My Handsome Daddy

My Handsome Daddy
Sarapan Pagi.


__ADS_3

Pagi hari saat jam baru menunjukkan pukul setengah enam pagi, mata gadis cantik itu terbuka karena mendengar suara dari ponselnya.


"Hah ini beneran? apa dia udah mulai suka sama aku," Terlonjak kaget mendapat pesan dari seseorang yang membuat dia berasa terbang ke awan.


Pagi pagi dapat chat seperti itu, dari mata yang mengantuk langsung hilang seketika rasa ngantuk itu yang tinggal hanya rasa senang.


Berlari keluar kamar menuju kamar mamanya buat menunjukkan sesuatu yang menurutnya itu penting.


Tok,,,


Tok,,,


Pintu yang di ketuk terbuka menampilkan perempuan paruh baya yang masih menggunakan piyama tidur.


"Mama liat Zefan ngechat aku buat di bawakan sarapan, aku harus masak apa ma?" Senang Vani, ya mechat dia pagi pagi adalah Zefan yang meminta di bawakan sarapan pagi.


"Emang kamu bisa masak?" Itu bukan pertanyaan tapi lebih menjurus pada cemoohan.


"Yah kan tinggal bilang bibi ma," Balas Vani yang pada kenyataan tidak bisa memasak tapi kalau soal menghamburkan uang dia ratunya.


"Ngak usah bilang bibi, mending pesan di restaurant langganan kita aja," Usul mamanya yang di terima baik oleh Vani.


"Iya ma, aku pesan dulu dan siap siap,' Berlalu dari kamar sang mama.


" Semoga ini cepat berhasil, udah ada celah," Tersenyum kemenangan dan masuk kamar lagi.


Di kamar yang mewah itu, selesai mandi Vani sibuk mencari baju yang cocok buat di pakai ke kantor Zefan mengantar sarapan.


"Pakai baju apa ya?" Mencocokkan satu persatu baju dan sebagian isi lemari itu sudah berpindah tempat.


"Ini kayak nya cocok," Pilihan jatuh pada dress yang pendek hanya menutupi sebagian pahanya dan tanpa lengan.


Setelah di rasa pas, di langkahkan kakinya keluar kamar tidak lupa membawa tas kecil.


"Wah anak mama udah cantik aja," Puji mama yang melihat Vani turun dari lantai dua.

__ADS_1


"Iya dong ma, biar Zefan bertekuk lutut pada aku," Percaya diri Vani lagi di atas awan sekarang.


"Hati hati sayang, semoga berhasil," Memberi semangat.


"Iya ma pasti, bye ma bilang papa aku pergi dulu," Pergi keluar menuju mobil yang sudah berada di depan pintu dengan supir yang siap mengantar kemana saja.


Vani ini jarang menyetir sendiri lebih sering menggunakan supir pribadi.


"Silahkan nona," Membuka pintu dan Vani masuk tanpa sepatah kata.


Mobil melaju menuju restaurant tempat Vani memesan sarapan pagi, setelah dapat pesanan Vani meluncur menuju kantor Zefan dengan senyum yang tidak lepas dari wajah cantik itu.


"Sebentar lagi Zefan, hanya sebentar lagi kamu akan bertekuk lutut sama aku dan ngak bisa berpaling.


Liat aja seberapa kuat kamu menolak pesona seorang Vani yang tiada duanya," Terus tersenyum sampai sang supir sesekali melihat ke belakang melalui kaca yang ada di tengah mobil.


Jangan terlalu tinggi berharap nona, ntar jatuhnya sakit.


Sang supir hanya bisa membatin melihat tingkah Vani yang tidak berhenti tersenyum.


Hingga mobil itu tiba di depan labi kantor Zefan, Vani keluar dengan menenteng sarapan tadi.


"Sudah buk, dan tadi juga sudah berpesan di suruh langsung naik ke atas," Jawan resepsionis ramah.


Vani berlalu tanpa mengucapkan terima kasih dan berjalan menuju lift petinggi perusahaan.


Lift bergerak menuju lantai teratas dan sampai tujuan.


Vani keluar menuju ruangan Zefan tanpa permisi sama sekretaris Zefan yang lagi duduk hanya melewati begitu saja.


Sabar, kalau orang kaya emang ke banyakan gitu untung bos ngak.


Sang sekretaris hanya mengusap dada pelan sambil menggeleng melihat ada orang yang melintasi mejanya.


Bahkan karena melihat siapa yang keluar dari lift, sekretaris itu sampai lupa buat menyapa.

__ADS_1


"Pagi Fan," Masuk ke dalam dan menyapa Zefan.


Zefan sudah datang sejak lima belas menit yang lalu karena tidak mau keduluan sama Vani.


"Pagi, duduk Van," Pinta zefan melangkah menuju sofa dan duduk berhadapan.


"Ini aku bawain pesanan kamu," Membuka kotak sarapan itu dan menyajikan di depan Zefan.


Zefan yang melihat itu menyerngitkan kening, kalau di lihat dari tampilan sudah menggugah selera tapi bagaimana rasanya.


"Makasih," Zefan mulai makan tanpa banyak bicara.


Vani hanya jadi penonton saja yang Zefan lagi makan, bahkan dia lupa kalau belum sarapan juga.


Karena kesengan tadi dia melupakan sarapan dan langsung pergi.


"Bagaimana Fan?" Kalau hasil restaurant sebenarnya tidak perlu di pertanyakan lagi sebab rasa dan kwalitas sudah terjamin.


"Enak, kamu pintar juga masak ya," Puji Zefan setelah selesai makan dan minum.


"Iya lah enak, aku pesan di restaurant langganan kami," Jawaban Vani membuat Zefan terdiam sejenak dan cepat mengembalikan ke ekpresi awal.


"Kalau kamu mau besok aku bawakan lagi," Merasa senang sarapan yang dia bawa di makan habis.


Anak Sekolah dasar juga bakal habis itu makanan kalau di beli di restaurant mahal.


Tidak perlu bangga juga kalau bukan dari hasil masakan tangan sendiri.


"Ngak usah, makasih.


Aku mau lanjut kerja lagi, kamu boleh pulang," Secara halus Zefan mengusir Vani sebab dia merasa kecewa sama Vani.


"Iya, aku pulang dulu kamu semangat kerjanya," Vani keluar dari ruangan Zefan sama dengan tadi melewati begitu saja sekretaris Zefan.


"Ini yang mama mau jadikan calon menantu," Kesal Zefan dan melanjutkan pekerjaan yang sedikit tertunda.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Tbc.


__ADS_2