
"Mas antar Iva pulang ya," Pinta Iva yang tak mau lebih lama lagi bersama Zefan hanya berdua saja.
Bisa gawat dan kebablasan yang ada, sebab manusia normal sudah pasti mereka punya nafsu dan apa lagi bersama orang yang di sukai bisa saja setan membisikkan sesuatu hingga mereka melakukan lebih.
"Mas masih kangen Zizi," Merengek seperti Zio yang tidak mau di tinggal.
Kalau kangen yang di bahas, Iva juga masih kangen tapi tidak berdua an juga seperti ini bisa bahaya.
"Tapi Iva takut Zio nyariin mas," kilah Iva agar cepat bebas dari ruangan itu yang semakin lama terasa beda udaranya.
"Kan Zio belum tau kamu pulang sekarang," Bisa aja ngelesnya Zefan.
"Iya sih," Tidak tau mau cari alasan lagi dan beruntung.
Ting,,,
Bunyi pesan masuk dari hp Iva dan dia melihat siapa pengirimnya.
Ternyata sebuah video yang di kirim ke hp Iva.
"Tuh mas baru aja di omongin udah nongol aja," Menyodorkan hp pada Zefan dan memperlihatkan isi video itu.
"Lucu ya," Bukan kasian melihat isinya malah di bilang lucu, emang lagi ngelawak.
"Itu lagi nangis mas bukan lagi lawak," Ih bagaimana wajah tampan itu bisa jadi cemberut gitu kan jadi pengen nyubit.
Lagian siapa yang ngasih tau kalau diri nya sudah pulang atau sang abang yang menelpon mamanya hingga tau hari ini dia pulang.
Kan kasian wajah tampan Zio penuh air mata gitu, jadi ngak tega.
"Ntar lagi ya pulang nya," Ini bukan lagi ngak di pasar jadi ngapain pakai tawar tawar segala.
"Kasian Zio mas udah nangis gitu," Yang mengirim video tadi mama Ila dengan zio yang lagi nangis sambil memanggil mozinya yang tak kunjung pulang padahal sudah sampai beberapa jam yang lalu.
"Iya mas antar tapi ntar malam mas jemput ya," Lah bagaimana caranya nanti malam jalan lagi gitu.
Susah ya kayak anak ABG lagi pacaran aja.
"Ngak Iva kalau nanti malam mas, itu pun kalau Zio izinkan" Sebab udah tau kalau lama mereka berpisah bocah tampan itu selalu menempel sama Iva buat beberapa hari dengan alasan mengganti beberapa yang terlewat.
Makanya jarang Iva pergi jauh kalau tak terpaksa.
__ADS_1
"Besok pagi mas jemput, ngak ada penolakan.
Tunggu bentar mas mandi dulu," Beranjak menuju kamar buat membersihkan diri sebelum mengantar Iva siapa bertemu sama calon mertua juga.
Lah lagak calon mertua, bertemu aja kemarin itu cuma kebetulan.
Kalau iya di terima lah kalau ngak kan gigit jari di tolak plus malu udah pede bilang calon mertua.
Tapi berharap tak ada salahnya.
Lagian siapa juga yang mau menolak pengusaha sukses beberapa tahun belakangan ini, bahkan banyak yang mau menjadikan Zefan sebagai calon menantu hanya saja hati nya hanya tertuju pada iva.
Setengah jam berlalu Zefan keluar kamar dengan keadaan segar dan udah berganti baju.
"Yuk mas antar pulang," Melangkah mendekat Iva duduk.
"Mas rapi amat, abis antar Iva udah ada janji ya," Sengaja itu Va Zefan berpenampilan rapi, lupa apa mau ngantar tambatan hati.
"Ngak ada kok," Jawab Zefan singkat.
"Lah terus?" Masih belum paham sama penampilan Zefan yang bisa di bilang rapi, wangi dan jangan lupa ke tampanan Zefan bertambah berkali kali lipat.
"Kayak di terima aja," Cibir Iva berjalan dulu an ke luar di susul Zefan. Berjalan menuju parkiran dan mobil melaju ke rumah orang tua Iva buat menjemput Zio yang bisa di pastikan ngak akan bisa diam sebelum bertemu Iva.
Setelah beberapa saat mobil Zefan tiba di depan rumah orang tua Iva yang sangat sejak dan membuat siapa saja betah berlama lama di sana namun tidak buat Zio.
Bocah tampan itu paling ngak betahan berada di sana sebab dijadikan bahan mainan sama oma dan opa nya.
"Yuk masuk mas," Ini pertama kali Zefan datang kesana, ada rasa gugup melanda hati nya.
"Ayo mas, jangan gugup gitu kan bukan mau lamar Iva jadi santai aja," Menarik tangan Zefan yang sedari tadi tidak memberi respon sama sekali.
"Ah iya," Mengikuti Iva masuk kedalam.
"Assalamu'alaikum," Ucap keduanya saat melewati pintu masuk.
"Wa'alaikumsalam," Jawab suara dari arah dalam rumah, hingga.
"Mozi," Zio berlari me arah Iva dan malah Zefan yang menyambut alhasil Zio memberontak minta di turunkan.
"No daddy, Zio mau mozi lepas daddy," Tolak Zio yang masih berada dalam gendongan Zefan.
__ADS_1
"Kan daddy juga kangen Zio, emang Zio ngak kangen daddy?" Mencium pipi Zio dan malah membuat Zio makin berontak.
Ini mah ibaratnya beli permen dapat gula ya ngak nyambung gitu.
"Lepas daddy, mozi," Rengek Zio dan memanggil Iva berjalan menuju orang tuanya yang jadi penonton duduk di sofa.
Menyalami keduanya lalu duduk juga dan ikut menonton drama keduanya, lumayan kan gratis dan live kapan lagi coba.
"Gimana saya? semua lancar?" Tanya papa melihat Iva yang fokus pada lelaki tampan beda usia itu.
"Lancar kok pa dan Iva juga mampir ke rumah abang," Balas Iva melihat sekilas lalu memperhatikan Zio lagi.
Setelah berusaha keras akhirnya Zio terlepas dan berlari ke arah Iva serta memeluk erat.
"Mozi jahat, kenapa ngak langsung pulang? kenapa sama daddy dulu," Rajuk Zio yang masih bersikap manja dalam dekapan Iva.
"Kan mozi di jemput daddy tadi," Jelas Iva lembut.
"Kan bisa minta opa jemput mozi dan Zio bisa ikut.
Mozi ngak sayang lagi sama Zio?" Apa hubungannya jemput di bandara sama ngak sayang lagi, itu beda jauh tampan.
Jangan seperti anak kecil deh suka ngambek eh lupa kan emang masih kecil.
"Terus Zio mau apa sekarang, mau kita ganti aja daddy nya?" Goda Iva melihat Zefan yang sudah ikut duduk dan menyalami orang tua Iva.
Benar kata Zefan tadi siapa tau bertemu calon mertua dan ternyata beneran bertemu.
"No mozi, kalau di ganti nanti ngak se tampan daddy lagi," Tolak Zio menggeleng kuat menolak usulan Iva.
Biar begitu daddy Zefan sudah segala nya jadi tak perlu di ganti sama yang lain.
"Emang daddy tampan?" Mencium pipi Zio yang bulat itu dengan gemas.
"Tampan tapi lebih tampan Zio," Sama aja bohong kalau jadi nomor dua setelah Zio.
Memang ke tampanan bocah kecil itu tiada duanya.
\=\=\=\=\=
Bersambung wokey,,,,
__ADS_1