
Negara tujuan Zefan mengajak Iva honeymoon adalah paris.
Negara yang banyak jadi tujuan dinasti honeymoon atau liburan bagi banyakan orang.
Kini pengantin baru yang di kabarkan hilang oleh keluarga mereka itu masih betah memejamkan mata sebab masih begitu nyaman berada di bawah selimut tebal serta pelukan yang menyalurkan kehangatan.
Iva terus menyusup dalam dekapan Zefan mencari kenyamanan di dukung sama badan pegal serta mata ngantuk maka lebih enak tidur.
Biarlah mentari mulai menyinari bumi tapi tidak ada gangguan bagi mereka sebab gorden kamar tempat mereka menginap tertutup rapat hingga tidur mereka tidak terganggu.
Iva masih belum sadar kalau sekarang bukan berada lagi di Negara kelahirannya.
Sang suami yang mengajak ke sana tidak memberi tau akan rencana itu.
Dan juga Iva pergi tidak perlu kwatir lagi akan sosok kecil yang menangis kalau dia pergi siapa lagi kalau bukan Zio.
Biasanya Zio akan menangis kalau Iva pergi jauh tapi kini tidak di sana sudah banyak orang yang bisa mengalihkan perhatian Zio agar lupa kemana Iva pergi.
Iva mulai menggeliat dalam tidurnya, mengerjapkan mata pelan hingga mata indah itu terbuka.
Mengedarkan pandangan kesegala isi kamar yang terasa berbeda.
Lalu melihat orang yang mendekap erat, wajah tampan Zefan yang masih terlelap, mereka saling berpelukan.
"Ini dimana?" Gumam Iva, dia ingat waktu masuk kamar pengantin di hotel semalam hiasan kamar tidak seperti ini dan juga nuansa berbeda dari yang semalam.
Tapi dia dia masih tidur sama suaminya cuma tempat yang beda.
Tidak mungkin ada yang mengganti hiasan kan kalau ada mereka di dalam.
"Ini bukan seperti kamar semalam," Ya kan memang bukan kamar pengantin semalam dan juga bukan di Indonesia lagi udah di paris ya beda lah.
Kalau kesadaran belum ngumpul beda ya, fikirin masih tertinggal travelling di alam mimpi, jemput dulu.
Iva perlahan mencoba menyingkirkan tangan Zefan yang memeluk badannya erat seperti tidak ingin pisah.
Setelah susah payah Iva berusaha akhirnya bisa juga dan Iva duduk buat mengingat ingat atau dia lupa hiasan kamar semalam.
"Seperti emang bukan ini, ada yang salah sama ingatan Iva kayaknya," Menepuk pelan kepala yang terasa pusing.
Iva memilih masuk ke kamar mandi siapa tau habis selesai mandi nanti ingatan dia sempurna lagi.
Pintu kamar mandi tertutup tidak kamar Zefan membuka mata sebab merasa tangan dia kosong orang yang di peluk tidak ada dalam dekapan.
"Nggak mungkin hilangkan?" Ngada ngada saja, mana ada hilang siapa yang berani masuk sana coba.
__ADS_1
"Mungkin mandi kali," Jalan ke pintu kamar mandi dan mencoba di buka.
"Lah pakai di kunci segala, berarti lagi mandi," Mendengar suara gemircik air dari dalam kamar mandi.
"Takut ya di kerjai lagi mandi makanya di kunci," Ya takut lah Iva.
Masa lagi mandi main pijit pijitan segala, yang ada kedinginan kalau kelamaan kena air.
Zefan memilih duduk di sofa dengan main hp sambil menunggu Iva selesai mandi.
Kalau tidak di kunci pasti sudah mandi bersama lagi.
"Shit kenapa di kunci segala, kan momen udah pas siapa tau bisa malam pertama," Ya jelas lah pengantin baru mikirin malam pertama.
Ini udah nahan coy sejak semalam tidak mungkin sekarang nahan lagi, mau sampai kapan coba.
Tapi nggak di kamar mandi juga, kalau ada yang empuk ngapain harus di tempat keras.
Setengah jam kemudian Iva keluar hanya menggunakan baju handuk yang ada di tersedia di kamar mandi.
"Mas udah bangun, ini dimana mas?" Iva sudah dengan wajah segar tidak seperti semalam dengan wajah lelah serta kurang tenaga.
"Paris Zi," Menghampiri Iva yang masih berdiri tidak jauh dari pintu kamar mandi.
Iva sudah waspada memandang Zefan yang semakin dekat jaraknya.
Detak jantung Iva tidak bisa di kontrol.
Kalau semalam bisa lolos apa hari ini akan sama seperti tidak.
Zefan berjalan melewati Iva, dengan pelan Iva bernafas lega setidaknya buat sekarang masih aman.
Namun sayang siapa sangka sebuah tangan melingkar di pinggangnya dengan mulus.
"Jika semalam mas kasih waktu bebas tapi tidak buat sekarang," Bisik Zefan tepat di telinga Iva dan juga dapat mencium aroma badan Iva yang menyegarkan hingga bisa membangkitkan hasrat yang semalam sempat tertunda.
"Hhmm mas," Lirih Iva menahan suara yang bisa lebih lagi memicu sesuatu yang tertunda.
"Nikmati sayang," Tambah Zefan dengan jarak yang semakin menipis dan jangan lupa kan tangan Zefan yang tidak diam lagi di tempat.
Iva hanya bisa memejamkan mata menikmati setiap sentuhan Zefan melakukan.
Mulai dari bawah di perut Iva merambat ke atas melalui belahan dada Iva hingga meremas pelan dan turun lagi ke bawah sampai di simpul tali baju handuk yang Iva kenakan lalu menarik pelan hingga terlepas tanpa Iva sadari sebab terbuai sama belaian yang Zefan berikan.
"Hm mas," Cuma kata itu yang mampu Iva ucapkan dengan mata yang terus terpejam sesekali mendesis pelan tidak mampu menahan gejolak yang ada.
__ADS_1
Zefan menuntun Iva ke arah ranjang dan tanpa Iva sadari bahwa baju handuk yang dia kenakan tertinggal di tempat dia berdiri tadi dan kini dia sudah polos.
Begitu dengan Zefan nafasnya kian memburu di sertai hawa panas saat melihat pemandangan indah di depan mata.
Tubuh putih mulus itu kini terpampang nyata di depan mata tanpa penolakan dan seperti ini saat nya.
Zefan segera melepas pakaian yang di kenakan hingga kini sama seperti Iva tanpa memakai penutup apa pun.
Di cumbunya Iva dengan lembut dan Iva juga membalas cumbuan itu hingga bibir Zefan turun ke leher jenjang Iva dan berakhir di dada serta meninggalkan jejak kepemilikan di sana.
Cukup lama melakukan pemanasan hingga hasrat mereka tidak terbendung lagi.
"Tahan ya, mas akan pelan pelan," Bisik Zefan sebelum memulai pada inti permainan.
Iva hanya mengangguk sebagai jawaban.
Sudah pasrah sebab sudah terbuai sama apa yang Zefan lakukan.
Hingga sampai pada puncaknya.
"Mas sakit," Isak Iva tidak lupa mencakar punggung Zefan buat menyalurkan rasa sakit.
Badan Iva rasanya terbelah saat penyatuan mereka sudah sempurna.
Zefan mendiamkan sebentar baru setelah melanjutkan kegiatan pana mereka.
Selanjutnya biar pasangan pengantin baru saja yang tau.
Hingga permainan itu berakhir dengan Zefan ambruk di sebelah Iva sedangkan Iva sudah tertidur duluan saat adegan panas itu berakhir.
"Makasih Zi, istirahat lah," Mengecup kening Iva lama dengan nafas yang masih menggebu.
Tidak sia sia dia menunggu semalam jika ini yang di dapat.
Sarapan pagi sama yang nikmat dan berbeda dari biasa.
Zefan mah jahat istri tuh di kasih makan dulu baru di makan.
\=\=\=\=\=
Udah sampai di situ aja ya, kepala author mutar mutar pas lagi nulis adegan ini.
jangan lupa dukungan ok😘👌
Tbc.
__ADS_1