
Sepulang dari mengantar Zio ke Sekolah, Ziva pergi ke rumah orang tuanya.
Jaraknya tidak terlalu jauh hanya menempuh waktu sekitar kurang dari satu jam.
Sampai di rumah orang tuanya, Ziva langsung masuk ke dalam mencari keberadaan pasangan paruh baya itu.
"assalamu'alaikum Pa ma," Sapa Ziva menghampiri keduanya yang lagi duduk bersantai di halaman belakang sambil menikmati suasana pagi yang cukup cerah.
"Wa'alaikumsalam, Kayaknya ada wajah wajah bahagia ma?" Melihat anak perempuan satu satunya datang sepagi ini ke rumah mereka tidak seperti biasanya.
"Iva kan selalu bahagia tiap hari pa, papa lupa ya.
Asalkan kedua kesayangan Iva selalu sehat Iva udah bahagia," Celetuk Ziva duduk di antara keduanya.
"Ada apa sayang? pagi pagi udah datang?" Tanya sang mama Ila yang sudah tau kebiasaan anak perempuannya itu.
"Mama yang paling tau Iva, ngak kayak papa," Memeluk mama Ila dengan sayang.
"Papa juga mengerti kamu loh sayang, jangan lupa itu?" Balas papa cemburu yang tidak dapat pelukan merasa di sisihkan.
"Mengerti apa pa?" Heran Ziva.
"Mengerti kalau sampai sekarang kamu masih jomblo," Kekeh papa Syakil yang tau sampai sekarang anak perempuan satu satunya itu belum punya pendamping.
"Kata siapa?" Tanya Ziva.
"Lah udah punya pasangan, siapa sayang.
Papa kira belum, kalau belum mau papa jodohkan?" Senang papa yang mendengar anaknya sudah ada pasangan.
"Ada deh, papa kepo ya.
Ingat pa, orang banyak tau akan membuat kita banyak fikiran dan tidur tak nyenyak serta keriput bertambah," Ledek Ziva yang belum melepaskan pelukan itu.
"Papa ngak keriputan ya, liat papa masih kuat dan masih bisa mengasih kamu adik satu lagi," Kata keramat itu yang malas Ziva dengar dan termasuk salah satu jurus membuat Ziva bungkam.
"Ma, Iva ngak mau punya adik," Adu Ziva pada mama Ila.
"Ngak bakal sayang, kalau mama ngak mau emang papa sama siapa buatnya.
Emang masih ada orang yang mau sama papa, papa dapat mama aja itu suatu keberuntungan sama papa," Sang istri ikutan meledek suami tercintanya.
"Mama jangan salah ya, gini gini masih banyak yang mau sama papa," Bela papa pada diri sendiri sebab tidak ada yang memihak sama dia, kasian si papa sini biar author saja yang bela tapi bayar ya.
"Coba aja kalau papa berani, itu kran air ngak bakal berfungsi lagi," Ancam mama dan reflek papa merapatkan kakinya.
"Udah kenapa jadi ladek papa sih.
Sekarang jawab siapa laki laki yang bisa buat anak papa sebahagia ini?" Aura wajah Ziva sejak datang tadi berbeda dari hari biasa dia datang.
"Yakin papa pengen tau? pasti papa ngak bakal percaya," Ucapan Ziva membuat mereka semakin ingin tau dan menerka di otak.
"Iyalah, siapa orangnya.
Polisi, abdi Negara seperti abang, dosen, dokter atau bule?" Lah si papa bertanya atau mengabsen kenapa semua di sebut.
Lagian semua yang di sebut tidak ada satu pun yang benar.
"Yah salah, coba apa tebak lagi," Lah malah main tebak tebakan sekarang.
"Ngak mau, kita bukan lagi kuis ya.
__ADS_1
Ayo cepat kasih tau sebelum jari papa bertindak," Sekarang malah main ancam segala tak asik.
"Pengusaha ya sayang," Tebakan mama Ila sekali tebak langsung benar.
"Seratus buat mama dan hadiahnya minta sama papa," Tadi tidak bilang ada hadiah, kalau ada author juga mau ikutan pasti menang ( iyalah menang, kan kamu sendiri thor yang buat).
"Kok malah minta hadiah sama papa," Kaget papa yang mana tadi tidak bilang ada hadiah.
"Kan papa kalah, tapi Iva sedikit takut ma pa," Lesu Ziva yang ada sedikit ketakutan dalam dirinya.
"Takut kenapa, dia jahat atau kasar sama kesayangan mama papa," Tidak mau anaknya punya pasangan seperti yang dia sebutkan.
"Bukan itu tapi dia belum tau siapa Iva sebenarnya," Jelas Ziva singkat.
"Kalau dia beneran suka pasti bakal mengerti nanti sama alasan kamu sayang dan bakal menerima.
Terus Zio bagaimana apa Zio bisa dekat sama dia?" Ini salah satu alasan mereka tidak sembarangan mencarikan Ziva pasangan sebab yang terpenting selain bisa menerima status Ziva harus bisa juga menerima kehadiran Zio di antara mereka.
"Kalau itu," Jeda Ziva ingin melihat ekpresi mereka berdua.
"Kenapa? apa dia ngak bisa menerima Zio kita? apa dia ngak suka anak kecil? apa dia cuma suka sama kamu?.
Mama tau ini semua ngak mudah buat kamu jalani sayang, jangan paksa dia buat suka Zio sebab suatu hal yang di lakukan dengan terpaksa maka hanya di depan kamu saja dia menerima Zio namun ngak di belakang kamu," Ujar mama Ila panjang lebar, ini yang dia takutkan cucu menggemaskan mereka sulit di terima orang.
"Mama ngomong apaan? mama mikirnya kejauhan tau ngak.
Siapa bilang dia ngak suka Zio? bahkan sekarang aja Zio lebih milih dia di banding Iva.
Sekarang Iva di nomor duakan sejak kenal dia dan bahkan pulang Sekolah aja dia sering jemput Zio ke Sekolah," Jelas Ziva panjang lebar.
Merasa Zio lebih membutuhkan Zefan di banding dirinya yang sebagai Ibu Zio.
Kalau begini mereka sedikit lega karena masih ada orang yang punya hati tulus.
"Kalau papa mama ngak percaya, datang aja nanti siang ke Sekolah Zio.
Sekalian Iva titip Zio ya, Iva ada urusan nanti mbak Rara juga ada," Lanjut Ziva.
"Kamu mau kemana sayang?" Tanya papa, dan felling mereka sudah ada sebab dengan kedatangam Ziva pagi pagi.
"Biasa pa, ada yang ngajak main," Dari ucapan Ziva mereka sudah langsung mengerti.
"Sekarang jawab siapa laki laki itu?" Ziva kira sudah lupa tapi masih di tanyakan.
"Yakin mau tau?" Langsung saja mereka menganggukkan kepala.
"Pimpinan Arta Company,'" Jawab Ziva santai.
"Kamu serius sayang?" Pertanyaan macam apa itu, Ziva bukan perempuan halu yang suka mengahayal tinggi.
"Sejak kapan Iva suka bohong?" Kayak Ziva tidak ada kerjaan saja.
"Iva pamit dulu pa ma.
Iva belum pamit juga sama dia, assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam," Jawabnya kompak.
Ziva pergi menuju kantor Zefan buat pamitan, ini harus jadi kebiasaan Ziva sebelum pergi agar Zefan tidak cemas dan mencari nanti ketika dia tidak ada rumah.
Setelah menempuh perjalanan cukup lama Ziva sampai di kantor Zefan dan dia menghampiri meja resepsionis.
__ADS_1
"Selamat pagi mbak, pak Zefan ada?" Tanya Ziva dengan ramah.
"Sebentar Saya hubungi dulu, kalau boleh tau sama mbak siapa?" Tanya resepsionis pada Ziva.
"Bilang aja Ziva mau bertemu," Jawab Ziva.
Lalu resepsionis itu menelpon buat memberi tau kedatangan Ziva.
"Silahkan mbak langsung naik aja, bos ada di ruangan,"
" Makasih mbak," Lalu Ziva melangkah menuju lift dan mengantarkan pada lantai ruangan Zefan.
"Pagi mbak, mas Zefan ada?" Tanya Ziva pada sekretaris Zefan.
Panggillan Ziva bedakan sebab cuma sekretaris Zefan yang tau hubungan mereka.
"Ada mbak, silahkan masuk," Menjawab dengan ramah juga.
"Makasih ya,"
**Tok,,,
Tok**,,,,
Setelah dapat jawaban dari dalam Ziva membuka pintu dan masuk.
"Mas," Sapa Ziva yang melihat Zefan sibuk sama laptopnya.
"Sini duduk Zizi, ada apa pagi pagi udah datang kesini, kangen hm?" Tidak begitu juga kali Fan.
Mana ada kangennya kalau hampir tiap hari bertemu.
"Ngak lah mas, Iva ke sini mau izin sama mas eh bukan izin tapi mau ngasih tau kalau nanti Iva ada keperluan dan pergi buat beberapa hari," Ucapan Ziva sontak membuat Zefan mengalihkan pandangan pada Ziva sepenuhnya.
"Kamu mau kemana Zizi? berapa hari?" Kaget Zefan, dan ada rasa tak rela harus berpisah walau hanya beberapa hari saja.
"Ke Negara Y mas, belum tau berapa lama disana," Jawab Ziva pelan, sebab sudah menebak akan respon Zefan akan seperti ini.
Menghela nafas pelan.
"Baiklah, hati hati di sana dan hubungi mas terus nanti ya, kesini," Mengisyaratkan agar Ziva mendekat.
Dengan patuh Ziva berjalan ke kursi kebesaran Zefan.
GREEEPPP,,,
Menarik tangan Ziva saat sudah dekat dan alhasil Ziva langsung terduduk di pangkuan Zefan.
"Mas ini apa maksudnya?" Ini pertama kali Ziva duduk di pangkuan Zefan dan sedekat ini.
Tanpa menjawab pertanyaan Ziva, Zefan langsung menubrukkan bibirnya dan bibir mereka langsung bertemu dan terjadi ciuman panjang di antara mereka berdua.
Ini kali keduanya terjadi ciuman panjang di antara mereka dan Ziva sudah mulai membalas setiap ******* yang Zefan berikan.
Setelah beberapa menit pagutan itu terlepas dan mereka menghirup udara sebanyak banyaknya.
"Untuk semangat mas selama Zizi pergi, makasih," Mengecup sekilas bibir Ziva lagi.
\=\=\=\=\=
Tbc.
__ADS_1