
Sampai Negara tujuan Ziva pergi ke rumah yang akan dia tempati selama berada di sana.
Ziva ke sana menggunakan taksi sebab dia tidak mau di jemput, bukan tapi lebih tepatnya tidak mau merepotkan selagi tidak mendesak dan juga dia masih punya waktu.
**Tut,,,
Tut**,,,,
Ziva menghubungi Zefan dulu selama di perjalanan, bukan karena takut ancaman Zefan yang akan menyusul hanya saja dia ingin membiasakan diri memberi kabar sebab sekarang sudah ada orang yang mengkwatirkan dia kalau tidak ada kabar selian keluarga.
"Hallo assalamu'alaikum mas, Iva mau ngasih tau kalau udah sampai," ucap Ziva saat panggillan itu di angkat.
"Wa'alaikumsalam jaga kesehatan selama mas jauh," Pinta Zefan, yang sebenarnya jika di tanya maka Zefan berat membiarkan Ziva pergi jauh sendiri namun Zefan belum memiliki hak sepenuhnya atas diri Ziva.
"Iya mas juga jaga kesehatan ya, udah dulu ya Iva udah sampai penginapan dan mau istirahat dulu, assalamu'alaikum mas,"
"Wa'alaikumsalam,"
Panggillan itu terputus dan Ziva turun serta membawa koper tidak lupa membayar ongkos taksi yang di tumpangi.
"Non Ziva udah datang, mari bibi antar ke kamar," Pelayan di sana menyambut kedatangam Ziva sebab sebelumnya sudah di kasih kabar.
"Iya bik, makasih ya," Sampai kamar Ziva langsung membersihkan diri dan selesai merebahkan badan di ranjang.
"Ah lelah sekali, baru pisah sebentar aku udah kangen Zio aja," Mengambil hp lalu menelpon seseorang.
"Hallo,"
"Mozi jahat kenapa tinggalin Zio sendiri?"
"Sorry tampan, mozi ada urusan dan janji akan pulang cepat nanti,"
"No, Zio mau mozi sekarang,"
"Mozi jauh, kalau Zio cengeng seperti ini mozi ngak mau pulang nanti,"
"Sorry mozi, janji Zio ngak cengeng,"
"Sekarang tidur ya udah malam kan di sana,"
"Yes, mozi I love you,"
"Love you too tampan,"
Panggillan terputus, ini kenapa Ziva tidak memberi tau Zio kalau dia pergi dan juga bukan kali pertama Ziva pergi namun tetap saja Zio tidak bisa jauh dari dirinya dan sekarang sudah bertambah dengan Zefan yang tidak mau jauh juga dari dirinya.
Ziva merasa seperti punya dua anak yang sangat manja.
"Tidur dulu setelah itu jalan jalan sebelum besok sibuk,"
Memejamkan mata dan tidak butuh waktu lama Ziva sudah berkelana ke alam mimpi.
Satu jam berlalu, Ziva bangun dari tidurnya dengan keadaan segar dan segera mencuci wajah serta ganti baju.
"Bi nanti malam ngak usah masak ya, Iva mau makan di luar aja," Pinta Ziva sebelum keluar, takut nanti malah di masakin buat dia dan tidak ada yang makan kan mubazir.
__ADS_1
"Iya non," Bibi itu tinggal disana buat bersih bersih dan menjaga juga.
Dia tinggal bersama suami dan anak yang sudah kuliah seumuran sama Rara dan satu lagi masih SMA.
Ziva keluar jalan kaki saja untuk melihat sekitar sekalian mau cari makanan.
Hingga tanpa sengaja bertemu seseorang di Negara itu.
"Kalau jodoh memang ngak kemana ya, aku jauh disini aja masih kamu susul," Bisik seseorang ke telinga Ziva yang lagi asik melihat gerai oleh oleh.
"Kamu, ngapain disini?" Kaget Ziva melihat siapa yang berbisik barusan.
"Iya aku, Kenapa kangen ya?" Pede orang itu berdiri di samping Ziva.
"Ngak lah, percaya diri sekali anda," Cibir Ziva melanjutkan aksi lihat lihat.
"Kamu ngapain disini?" Sebab yang dia tau Ziva jarang pergi jauh bahkan keluar Negeri.
"Ada urusan," Jawab Ziva sekenanya.
"Bukan nyusulin aku karena kangenkan? atau kamu memang tau aku berada di sini.
Uh so sweet tau ngak makin sayang deh," Membelai kepala Ziva pelan namun sayang seseorang mengambil gambar mereka yang terlihat mesra itu.
"Ini akan jadi senjata buat memisahkan kalian," Sinis orang itu dan berlalu pergi.
"Hey tolong ya, dalam mimpi saja aku ngak mau merindukan kamu, udah sana jauh jauh," Usir Ziva namun bukannya pergi orang itu menarik Ziva menuju sebuah restaurant.
"Eh ini apaan main tarik aja, aku bukan sapi ya yang di tarik tarik," Kesal Ziva yang tidak suka di tarik.
"Udah ikut aja, kita udah lama ngak bertemu aku kangen sama kamu," Menuntun Ziva duduk dan memesan makanan tanpa bertanya terlebih dulu.
"aku ngak tuh dan awas sana aku mau pergi," Ziva mencoba berdiri namun tertahan.
"Plis sebentar aja," Lirih dia setengah memohon.
"Baik cuma setengah jam," Ujar Ziva memberi waktu dan Ziva tidak nyaman sama posisi sekarang.
"Sekarang makan dulu ya, aku udah lama ngak makan sama kamu," Makanan datang mereka makan dengan tenang.
Ziva makan dengan cepat dan ingin segera pergi dari sana.
Selesai makan.
"Bagaimana keadaan Zio?" Tanya dia yang ingin tau keadaan Zio.
"Tanpa aku jawab kamu pasti udah tau kan," Sinis Ziva yang mulai tidak nyaman.
"Maaf," Cuma satu kata itu yang bisa dia ucapkan.
"Kata maaf mu ngak akan mengembalikan keadaan seperti dulu," Kata maaf tidak sesimple kata yang terdiri dari empat huruf.
Kata maaf itu tidak bisa di gunakan sembarangan, kata maaf bukan sesederhana kata itu.
Kata maaf hanya pantas buat orang yang benar benar menyesal bukan memanfaatkan kata maaf yang ada.
__ADS_1
"Tapi aku benar benar menyesal,"
"Udah terlambat," Ziva pergi dari sana tanpa pamit dan tidak lupa membayar makanan yang dia makan.
Ziva tidak mau makan sembarangan yang di belikan orang.
"Segitu bencinya kamu sama aku," Lirih dia melihat kepergian Ziva tanpa bisa dia cegah.
šŗ
Di Negara lain seorang laki laki tampan sedang galau bin risau karena di tinggal sama pujaan hati padahal belum satu hari penuh.
"Ah bisa gila lama lama seperti ini," Menggusar rambut dengan kasar.
Sejak mengantar Ziva ke bandara tadi dia langsung pulang dan membersihkan diri.
Hingga makan malam dia lewati dan di antar sama asisten rumah tangga ke kamar.
"Dia lagi apa ya?" Mau menghubungi takut mengganggu lagian tadi baru telponan masa nelpon lagi.
"Disusul aja ya," Hey Zefan hanya beberapa hari ya bukan beberapa tahun jadi jangan terlalu berlebihan.
"Ah ngak, mau tarok di mana wajah tampan paripurna ini.
Udah tunggu pulang aja," Beranjak keluar kamar menuju ruang keluarga.
Disana lagi ada papa dan mama Zefan.
"Kenapa ngak keluar makan malam nak?" Tanya kanjeng ratu yang melihat anaknya yang tidak seperti biasa.
"Ngak apa ma, lagi capek aja," Alibi Zefan yang tidak mungkin bilang kalau dia lagi menahan rindu.
"Capek apa, kamu aja ngak kerja hari ini," Sang mama tau kalau Zefan tidak kerja sebab saat dia datang bersama calon menantu pilihannya ke kantor dan tidak menemukan Zefan di ruangan dan lebih mengejutkan kalau sekretaris Zefan bilang lagi pergi sama Ziva.
"Beneran aku capek," Alasan yang jelas jelas mamanya sudah tau kenapa anaknya tidak kerja.
"Bilang aka kamu lagi asik sama janda itu.
Zefan stok anak gadis masih banyak ya, kenapa harus janda itu menjadi pilihan mu," Bentak mama yang sampai kapan pun tidak akan menerima menantu dia seorang janda.
Lagian anak tampan, kaya, mapan dan seorang CEO malah harus dapat seorang janda apa kata orang orang nanti.
"Mama plis, kali ini aja hargai pilihan aku ma.
Selama ini aku juga nurut apa kata mama bahkan menggantikan abang memimpin perusahaan yang seharusnya bukan aku.
Jadi menurut mama siapa yang pantas buat aku," Zefan tidak mau berkata kasar membalas ucapan mamanya, biar bagaimana pun mamanya lah yang harus di hormati.
Dan buat abangnya yang pergi dari rumah bukan karena dia ingin jadi anak durhaka hanya ingin menghindar dari perdebatan yang tiada habisnya itu, makanya dia memilih jalan sendiri.
"Kalau kamu tetap ngak ninggalin dia maka mama sendiri yang akan bertindak,"
\=\=\=\=\=
Tbc.
__ADS_1