
Sama seperti pemandangan di luar, perasaaan ketika masuk ke dalam lobi juga terasa sepi tanpa adanya orang. Kursi-kursi tunggu kosong, namun setidaknya tempat ini masih sangat bersih dan siap menerima tamu yang akan datang kapan saja.
Mata Sześć langsung tertuju pada resepsionis. Kepala orang ini berada di atas lipatan tangannya yang ditaruh di atas meja. Masih kurang jelas apakah dia sedang terbangun atau masih tidur saat ini, akan tetapi yang paling jelas adalah Sześć yang memerlukan informasi dari orang ini untuk mengetahui apa yang terjadi dengan tempat ini mengapa bisa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
“Selamat siang! Apakah kamu sedang tidur atau masih bangun?” Sześć memasang senyuman ramah di wajahnya.
Berharap akan ada sebuah jawaban yang datang, Sześć menunggu di sana dalam hitungan detik. Wajahnya masih mempertahankan senyuman, menunggu orang ini akan menjawab salamnya secepat mungkin. Dalam hitungan kurang dari 60 detik jika bisa. Lebih dari itu, niscaya Sześć akan memilih untuk pergi dan bertanya pada warga sekitar.
Dia tidak bisa pergi ke toko mengingat belum memiliki mata uang dunia ini. Bisa saja dia menggunakan emas, tetapi cara itu menjadi sesuatu yang aneh dan mencurigakan, juga emas yang dibawanya juga tidak banyak. Sześć juga memerlukan tempat untuk menukarkan emas-emasnya, atau emas itu sendiri bukan merupakan mata uang di dunia ini.
“Gmn? Hmn?” Akhirnya resepsionis itu mulai mengangkat kepalanya.
Sementara Resepsionis ini kebingungan dengan apa yang membangungkannya, Sześć memperhatikan orang ini secara seksama. Orang ini--Resepsionis--memiliki rambut panjang acak-acakan meski telah dikepang di kedua sisi kepalanya, dan tambahannya itu berwarna jingga yang lebih dekat dengan warna merah. Ketika dia membuka matanya, terlihat bahwa dia mempunyai mata berwarna kuning dengan warna yang lebih gelap di bagian pupilnya.
Di atas kepalanya, dia memakai sebuah topi. Topi tersebut berbentuk bundar, lebih tepatnya sedikit lonjong mengikuti kepalanya, dengan warna yang sama dengan warna rambutnya, hanya saja ada sebuah logo ikan hiu dibingkai dalam lingkaran yang berwarna biru.
__ADS_1
Bajunya hampir seperti jubah, panjang sampai ke mata kaki dan lengannya juga sampai ke pergelangan tangan. Itu memiliki warna biru terang seperti lautan, yang membentuk pola segitiga di sepanjang ujung bawah pakaian tersebut, namun memiliki warna dasar putih di bagian lainnya.
‘Cebol?’ inilah tambahan tentang apa yang dipikirkan Sześć mengenai orang ini.
Hanya dengan Sześć yang berdiri, dia merasa jika orang di depannya ini sangat pendek dibandingkan kebanyakan orang. Tingginya hanya seperti seseorang di usia 6 tahunan. Tapi, Sześć sangat mengetahui atau paham jika itu tidak mungkin terjadi mengingat dia yang menjadi penerima tamu.
“Uh…, kepalaku sakit, nih…. Ini memang sangat berat saat aku tidak tidur selama semalaman memikirkan nasib tempat ini ke depannya…,” rintihnya sambil memegangi kepala.
Sikapnya ini sangat blak-blakan di depan pengunjung yang mungkin akan bermitra dengannya. Dia telah berada pada posisi di mana sudah tidak terlalu memikirkan hal-hal yang biasa dia lakukan, yaitu melayani pengunjung dengan ramah senyum. Motivasinya sudah terlalu hancur untuk melakukan pelayanan yang benar, sehingga Sześć hanya bisa menerima ini apa adanya.
“Anu, bisakah aku bertanya tentang apa yang terjadi dengan tempat ini?” tanya Sześć dengan senyuman ramahnya. “Sungguh, aku merasa sangat heran dengan mengapa tempat ini yang menjadi sepi. Padahal, bukankah beberapa tahun yang lalu tempat ini sangat ramai sampai perlu antri selama berjam-jam untuk bisa masuk ke sini?”
Alis Sześć sedikit berdenyut mendengar pertanyaan ini. Secara tidak langsung, makna kata-kata ini sama seperti menghina Sześć, menyatakan bahwa dia merupakan seseorang yang hidup di wilayah terbelakang dan tidak banyak menggunakan teknologi modern, seperti televisi dan lainnya yang merupakan media elektronik penyebaran berita.
Pada kenyataannya, Sześć memang hidup di dunia Sword and Magic sehingga dia memiliki kontak yang terputus terhadap penyebaran berita di dunia ini. Meski dia tidak terima, Sześć hanya bisa meredam kemarahannya karena di sini memang dia sendiri yang salah dan apa yang dikatakan Resepsionis ini merupakan kenyataan.
__ADS_1
“Beberapa hari lalu, seekor penther legendaris bernama Jormungand datang ke sekitar perairan ini.” Resepsionis itu menghela napasnya sebelum melanjutkan, “Dia memang merupakan tipe penther yang tidak aktif setelah kenyang, jadi keberadaan tidak terlalu berbahaya dan bisa diprediksi kedatangannya.”
“Hmm? Kalau dia menguasai perairan, bukankah seharusnya mematikan kebanyakan bisnis di tempat ini? Aku lihat, warung makanan yang menyediakan sea food (/\=makanan laut) masih baik-baik saja. Kenapa para pedagang itu justru baik-baik saja?” tanya heran Sześć.
“Justru karena dia datang, ikan-ikan ketakutan dan lari ke bibir pantai. Karena Jormungand sendiri tidak aktif setelah kenyang, para nelayan bisa mengambilnya dengan aman-aman saja setelah dia kembali ke sarangnya.” Resepsionis itu mengangkat badanya dan bersedekap, menunjukkan kekesalannya.
'Wa-Wah, sungguh dunia yang tidak adil, ya.' Senyuman Sześć berubah pahit karena kebingungan memikirkan ekspresi yang cocok. 'Di satu sisi para nelayan diuntungkan, di sisi lain orang ini mendapatkan kerugian di bisnisnya. Ada banyak pengertian tentang keadilan menurut para ahli, namun yang pasti, semua itu memiliki satu kesimpulan, yaitu kita yang hidup di dunia yang tidak adil.'
'Tidak ada yang bisa dilakukan terkait masalah ini. Kecuali penegak hukum memiliki kemampuan untuk menjadi Maha Mengetahui, maka keadilan sejati tidak akan terjadi. Selain itu, penegak hukum juga perlu menjadi Maha Kuasa agar tidak ada yang bisa lolos dari hukum.'
'Kesimpulannya, hal ini tidak akan bisa diwujudkan oleh manusia biasa. Diperlukan sesosok eksistensi luar biasa dan mampu mengatur semua makhluk di dunia ini. Dalam hal ini, sudah pasti dia bukan merupakan makhluk.'
"Tapi ini tidak akan bertahan lama," lanjut Resepsionis yang menarik perhatian Sześć. "Jormungand merupakan predator tingkat atas dan memerlukan banyak makanan. Tak lama lagi, ketika ikan-ikan di sekitar tempat ini, kemungkinan terbaiknya adalah dia yang akan pergi ke tempat lain, sedangkan kemungkinannya terburuknya adalah dia yang akan memakan semua orang di tempat ini."
"Dari kedua kemungkaran yang kamu katakan itu, bahkan pilihan terbaik sekalipun akan berdampak buruk, bukan?" Sześć mulai angkat bicara. "Jika ikan di sini habis, sea food di sini akan habis. Mungkin mereka bisa menggunakan alternatif seperti rumput laut, tapi pasokan daging hewan laut tetap akan habis, 'kan?"
__ADS_1
"Yap! Tepat seperti yang kamu katakan, Pengunjung." Tiba-tiba wajah Resepsionis itu menjadi cerah. "Ini akan menjadi salah mereka karena tidak membuat usaha untuk memburunya! Aku tidak masalah dengan ini, karena bisnisku sendiri tidak terpengaruh dengan ketersediaan SDA di sini."
'Jika aku merupakan tokoh utama dari suatu novel dan penulisnya ingin membuat sebuah adegan dramatis, aku yakin dia akan membuat arc Jormungand ini mengamuk, lalu aku akan menghentikannya.'