berubah menjadi seperti ini karena penyakit “Siput Gila”. Jika kamu takut tenang saja, aku akan mengakhiri ini secepat mungkin dan membuatmu tidak terlalu banyak merasakan rasa sakit. Itu adalah satu-satunya kebaikanku untukmu.” Noctis mengayunkan tangannya, berniat mengendalikan bayangan di balik pakaiannya untuk membuat sebilah pedang. Kemudian….


Tidak ada yang terjadi.


Noctis mengayunkan tangannya beberapa kali, tetapi dia tidak bisa mengendalikan bayangan untuk menciptakan pedang bayangan. Dia juga tidak bisa menggunakan semua serangan lain yang berhubungan dengan teknik bayangan tidak bisa ia gunakan. Dia mulai merasa canggung karena sebelumnya sudah bersikap keren di depan mereka berdua, tetapi aksinya ini malah berujung pada kegagalan dalam membuat serangan.


“Noctis-sensei, apa yang kamu lakukan? Cepat ciptakan pedang bayangan, lalu swing, slash, dan jleb, ‘gitu. Apa yang kamu lakukan dengan tidak menciptakan bayangan? Bukankah itu adalah keahlianmu?” tanya Sophia beberapa meter di belakang Noctis.


Noctis menengok ke belakang pada Sophia, dan berkata, “Oh, um… kemampuan asliku adalah mengendalikan dimensi. Aku bisa mengendalikan bayangan sebagai objek dua dimensi dan sering mewujudkannya sebagai senjata. Masalahnya sekarang, malam ini terlalu gelap yang menyebabkan bayangan tidak terbentuk. Karena tidak ada bayangan, aku tidak bisa mengendalikan bayangan. Jalan alternatifnya aku bisa mengendalikan dimensi ketiga seperti yang aku lakukan ketika pergi ke dunia lain, tetapi itu sangat boros.”

__ADS_1


“....” Alex dan Sophia terdiam tidak tahu harus menanggapi seperti apa. Jika mereka tertawa, orang ini masih lebih kuat dari mereka. Namun di lain itu, baru kali ini mereka merasa jika Noctis tidak berguna. Memang, kenyataannya Noctis bukan makhluk yang Maha Kuasa. Kekuatannya masih terbatas, hanya saja batasannya ini jauh berada di atas makhluk lainnya.


Monster serigala menyadari kedatangan mereka. Sambil menggeram, dia menatap Noctis dengan mata ganasnya yang berwarna kemerahan pada bola matanya. Air liurnya menetes dari mulut dan membasahi tanah di bawahnya dan menimbulkan suara geraman. Perhatiannya langsung tertuju pada Noctis sebagai orang yang paling dekat dengannya dalam hal posisi.


__ADS_2