
"Ini mozi Zio?." Zefan ikut menoleh ke asal suara, dimana lagi berdiri seorang perempuan cantik yang lagi tersenyum ke arah mereka.
"No daddy, mbak mozi mana kok ngak ada?." Sejak Zio masuk mozinya tidak ada sama sekali.
"Mozi ada sekarang kita pulang ya, mozi tuh." Menunjuk pada perempuan yang lagi membelakangi mereka sedang memainkan hp.
"Ayo daddy Zio kenalkan sama mozi." Menarik tangan Zefan berjalan ke arah perempuan itu berada.
"Sabar Zio, pelan pelan saja jalannya." Mengikuti langkah kecil Zio yang terus menggandeng Zefan.
"Mozi." Panggil Zio saat sudah berada di belakang orang itu.
"Tampan nya mozi kenapa ngak jadi bertemu uncle koki tadi?." Mensejajarkan badannya sama badan mungil Zio
"Zio tadi lagi sama daddy mozi." Jawab Zio yang terdengar ambigu di telinga mozi.
Daddy siaoo? setaunya daddy Zio tidak ada di sini, lalu daddy apa maksud Zio?.
"Daddy." Mengulangi kata daddy lagi.
"Daddy kenalin ini mozi Zio." Menarik tangan Zefan hingga tertegun melihat siapa yang di maksud mozi Zio.
"Kenalin saya Zefan." Mengulurkan tangan mengenalkan diri.
"Saya Ziva, panggil Iva saja." Membalas uluran tangan Zefan tidak lupa dengan tersenyum manis.
"Maafin Zio yang sudah memanggil mas Zefan daddy." Ziva merasa tidak enak hati karena anaknya memanggil orang lain dengan sebutan daddy.
"Tidak apa Ziva, saya tadi yang meminta nya. Lagian saya juga suka anak kecil." Was was saja jika nanti Ziva meminta Zio berhenti memanggil dia daddy.
Panggilan itu sudah nyaman bagi Zefan rasanya tidak rela jika Zio harus memanggil dia uncle lagi.
"Tapi tetap saja itu ngak sopan, nanti saya ingatkan Zio buat ngak memanggil mas Zefan daddy lagi." Panggilan itu selain tidak sopan dan juga dia juga bukan daddy Zio serta satu lagi mereka orang baru yang baru saja kenal.
"Ngak apa jangan melarang Zio, apa Ziva ngak kasihan melihat Zio yang senang memanggil saya daddy." Kenapa Zefan yang mempertahankan panggilan itu, apa begitu berarti sebuah panggilan itu.
"Ya sudah kali ini saja, Zio tadi kenapa ngak jadi bertemu uncle koki." Tadi Ziva ke dapur tapi tidak melihat Zio berada di sana. Hanya karyawan sana yang bilang kalau Zio lagi di depan.
"Iya mozi, Zio mau ke tempat uncle koki dulu. Bye mozi bye daddy." Kaki kecil itu berlari masuk ke dalam dapur restaurant meninggalkan dua orang dewasa itu.
"Zio sangat menggemaskan sekali, beruntung Ziva memiliki anak seperti Zio. Pasti daddy nya juga ngak kalah tampan ya?." Pertanyaan satu itu seperti pertanyaan sensitive yang sulit buat Ziva jawab.
"Maaf mas tapi sampai sekarang Iva juga ngak tau di mana daddy Zio berada." Wajah Ziva mendung sebentar lalu tersenyum lagi.
__ADS_1
"Seharusnya saya ngak membahas daddy Zio, maaf Ziva.
Kan mulai sekarang saya yang bakal jadi daddy Zio." Membalas senyuman Ziva dengan tidak kalah manis nya, gula saja kalah manis sampai minder kalau sudah melihat senyuman Ziva.
Lebay kali ah kalah manis sama gula.
"Makasih mas Zefan, saya sungguh tersanjung.
Zio senang sekali memanggil mas Zefan daddy, semoga saja Zio nggak merepotkan mas Zefan ya."
"Sama sekali ngak merepotkan Va, tenang saja.
Kamu udah pulang kerja ya?." Yang Zefan tau kalau Ziva bekerja di restaurant itu sebagai pelayan.
"Iya mas kan udah sore juga dan juga Zio juga belum pulang sejak pulang Sekolah tadi." Zio tidak kelihatan seperti pulang Sekolah karena baju nya sudah di ganti dengan baju santai.
"Zio pintar ya, udah kecil masuk Sekolah.
Tadi dia juga bilang mau ngajak saya ke Sekolah sama ke rumah, apa boleh kalau saya mampir di lain waktu." Kan lebih baik minta izin sama orang tua Zio.
"Iya ngak mas Zefan, ini alamatnya." Menyodorkan kertas yang berisi kan alamat Sekolah dan rumah.
"Oh iya saya boleh minta no telpon Ziva, nanti kalau saya mau mampir di kabari dulu." Mereka berdua bertukar nomor hp.
"Iya Iva tunggu mas, Zio pasti juga senang kalau mas bisa mampir."
"Saya pertama kali bertemu Zio di KFC di jalan xx beberapa hari sebelum nya.
Saat itu dia lagi makan sendiri, dia juga bilang dia datang sama mozinya yang lagi ke toilet.
Dan membuat saya suka sama Zio saat saya mengusap kepala nya, dia jawab gini ' no uncle cuma mozi yang boleh pegang Zio' dan lebih bikin saya tertarik saat bilang dia memang sudah tampan.
Sungguh saat itu saya langsung suka sama Zio." Menceritakan awal pertemuan sama Zio yang tidak mau di pegang oleh Zefan.
"Zio memang seperti itu kalau bertemu orang baru, ada satu hal yang membuat Zio ngak mengizinkan sembarangan orang memegang dia." Kejadian itu sampai sekarang membuat Zio melarang orang baru memegang dia bahkan pengasuh Zio saja tidak ada yang berani memegang Zio selain tangan.
"Ngak apa saya maklum akan hal itu, itu tandanya dia bisa menjaga diri." Tindakan Zio hanya untuk sekedar menjaga diri dari orang yang berniat jahat sama kita.
"Mozi, daddy." Suara Zio datang dari arah belakang mereka.
"Sudah bertemu uncle kokinya?." Kini Zio sudah berada di atas pangkuan Zefan yang lebih dulu mengambil alih badan Zio dan mendudukkan di pangkuan nya.
"Sudah mozi, nih Zio di masakin uncle." Menunjukkan pepper bag pada Ziva.
__ADS_1
Setiap kali ke sana Zio sudah pasti mendapatkan makanan dari uncle kokinya.
Sebenarnya Zio tidak pernah meminta hanya saja uncle itu yang selalu memasakan Zio setiap kali d datang.
"Tadi mengganggu uncle tidak?." Kadang Zio suka usil saat bersama uncle nya.
Lupa kalau uncle nya lagi kerja.
"No mozi, uncle tadi cuma lagi duduk sama minum teh es." Ziva lega beruntung uncle Zio lagi santai jadi tidak sampai merepotkan dia.
"Sekarang kita pulang ya, ini udah sore Zio belum mandi." Ziva mengajak Zio pulang karena selain sudah sore Zio juga belum mandi.
Ziva tidak mau di jalan saat menjelang malam dan telat sampai rumah.
Bukan karena apa tapi Ziva selalu menerapkan jam pulang agar di siplin sampai besar.
"Tapi Zio masih mau sama daddy mozi." Bergelayut pada leher Zefan dengan manja.
"Besok bisa main sama daddy lagi, tadi mozi udah kasih alamat Sekolah Zio sama rumah. Nanti pasti daddy bakal main ke sana." Membujuk Zio agar mau pulang.
"Beneran daddy? nanti main lagi sama Zio?." Meminta kepastian sama Zefan.
"Iya besok kita main lagi, kalau mau Zio bisa main ke kantor daddy." Mengusap sayang Zio.
"Janji daddy." Mengacung jari kelingking pada Zefan untuk membuat janji.
"Iya daddy janji, ok sekarang Zio pulang dulu ya.
Daddy antar sampai depan ya." Menggendong Zio padahal Zio bisa jalan sendiri dan anehnya anak tampan itu tidak menolak sama sekali.
"Zio hati hati ya." Mengantar Zio sampai masuk ke dalam mobil.
"Dadah daddy, Zio pulang dulu." Melambaikan tangan pada Zefan, mobil itu mulai meninggalkan area parkir restaurant.
"Seorang pelayan restaurant dan OB kantor punya mobil sebagus itu." Sangat terkejut melihat mobil Ziva yang bisa di kategorikan mobil mewah.
Kini tanda tanya besar dalam kepala Zefan dan siapa Ziva sebenarnya.
Dan juga kini Zefan yakin kalau Ziva bukan orang sembarangan dan terbukti saat Zefan kesulitan mencari data tentang Zio.
\=\=\=\=\=
Tbc.
__ADS_1