My Handsome Daddy

My Handsome Daddy
Triple.


__ADS_3

Orang tua Lisa masih terdiam mendengar cerita Lisa.


Itu baru sebagian bukan semua yang dia alami tapi rasanya sangat sesak.


Sesulit itu kehidupan anak nya sejak meninggalkan rumah.


Kenapa sebagai orang tua mereka begitu tega.


Seharusnya sebagai orang tua mereka menyemangati Lisa bukan malah menjatuhkan dengan mengusir dari rumah.


Bukannya keluarga tempat kita berlindung serta penguat bagi kita.


Tapi bagaimana kita akan kuat sedangkan penyemangat kita ikutan menyakiti.


Kalau di tanya kecewa, ya sungguh saat itu Lisa sangat kecewa dan juga sakit.


Tapi tidak bisa berbuat banyak, hanya bisa pasrah sama keadaan dan melanjutkan hidup sebab semua ini belum akhir segala nya.


"Maafin kami sayang," Bagai tersayat hati mereka, seharusnya tidak egois menyalahkan Lisa yang korban di sana.


Hidup kita tidak ada yang tau ke depan nya akan seperti apa.


Takdir tuhan sangat tidak terduga.


"Ini bukan lebaran ma, kok minta maaf terus.


Banyak stok maaf mama ya?" Canda Lisa.


Dia sudah melupakan semua kejadian itu.


Marah, tentu saja kala itu dia marah dan kecewa sama orang tuanya tapi sepenuhnya mereka tidak salah hanya saja tidak mau mendengar penjelasan Lisa saat itu.


Sakit serta derita yang dia alami dulu cukup jadi pelajaran saja agar ke depan nya tidak melakukan hal yang sama atau terjadi pada anak anak mereka kelak.


"Iya sayang, kami benar benar menyesali.


Setelah hari itu papa mencoba mencari mu di kota ini tapi tak ada jejak sama sekali seperti ada yang menyembunyikan," Tambah papa Lisa ikut bicara.


Sebagai kepala keluarga tidak bisa bertindak tegas.


Dulu mereka lebih mementingkan mengusir Lisa dari pada harus menanggung malu karena anak mereka hamil di luar nikah.


"Kalau papa sama mama bicara gitu lagi, Lisa pergi nih," Ancam Lisa yang malas membahas masa lalu yang sudah lama lewat itu.

__ADS_1


Kepulangan Lisa ikut sama orang tuanya semalam ingin melepas rindu bukan mau membahas masa lalu yang menyakitkan.


"Iya kami nggak bahas lagi," Mengalah saja dari pada momen ini berakhir dengan kepergian Lisa lagi.


Lisa keluar dari rumah itu masih ada rumah lain yang mau menampung dia tinggal.


Apa lagi sekarang orang tua bang Endra sudah merestui hubungan mereka jadi tidak sulit lagi Lisa akan kemana.


Rumah calon mertua ada, rumah orang tua Iva ada, rumah Iva sudah pasti dan juga ada apartment yang di belikan bang Endra jadi tidak perlu pusing mau tidur dimana.


Obrolan itu teralihkan dengan mengenang masa kecil Lisa yang dulu sangat mereka nanti kehadiran nya namun sayang Lisa tidak bisa punya saudara sebab rahim mama Lisa yang bermasalah.


Hingga siang menjelang.


"Gimana sekarang kita buat kue, udah lama kita nggak duel di dapur," Ajak sang mama yang dulu suka masak sama Lisa.


"Ide bagus ma biar papa yang jadi juri," Mengajak istri dan anak nya ke dapur.


"Papa bukan jadi juri tapi tukang makan," Balas Lisa senang.


Kasih sayang yang pernah hilang kini bisa dia rasakan lagi.


Perhatian orang tuanya, kekompakkan mereka serta kegaduhan papa nya yang suka mengganggu mereka masak.


Di kantor Zefan mereka lagi bersiap buat pergi makan siang berdua saja.


"Sepi ya mas nggak ada Zio?" Menyender pada Zefan yang lagi nyetir.


"Mau gimana lagi, Zio udah ada banyak yang punya," Zefan juga merasa kehilangan Zio di sisinya.


Yang biasa mereka selalu bertiga bahkan tiap siang selalu menjemput Zio pulang sekolah namun sekarang sudah jarang di lakukan.


Ada tiga pasang pasangan paruh baya yang selalu ada buat Zio, jika di ingat maka mereka hanya punya waktu satu hari sama Zio.


Apa lagi kalau Rara ambil bagian juga sebab sangat tidak mungkin karena Rara juga dekat sama Zio.


Maka hanya sisa satu hari buat Zio istirahat dari rebutan mereka semua.


Misal saja, senin orang tua Iva, selasa orang tua Zefan, rabu orang tua Lisa, kamis Iva Zefan, jum'at Lisa bang Endra, sabtu Rara Satyia dan minggu buat Zio istirahat.


Adil bukan.


"Udah jangan banyak fikiran sekarang fokus sama buat adik Zio aja," Itu sih maunya Zefan dan Iva hanya nurut aja mau gimana lagi nolak dosa nggak di tolak ke tagihan.

__ADS_1


"Itu udah pasti mas, tiap malam malah usahanya," Bukannya suami istri tidak beda jauh sifat mereka, ibarat kata suami cerminan istri.


"Jadi yang perlu Zizi lakukan adalah mengumpulkan tenaga buat nanti malam," Iya iya terserah.


Ngumpulin tenaga satu hari ngabisin cuma butuh waktu satu jam.


"Udah pasti mas," Hingga mobil Zefan memasuki parkir restauran tempat pertama kali mereka bertemu.


Iva memandang Zefan dengan tanda tanya.


"Mengenang masa kita bertemu dulu," Mengajak Iva turun lalu menggandeng masuk ke dalam.


Di tempat lain.


"Kalau kakak capek kita istirahat dulu ya, palingan satu jam lagi juga sampai," Usul Rara sebab sejak berangkat tadi mereka belum ada berhenti.


"Iya kakak juga mulai lelah, punggung tegang kayaknya," Mencari rest area buat istirahat.


Untung cuma punggung yang tegang, bukan yang lain.


Lanjut batin Satyia menepikan mobil.


"Sekalian kita makan ya yang, ini juga udah jam makan siang," Di sana juga ada tempat makan walau tidak mewah tapi cukup lah ya buat ngisi perut.


"Iya kak," Masuk ke dalam lalu memesan makanan buat mereka berdua.


Selesai makan mereka melanjutkan perjalanan lagi.


"Kakak gugup nggak mau bertemu orang tua Rara," Rara sudah mengabari orang tuanya kalau dia akan pulang hari ini dan juga tidak lupa bilang akan mengajak orang spesial.


"Sedikit tapi nggak apa," Ya siapa yang tidak gugup bertemu calon mertua, gugupnya takut tidak di restui dan malah di suruh berpisah.


Semua orang tua tidak sejahat mak Cinderella yang jahatnya minta di tenggelami ke empang.


"Kakak tenang aja, mereka baik kok semalam Rara juga udah bilang bakal ngajak orang spesial," Menenangkan Satyia yang terlihat biasa namun di dalam sudah berdebar.


"Kakak nggak apa yang, belum setegang ngadepin sidang skripsi," Memegang tangan kanan Rara.


Seolah meminta kekuatan agar tidak gugup saat sampai.


Perjalanan mereka tidak lama lagi hanya perlu waktu kurang dari setengah jam namun Satyia malah menahan gugup setengah mati saat jarak kian dekat.


Sudah jangan terlalu gugup, masa kalah sama Rara saat bertemu orang tua Satyia yang bisa menampilkan senyum manis.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Bersambung,,,


__ADS_2