Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik

Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik
Mengerjakan Strategi


__ADS_3

Alex dan Sophia terdesak sampai-sampai mereka masuk ke pepohonan rimbun dan bersembunyi di antara semak-semak. Kurang tepat jika dikatakan sebagai terdesak, mereka berdua tidak menerima luka, memiliki banyak stamina, dan masih bisa bertarung. Dari pada menyebut mereka sebagai terdesak, mereka berdua hanya mundur untuk memikirkan strategi dalam menghadapi Monster Serigala ini.


Tidak tanggung-tanggung, Monster Serigala memiliki peningkatan signifikan pada aspek kecepatan, kekuatan, daya tahan, kelincahan, dan regenerasi. Kemampuan fisiknya dalam kecepatan, kekuatan, daya tahan, kelincahan tidak terlalu dipermasalahkan karena elemen darah Sophia dapat memperlambatnya meski hanya beberapa detik. Yang paling merepotkan dari semua aspek itu, adalah kemampuan regenerasinya yang membuat dibutuhkannya satu serangan kuat yang dapat memberikan luka fatal padanya. Serangan goresan kecil tidak akan gunanya untuk melawan makhluk ini.


"Seharusnya dia masih mencium bau darahku yang ada di sekitarnya, juga dia dikuasai oleh insting liarnya. Dia seharusnya tidak terlalu hebat dalam memilih mangsa dan secara otomatis akan langsung memilihku. Tidak masalah jika aku tergigit dan tercabik-cabik, aku yakin bisa memulihkan tubuhku lagi. Kamu fokus saja untuk membuat satu serangan kuat yang bisa menumbangkannya," saran Sophia melalui bisikan.


"Um, aku paham." Alex mengangguk. "Aku tahu aku bukan ahli sihir dan bukan keahlianku untuk membuat serangan sihir kuat. Tetapi setidaknya aku bisa membuat ledakan dalam radius beberapa belas meter. Kamu berhati-hatilah dari ledakan yang akan aku ciptakan nanti."


"Kamu pikir aku siapa?"


Tanpa berlama-lama lagi, mereka berdua keluar dari persembunyian mereka. Sophia pergi menuju pada serigala itu, sementara Alex pergi ke arah lain, menjauhi serigala dan mencari tempat yang tepat untuk tempat persembunyian dalam memberikan serangan kejutan sekali serang. Mereka berdua sedang dalam atmosfer serius menanggapi serangan Monster Serigala ini.


Beberapa lama Sophia lari ke arah serigala sebelumnya, tetapi dia belum juga berpapasan dengannya. Ini membuat dirinya bergumam, "Tunggu, di mana Serigala itu? Bukankah seharusnya dia ada di jalur ini dan mengikuti kita? Apakah dia pergi ke arah lain karena persembunyian kita terlalu bagus?"


•••••


Di tempat lain, Theresa dan Yovanca berada di dekat api unggun. Tidak banyak yang mereka lakukan. Mereka hanya memperhatikan nyala api unggun dan mempertahankannya agar tetap menyala dengan cara melemparkan beberapa kayu ke dalamnya. Selebihnya, suasana di sana sangat menggabut dan tidak ada pekerjaan penting yang harus segera mereka selesaikan.

__ADS_1


Untung saja malam hari ini angin tidak berhembus kencang. Bincang-bincang tampak bercahaya dan berkedip mati di atas langit dengan awan yang telah menyingkir. Sayang sekali, cahaya bintang tidak terlalu cerah untuk membuat cahaya yang menghasilkan bayangan. Ini membuat Noctis tidak leluasa dalam kemampuan serangannya.


"Aku ingin melepaskan serigala kecil ini, aku tidak memiliki ketertarikan kuat terhadapnya. Tapi bukankah serigala adalah hewan berkelompok? Aku merasa kasihan jika harus melepaskannya begitu saja tanpa kawanan. Ini adalah keputusan berat untuk diambil…." Theresa menatap berat sambil membelai lembut pada bulu serigala itu.


Yovanca tersenyum pada Theresa sebelum mengatakan, "Itu tidak masalah, kamu hanya harus melakukan apa yang ingin kamu lakukan. Dari pada melakukan sesuatu secara terpaksa, tidak masalah jika kita melakukan apa yang ada di dalam hati kita, bukan? Tentu saja, di dunia ini ada aturan yang membuatmu tidak boleh melakukan apapun yang kamu mau. Tapi jika itu tidak melanggar aturan atau membuat kekacauan, kamu bisa melakukan apa yang kamu inginkan, lho."


Theresa menatap mata Yovanca sambil memelas, dan berkata, "Bahkan jika kamu mengatakannya seperti itu, aku merasa sulit untuk memilih. Aku lebih suka untuk melepaskan serigala ini di alam liar dan membiarkannya hidup bebas seperti kebanyakan hewan, tapi… aku juga merasa kasihan jika dia sampai terserang oleh binatang lain. Kematian pasti akan menghampiri setiap yang bernyawa, tapi bukan berarti kita harus mempercepat kematian itu sendiri."


"Hmm… pilihan yang sangat sulit. Setidaknya kamu bis—." Yovanca berdiri secara spontan karena terkejut. Dia merasakan sesuatu melalui firasatnya.


"Ada apa, Bibi Yovanca? Kenapa kamu tiba-tiba berdiri seperti itu?" Theresa ikut berdiri sambil menggendong serigala kecil.


*Srak!* *Krak!* *Swoosh!*


Monster Serigala itu menembus dahan pepohonan yang menghalangi jalannya, kemudian dia langsung menuju pada Theresa dan Yovanca. Pergerakannya memang cepat dan bisa menghancurkan tumbuh-tumbuhan di jalurnya selama dia bergerak. Beberapa dahan pohon sampai dibuat miring oleh gerakannya. Hanya dari gerakannya ini sudah cukup mematikan untuk manusia.


*Slash!* *Slash!* *Slash!*

__ADS_1


Yovanca menyatukan jari telunjuk dan jari tengah pada tangan kanannya, kemudian dia menebaskannya beberapa kali pada tubuh Monster Serigala. Bersamaan dengan itu beberapa bilah angin terbentuk dan memotong tubuh Serigala.


Namun meski begitu, Monster Serigala itu terus berjalan menerjang ke arah mereka berdua dengan tubuh yang memiliki beberapa luka goresan dari tebasan bilah angin. Luka yang sangat kecil dan hanya muncul di permukaan kulit, selain itu luka tersebut langsung pulih hanya dalam waktu sepersekian detik menggunakan kemampuannya regenerasinya.


"Uwa…!" Theresa melompat ke samping dan diikuti oleh Yovanca.


*Brak!*


Sayang sekali, di belakang mereka adalah kereta kuda yang mereka gunakan untuk melakukan perjalanan. Karena keduanya menghindar sedang Monster Serigala tidak berhenti, makhluk ini menabrak kereta dan membuatnya berguling-guling. Beberapa bagian dari kereta langsung hancur menjadi serpihan besar kayu, dan ini membuat kereta kuda tidak dapat digunakan lagi dalam perjalanan ini. Mereka perlu memperbaikinya sebelum melanjutkan perjalanan dengan perbaikan yang sama sekali tidak mudah.


"Ke-Keretanya! Itu bukan milik kita! Bagaimana jika Noctis-sensei marah ketika melihat keretanya hancur lebur?" Theresa tidak dapat menahan dirinya untuk tidak berteriak.


Dia belum pernah melihat Noctis marah sampai saat ini, tetapi dia bisa menebak jika suatu hal buruk akan terjadi jika itu sampai terjadi. Bertanggung jawab menggunakan uang tidak mungkin karena dia sendiri tidak tahu harga dari kereta itu. Memperbaikinya juga mustahil baginya, setidaknya untuk saat ini karena dia bukan seseorang yang ahli dalam bidang itu. Dia hanya bisa berteriak dengan ketakutan ketika melihat kereta itu dihancurkan.


"Tidak perlu memikirkan kereta itu untuk saat ini, Theresa." Mata Yovanca menyipit dan menatap pada tempat mendarat Monster Serigala. "Serigala ini, setidaknya dia lebih kuat darimu dan kebanyakan orang dari prajurit biasa. Sebaiknya kamu fokus padanya dan berhati-hati pada serangannya."


Serigala Kecil di gendongan tangan Theresa dapat merasakan kekuatan Monster Serigala di hadapannya melalui insting hewannya. Dia terbuat gemetar ketika merasakan perasaan menekan dari Monster Serigala. Namun di lain itu…, dia juga merasa sedih ketika matanya bertatapan dengan mata Monster Serigala.

__ADS_1


"Sangat berbahaya. Aku tidak menyangka ada monster sekuat itu di dalam hutan ini. Wajar saja jika ekosistem di hutan ini menjadi hancur karenanya," gumam Theresa.


__ADS_2