My Handsome Daddy

My Handsome Daddy
Diam Diam.


__ADS_3

Setelah pernyataan cinta Satyia dan Rara menerima Satyia maka kini mereka tengah menjalin kasih sebagai sepasang kekasih dan belum mau kalau hubungan mereka banyak orang tau hanya orang terdekat saja.


Rara belum siap akan semua hal kalau banyak mengetahui hubungan mereka dan mengganggap kegiatan Rara selama kuliah.


Dengan berat hati Satyia menyetujui permintaan sang kekasih agar hubungan mereka di sembunyikan dulu seperti selingkuhan saja fikir Satyia.


Hah, di sembunyikan berasa takut ketahuan kekasih beneran saja padahal sebelumnya mereka sama sama jomblo.


Sudah menjadi resiko Satyia berpacaran sama mahasiswa sendiri dan harus dia terima dengan lapang dada.


Usia mereka tidak terlalu jauh terpaut usia mereka hanya lima tahun saja bukan termasuk dalam kategori pedofil bagi Satyia.


Siang nya saat jam istirahat hp Rara berbunyi dan melihat siapa yang menghubungi.


Sayang nanti pulang kuliah sama kakak ya ikut kerumah mama mau bertemu.


Kira kira seperti itu isi pesan yang Rara baca dan segera membalas.


Iya kak, tapi ngak bisa lama ya.


Balas Rara yang tidak mau keluyuran pulang kuliah sebab harus menjaga Zio karena pulang Sekolah Zefan mengantar pulang bukan membawa ke kantor seperti biasa.


"Ra pulang kuliah kita jalan bentar yuk," Ajak sahabat Rara sebab mereka sudah lama tidak jalan bersama.


"Maaf ya, hari ini Rara udah ada janji.


Besok aja gimana, janji besok deh," Sebenarnya tidak enak menolak hanya saja sudah terlanjur janji duluan sama dosen tampan itu dan tidak mungkin di batalkan lagi sebab dia yang duluan ngajak.


"Yah telat deh, kenapa ngak bilang sih," Gerutu sahabat Rara sebab gagal jalan dan memasang wajah cemberut.


"Kamu nya ngak bilang dari awal.


Besok deh janji beneran," Membujuk sahabat yang mau menerima dia sejak awal pertama masuk kesana dan sampai sekarang hubungan mereka masih terjalin dengan baik.


"Iya juga yah, udah ah besok awas kalau ngak jadi lagi,"


Mereka menuju kelas sebab sebentar lagi kelas akan di mulai.


Selama pelajaran berjalan dengan lancar tanpa gangguan hingga jam pulang.


"Yakin nih ngak mau aku antar?" Bertanya sekali lagi ingin mengantar Rara pulang.

__ADS_1


"Iya Rara di jemput sama mbak Iva sekalian mau lewat juga," Tolak Rara yang belum mau jujur kalau sebenarnya dia pulang sama Satyia bukan di jemput Rara.


Bagaimana nanti reaksi sahabatnya itu kalau mereka berdua telah diam diam menjalin hubungan.


Bagaimana juga kalau satu kampus tau akan seperti apa hari hari Rara nanti di kampus.


Rara menunggu Satyia di dekat persimpangan jalan yang jarang di lewati mahasiswa pulang kuliah.


Lima menit menunggu akhirnya Satyia datang, segera Rara naik mobil itu sebelum ada yang melihat Rara pulang sama Satyia.


"Berasa jemput selingkuhan," Ucap Satyia saat Rara sudah duduk di samping nya.


"Maaf kak ya," Sesal Rara yang tau maksud Satyia bicara gitu.


Rara hanya belum siap dan fokus sama kuliah hingga selesai.


Rara hanya ingin menjalani masa kuliah seperti yang lain tanpa masalah.


"Iya kakak ngerti, nanti saat selesai kuliah kamu harus siap hubungan kita di ketahui orang banyak.


Ngak mungkin selamanya kita seperti kucing kucingan kan," Jelas Satyia yang harus bersikap dewasa menanggapi Rara tapi bukan Rara tidak dewasa ya hanya saja dia ingin yang terbaik saat ini.


Menjaga perasaan tidak ada dalam kamus Rara seperti itu, demi menjaga perasaan mau menerima Satyia justru itu akan semakin menyakiti perasaan Satyia nanti.


Rara hanya menghela nafas pelan tidak mau menjawab atas dugaan yang Satyia lontarkan dan merasa tidak perlu di jawab.


"Kenapa diam? apa benar seperti itu?" Sudah tidak perlu di jawab biar dia berfikir sendiri dan tau bagaimana perasaan Rara selama mereka bersama.


"Ra," Panggil Satyia sebab Rara diam saja.


"Rara," Panggil Satyia dengan sedikit meninggikan suara sebab dia tidak suka di abaikan.


"Kakak bukan anak kecil yang segala nya harus di duga duga.


Kakak bukan anak kecil yang tidak bisa membedakan aku selama ini.


Kalau kakak berfikir aku hanya ingin menjaga perasaan kakak, kakak salah buat apa aku melakukan itu hanya buang waktu aja.


Waktu ku berharga kak bukan untuk main main apa lagi sebuah perasaan bukan sebuah untuk di permainan," Antara kesal atau pengen nyubit Rara terhadap Satyia yang katanya dosen cerdas tapi terlihat bodoh sekarang.


Satyia kini tertegun sama ucapan Rara, dia merasa bodoh kenapa sampai melontarkan pertanyaan bodoh tadi.

__ADS_1


Bodoh karena sempat meragukan perasaan Rara pada dirinya.


Bodoh sebab dia tidak mengerti Rara padahal selama ini menerima semua alasan Rara.


Sadar Satyia semua perempuan mau di mengerti dan pahami perasaan dia.


Tapi bukan berarti kaum perempuan egois ya hanya ingin di mengerti dan tidak mau mengerti.


"Maaf Ra, kakak sempat ragu sama kamu," Jujur Satyia yang mengaku salah sebab laki laki jantle harus mau mengaku salah dan minta maaf.


Rara tersenyum mengerti dan tidak lama mereka sampai rumah orang tua Satyia.


Satyia turun di ikuti Rara dan jalan beriringan masuk ke dalam.


"Assalamu'alaikum," Salam keduanya serentak sebelum masuk ke dalam.


"Wa'alaikumsalam," Jawab seseorang dari arah dalam.


"Wah calon mantu mama datang, sini masuk sayang mama udah kangen sama kamu," Mengajak Rara duduk dan membiarkan Satyia begitu saja.


"Ini fiks aku bukan anak mama," Kesal Satyia dan berjalan menuju kamar buat membersihkan diri dan ganti baju.


Sedangkan dua orang itu cuek saja padahal mendengar apa yang di ucapkan Satyia.


"Maaf ya ma akhir akhir ini tugas kuliah banyak jadi belum sempat mampir," Rara sudah di suruh memanggil mama sama seperti Satyia.


"Ngak apa sayang mama ngetik kok," Sebagai alumni kampus juga mama pasti mengerti bagaimana banyak nya tugas kampus yang harus di kumpulkan tepat waktu syukur syukur dapat dosen baik lah kalau galak kan tidak ada toleransi.


"Sekarang kita makan yuk, mama udah masak buat kamu," Mengajak Rara menuju meja makan yang mana di sana sudah ada makanan yang tersaji.


"Mama ngak harus repot repot masak, kan Rara jadi ngak enak," Merasa tidak enak hati sebab di jamu seperti ini.


Baru calon menantu saja sudah sangat di sayang seperti ini bagaimana kalau sudah jadi istri Satyia nanti, semoga akan selalu seperti ini doa Rara dalam hati.


"Kan belum di coba kenapa bilang ngak enak," Kekeh mama duduk di sebelah Rara dan mulai mengambil nasi.


"Fiks aku di anak tirikan," Satyia datang setelah selesai ganti baju dan melihat kedua perempuan tersayang nya makan tanpa menunggu dirinya.


\=\=\=\=\=


Bersambung👌👌

__ADS_1


__ADS_2