
Seketika Ziva langsung berdiri mendengar hinaan yang di lontarkan kepada dia dan pengunjung restaurant melihat ke arah mereka.
"Apa iya dia merebut kekasih orang?"
"Apa dia mau numpang kaya untuk menghidupi anaknya?"
"Liatlah? diakan pelayan,"
"Mungkin dia pakai pelet,"
Banyak cibiran yang menjatuhkan Ziva karena Ziva memakai celemek makanya mereka semua menganggap Ziva pelayan disana.
"Liatlah diri mu yang ngak pantas buat Zefan, kamu mendekati Zefan karena dia kayakan," Cerca perempuan itu yang tak lain adalah Vani.
Tadinya dia ingin bertemu temannya di restaurant itu nyatanya dia harus melihat Zefan duduk bersama pelayan dan makan bersama.
Hal itu membuat Vani geram dan berniat mempermalukan Ziva dan bisa dengan mudah mendapat Zefan.
"Jaga ucapan mu Vani, semua ini ngak seperti yang kamu lihat dan ingat saya ngak pernah menerima perjodohan ini," Tegas Zefan kepada Vani dengan sifat dan ucapan Vani yang sudah keterlaluan.
"Kamu lupa Fan? kalau tiga minggu lagi kita tunangan," Mengingatkan Zefan kembali pada rencana pertunanganan sepihak itu.
"Itu rencana kamu, kalau mau tunangan silahkan tapi bukan saya orangnya,"
"Zio masuk ke dalam dulu ya," Pinta Ziva yang di turuti Zio masuk ke dalam restaurant itu buat menghindari supaya Zio tidak melihat hal yang tidak sepatutnya di usia yang masih kecil.
"Kamu tunggu apa lagi ( menunjuk Ziva lagi) lebih pergi dari sini.
Zefan ngak pantas buat kamu," Dia yang terus berusaha mendekati Zefan malah orang lain yang mendapatkan.
"Kamu yang seharusnya pergi Vani bukan Ziva," Bela Zefan mengusir Vani dari hadapan mereka berdua.
__ADS_1
"Zefan ini aku calon tunangan kamu, masa kamu lebih membela perempuan murahan ini," Mendekat ke arah Zefan dan bergelayut manja.
"Lepas( melepas pegangan tangan itu) jaga sikap kamu jangan seperti perempuan penggoda ini," Bentak Zefan tidak mau asal di pegang orang yang tidak dia suka.
"Kamu keterlaluan Fan, aku akan bilang sama tante," Tidak terima di permalukan di depan orang banyak dan pergi dari sana sebelum lebih malu lagi.
Kini tinggal Zefan dan Ziva berdua disana. Ziva tidak banyak karena merasa itu bukan urusannya dan juga tindakan Vani tadi tidak melewati batas yang terpenting asal Zio tidak apa apa maka Ziva masih bisa bersikap tenang.
Lain yang akan terjadi jika anak kesayangannya terluka minimal tergores maka tidak akan ada ampun buat orang itu, apa lagi mendapatkan hinaan dari orang lain.
Permata yang dia jaga tidak pernah di biarkan satu orang yang berniat jahat atau memisahkan mereka.
"Maaf Va, aku bisa jelaskan," Suasana mereka berdua sunyi tidak ada yang mengeluarkan suara.
"Maaf buat apa mas?" Ziva merasa Zefan tidak salah atau menyakiti dia.
"Apa yang terjadi barusan, yang Vani bilang tadi ngak benar.
Zefan tidak mau, dengan kehadiran Vani usaha Zefan buat lebih dekat lagi sama Ziva akan berantakan dan bisa lebih parahnya Ziva menjauhinya dan Zefan tidak mau itu terjadi.
"Ngak apa mas, kita juga ngak punya hubungan jadi mas santai aja,"
Walau hati ini sedikit sakit mendengar kata kata dia yang mengatakan kalau kalian akan bertunangan.
Selama perkenalan kita aku sudah terlanjur nyaman sama kamu tapi aku juga ngak boleh egois.
"Ngak Va, kamu harus tau semuanya, mas serius sama kamu buat dekat lagi.
Buat dia mas akan urus secepatnya dan satu mas minta jangan menjauhi mas karena dia.
Mas sudah terlanjur suka sama kamu apa lagi Zio, mas ngak bisa kehilangan kalian berdua," Keseriusan terpancar dimata Zefan yang memandang Ziva.
__ADS_1
"Iva ngak bakal menjauhi mas kok tenang aja, Iva juga ngak tega harus memisahkan Zio dari mas yang selama ini juga sudah sangat menyayangi Zio, tapi satu Iva minta jangan bawa Iva dalam masalah kalian kalau ngak jangan salahkan Iva bertindak lebih," Ziva tidak mau di bawa bawa dalam masalah yang bukan dia sumbernya atau di kaitkan.
Ziva bisa bertindak lebih diluar fikiran orang jika sudah terlalu sering di usik.
Dia bukan tipe orang yang terlalu sabar bukan seperti pemain film yang pemeran baiknya akan selalu sabar jika dijahati atau hanya akan menangis.
Bukan, bukan itu diri Ziva, diamnya Ziva bukan berarti mengalah tapi diamnya Ziva lagi mengirim kejutan buat orang yang mwngusik ketenangannya.
"Makasih Va, mas makin sayang sama kamu," Ucapan spontan Zefan membuat Ziva terdiam tidak tau mau menjawab apa.
Dia masih ragu sama perasaannya sama Zefan, itu perasaan suka, kasihan sama Zio atau hanya sekedar teman saja.
"Kamu ngak perlu jawab sekarang mas ngerti kamu masih ragu, yang terpenting kamu ngak menjauhi mas saja mas sudah senang.
Mas akan tunggu sampai kamu benar benar mau menerima mas di sisimu," Zefan cukup mengerti apa yang Ziva rasakan dan di fikirkan Ziva.
Soal status Ziva sekarang saja Zefan bisa menerima karena bukan status yang Zefan masalahkan tapi rasa nyaman kebersamaan mereka yang membuat Zefan mengabaikan status Ziva
"Maaf mas," Cuma kata itu yang bisa Ziva ucapkan.
Masih banyak yang harus Ziva lakukan bukan soal perasaan saja, juga Zio yang masih kecil yang membutuhkan perhatian Ziva takutnya nanti perhatian Ziva malah terbagi.
"Daddy Zio ikut daddy ya," Zio datang karena merasa bosan menunggu Ziva yang tak kunjung datang.
"Iya Zio ikut daddy," Sabar Ziva sekarang Zio sudah terbagi sayangnya pada Zefan.
"Ngak sayang lagi sama mozi?" Cemberut Ziva yang melihat kedekatan mereka berdua.
\=\=\=\=\=
Tbc.
__ADS_1