My Handsome Daddy

My Handsome Daddy
Cukup Serius.


__ADS_3

"Pa ma kenalin ini mas Zefan," Ingat Iva kemudian setelah duduk bergabung bersama dengan Zio yang tidak mau turun dari dekapan Iva.


"Barusan udah kenal sayang, kamu telat ngenalinnya," Sanggah papa dan Iva tersenyum malu.


Kalau bersama Zio lupa akan sekitar apa lagi mereka berpisah cukup lama, maklum bocah itu paling anti di tinggal Iva apa lagi jauh kalau Zio tau pasti minta ikut bukan melarang Iva pergi.


"Maaf Iva telat ya,"


"Zio duduk sama opa dulu ya, mozi mau bikin minum buat daddy dulu," Mau menurunkan Zio tapi dapat penolakan.


"No mozi biar daddy ambil sendiri," Bagaimana pula cerita nya tamu bikin minum sendiri, sejak kapan pula seperti itu aturannya.


"Sebentar aja tampan," Bujuk Iva.


"No mozi, mbak Rara," Panggil Zio pada Rara yang kebetulan lewat.


"Iya Zio kenapa?"Sapa Rara menghampiri mereka yang lagi ngumpul sebab Rara baru pulang kuliah.


" Kakak udah pulang," Menyalami Iva yang mana gadis itu juga kangen sama Iva sama seperti yang lain.


"Udah mbak, mbak sehat kan.


Iva dengar ada yang lagi dekat sama dosen nya," Goda Iva dan membuat Rara terdiam serta teringat kejadian malam itu.


"Ah ngak mbak cuma bantu aja ngak lebih," Kilah Rara yang masih belum percaya sama apa yang telah terjadi.


"Bantuin, kakak tau papa lo papa ngak bakal izinin anaknya hanya buat hal ngak penting," Rara tertegun sama ucapan Iva, apa mungkin iya fikir Rara.


"Udah kak, Rara ngak mau mikirin itu yang penting fokus kuliah," Kilah Rara yang kini perasaan gadis itu ini sedikit ragu sama dosen idola itu.


"Sekalian kan ngak apa, kakak dukung lo," Goda Iva lagi yang suka melihat wajah Rara tersipu malu.


"Zio mau apa panggil mbak tadi?" Alih Rara yang tidak mau membahas tentang dia lagi, lagian semua itu tidak jelas juga.


"Tolong buat minum untuk daddy ya mbak, Zio juga ya he he," Heh anak kecil ngak sopan menyuruh orang besar untung sayang dan menggemaskan.


"Bentar ya mbak tarok tas dulu," Pamit Rara pergi ke kamar menarok tas dan pergi ke dapur buat membuat pesanan tuan muda kecil itu.

__ADS_1


"Silahkan kak, tuan muda kecil," Rara datang membawa minuman serta cemilan sebagai pelengkap.


"Mbak seharusnya ngak usah turuti mau Zio," Bela Iva yang merasa tak enak atau Iva lupa kalau Rara itu bekerja disana.


"Ngak apa kak kan Rara kerja disini," Cukup tau diri sama peran dia berada di sana.


Lagian cuma buat minum tidak berat juga jadi apa salahnya coba.


"Makasih mbak Rara," Ucap Zefan yang merasa kagum sama Rara sejak awal bertemu mau bekerja apa saja buat bertahan hidup di kota besar itu.


"Jadi nak Zefan udah berapa lama menjalin hubungan sama iva?" Tanya papa pura pura tidak tau padahal jauh hari udah Iva kasih tau.


Dasar papa Syakil saja yang kepo pengen tau langsung sama yang bersangkutan.


"Baru beberapa bulan ini om," Jawab Zefan yakin dan mantap.


"Kamu serius sama Iva kan?" Tanya papa lagi.


"Saya serius om," Tidak ada keraguan dalam setiap jawaban Zefan berikan.


"Kamu tau kan Iva udah punya anak dan ngak sendiri lagi? kamu juga udah tau apa konsekwensi menjalin hubungan sama perempuan yang udah punya anak mengingat kamu seorang pemimpin perusahaan besar," Dengan mengetes langsung papa akan tau seberapa serius pemuda yang duduk di depan nya itu sama anak gadis satu satu.


"Iya itu salah satu resiko yang harus kamu terima dan mungkin masih ada yang lain atau bisa datang cobaan melalui orang lain," Tegas papa yang tidak mau putri kesayangan mereka tersakiti atau di benci keluarga suami nya kelak.


"Saya mengerti itu om, kalau mengenai tanggapan orang terhadap kami saya ngak peduli selama kami ngak merugikan mereka atau berbuat menyimpang.


Yang saya butuhkan hanya restu mama aja," Jelas Zefan secara rinci.


Dia hanya perlu restu mamanya bukan yang lain lagi, kalau masalah tanggapan orang akan Zefan abaikan selama masih tidak bertindak lebih.


Hubungan ini mereka yang jalani, asal bukan istri orang saja yang Zefan dekati jadi tidak masalah.


Toh mereka sama sama single dan tidak saling terikat.


"Saya mau jujur sama om, sebenarnya mama udah menjodohkan saya sama anak temannya tapi saya menolak sebab saya udah suka Iva duluan walau waktu itu kita belum saling kenal.


Maka dari itu saya harus memperjuangkan hubungan ini, saya menyukai Iva apa adanya bahkan awal ke rumah Iva saya mengira dia bekerja di sana," Jelas Zefan panjang lebar seketika papa Syakil berdiri dari duduknya.

__ADS_1


"Apa kamu bilang, anak saya pembantu, coba kamu lihat baik baik apa ada tampang dia sebagai pembantu hah.


Lagian kalau dia jadi pembantu maka majikan dia ngak bakal berani gaji sebab biaya perawatan dia lebih mahal dari gaji pembantu," Dari sekian panjang ucapan Zefan hanya kata jadi pembantu yang nyangkut di pendengaran papa Syakil.


Orang tua mana yang tidak marah, anak mereka yang cantik tiada dua itu di anggap pembantu.


Lagian Zefan ada ada saja.


"Maaf om kan saya ngak tau waktu itu," Sesal Zefan memasang wajah menyesal.


"Terus bagaimana perempuan yang di jodohkan sama kamu? apa kamu mau pilih dua duanya," Stop pa berfikir gitu.


Lagian siapa juga yang mau di madu coba.


"Ya," Langsuydi potong papa Syakil.


"Iya kata kamu," Makin naik darah mendengar kata iya yang Zefan ucapkan.


"Ya ngak lah om, saya cuma mau sama Zizi aja," Pusing deh sama calon mertua fikir Zefan.


Jangan percaya diri dulu Zefan kan belum tentu di restui.


"Zizi? siapa lagi itu? berapa banyak perempuan kamu?" Tuh kan salah lagi Zefan nya.


Sabar ya Zefan, orang tampan harus banyak sabar.


"Zizi itu panggillan sayang saya buat Iva om," Seperti nya Zefan mulai sekarang harus bicara jelas agar tak salah paham lagi.


"Bilang dari tadi," Bukan tidak mau bilang papa mertua tapi di potong terus dari tadi.


Lah papa mertua di restui juga belum, calon saja masih ragu apa lagi nikah udah panggil papa saja.


Mereka yang ada disana hanya jadi pendengar setia saja, lagian papa ada ada saja orang belum selesai bicara sudah di potong.


Papa tidak tau saja apa yang sudah Zefan lalui buat bisa bersama Iva dan tidak mungkin menyerah atau menyakiti Iva begitu saja.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Bersambung wokey,,,, ,


__ADS_2