
Berhubung hari ini Ziva akan pergi buat beberapa hari maka dengan tanpa fikir panjang Zefan meninggalkan semua pekerjaan dan menghabiskan waktu berdua saja.
"Mas kamu ngak kerja, tuh liat kerjaan numpuk kamu malah santai," Menunjuk ke arah meja Zefan yang menumpuk berkas yang minta di selesaikan.
Bagaimana Zefan bisa melanjutkan pekerjaan kalau ada yang lebih penting bagi dia sekarang yaitu bermanja manja sama Ziva sebelum di tinggal.
Ah Zefan seperti anak Sekolah yang lagi kasmaran saja, di tinggal sebentar sudah mulai lupa segala dan hanya fokus pada satu orang.
"Itu bisa di kerjakan nanti Zizi, sekarang kamu lah yang lebih penting sebelum kamu meninggalkan mas," Boleh tidak Ziva tertawa akan sifat kekanakan Zefan.
Di tinggal hanya beberapa hari dan setelah itu akan kembali lagi.
Haruskah sampai meninggalkan pekerjaan dan bisa di pastikan kalau besok pekerjaan itu akan bertambah lagi.
Terserah yang mulai saja lah asal dia bahagia kita bisa apa.
"Ya ya bos mah bebas," Ngalah Ziva dan membiarkan Zefan menempel seperti perangko sama dia.
Toh besok tidak lagi buat beberapa hari, anggap saja serah yah serap kayak ban mobil saja punya serap.
"Kita makan siang yuk, abis tu mas antar pulang dan kebandara," Cukup lama mereka berbincang dan waktu sudah menunjukkan jam makan siang.
"Tunggu kita jemput Zio dulu," Ingat Zefan akan menjemput Zio pulang Sekolah.
"Ngak usah mas, tadi Iva udah titip Zio sama papa mama," Berarti orang tua Ziva tidak jadi bisa melihat Zefan yang menjemput Zio karena di larang Ziva.
"Ya udah sekarang kita makan siang, yuk," Menggandeng tangan Ziva keluar ruangan dan sebelum itu.
"Saya tidak balik ke kantor lagi dan tolong jadwal saya di atur lagi," Perintah Zefan pada sekretarisnya itu.
"Baik pak," Sudah maklum sama atasannya itu dan beruntung hari ini jadwalnya tidak ada keluar meeting.
Lagian siapa juga yang bisa melarang bos besar tidak ke kantor, sebagai bawahan hanya bisa menurut dan terpenting gaji lancar.
"Permisi ya mbak," Pamit Ziva dan menyusul Zefan masuk lift.
"Mas kita mau makan di mana?" Tanya Ziva saat di dalam lift dan siap mengantar mereka ke lantai dasar.
"Di tempat kamu biasa kerja, makanan disana enak enak dan mas sangat suka," Itu salah satu alasan saja dan juga tempat itu tempat pertemuan mereka berdua wajar saja sudah menjadi tempat favorit bagi Zefan.
"Kalau makanan Iva rasa hampir sama ya mas, kan yang masak koki professional semua dan berpengalaman oh iya satu lagi Iva ngak kerja di sana ya.
Jangan mas anggap Iva pernah melayani pembeli di kira kerja di sana juga," Tidak mau kejadian beberapa saat lalu terjadi lagi dan Zefan menganggap Ziva juga bekerja di sana.
"Kalau ngak kerja terus ngapain melayani pembeli juga?" Lagian siapa saja yang melihat pasti akan berfikir sama dengan Zefan.
"Udah ah jangan di bahas lagi," Mereka menuju restaurant yang di bilang Zefan.
Sampai restaurant mereka masuk dan memesan makanan.
Setelah pesanan datang, sepasang kekasih itu makan dengan lahap tanpa banyak bicara.
"Sekarang kita pulang, mas bantu siap siap," Membayar makanan tadi dan meluncur ke rumah Ziva.
Yah sekarang baru bisa Zefan bilang kalau itu rumah Ziva setelah tau kebenaran dan tidak menganggap rumah majikan Ziva lagi.
__ADS_1
Lagian mana asisten rumah tangga secantik dan sebening Ziva, kalau pun ada berani bayar berapa orang itu.
Sudah jelas perawatan wajah saja mahal belum lagi satu badan maka akan menghabiskan banyak uang sedangkan gaji asisten seberapa juga.
"Yuk masuk mas," Ajak Ziva saat sudah sampai rumah.
"Iya Zi, sepi ya kalau ngak ada Zio," Mengedarkan pandangan ke segala arah rumah itu.
Zefan mengikuti langkah Ziva masuk ke dalam, setelah melewati ruang keluarga baru bisa Zefan temukan berbagai macam figura yang terpajang tapi hanya ada foto Ziva dan Zio saja mulai dari Zio bayi sampai besar sekarang.
"Zio dari kecil emang udah ganteng dan menggemaskan ya,"?Menghampiri foto Zio bayi dan tampak jelas wajah imut dan masih kemerahan itu.
" Iya mas, Zio itu sejak kecil anaknya ngak rewel hanya saja dia sulit mau sama orang baru," Menjelaskan sedikit tentang Zio kecil.
"Wajahnya hampir sama seperti mas masih bayi," Lanjut Zefan yang merasa ada kemiripan sama Zio kecil.
"Kalau anak kecil masih bayi wajah mereka bisa hampir sama mas dan setelah besar baru berubah,"
"Iva beres beres dulu mas," Ziva masuk ke dalam kamar buat membereskan baju yang akan di bawa nanti sore.
Meninggalkan Zefan yang masih fokus sama foto foto itu.
Ziva sengaja tidak menaruh foto di ruang tamu, ada alasan sendiri Ziva melakukan itu.
Sebenarnya Ziva ada acara apa ke Negara itu, dan itu cukup jauh bukan luar kota loh ini namun luar Negeri.
Semoga saja nanti dia mau cerita dan yang jelas aku ngak mau menaruh rasa curiga sama dia.
Aku aja baru sebagian kecil tau tentang dia bahkan info mengenai mereka aja sulit di dapat.
Ziva sengaja tidak menutup pintu agar Zefan mudah mencarinya sebab di sana ada beberapa kamar yang terletak di lantai itu.
Ya tempat foto terpajang rapi itu adalah lantai dua dan kalau lantai satu tidak ada satu pun foto di sana maka jangan heran bagi siapa saja yang datang kesana tidak akan tau siapa pemilik rumah itu.
"Udah selesai Zizi?, sebelum zizi pergi mas boleh minta sesuatu ngak?" Masuk kamar Ziva dan duduk di sofa.
"Mas mau minta apa? kalau ngak sulit akan Iva lakukan," Menutup koper yang sudah terisi baju.
"Ngak sulit kok Zi, mas hanya minta di masakin masakan," Pinta Zefan yang merasa kalau lidahnya sudah mulai terbiasa sama masakan Ziva.
Dan saat itu, saat Ziva mengantar makan siang Zefan makan dengan lahap, maka wajar jika Zefan ketagihan.
"Bisa mas, ayik kita turun," Masih ada waktu sekitar dua jam setengah lagi sebelum ke bandara jadi masih sempat buat menuruti keinginan Zefan yang terbilang mudah itu.
Sampai di dapur Ziva menyiapkan segala bahan masakan.
"Mas mau Iva masakin apa?" Tanya Ziva saat bahan masakan sudah siap.
"Apa aja mas akan makan," Eh Zefan itu perut apa gentong, perasaan baru pulang dari restaurant buat makan siang dan sekarang minta makan lagi.
Ya maklum ini yang may LDR sebentar pasti butuh persiapan sebelum di tinggal.
"Ok bos," Memulai memasak yang sederhana saja sebab kalau masak yang sulit akan menghabiskan waktu dan bisa terlambat berangkat.
Alhasil Zefan yang senang dan Ziva yang kesal sebab lalai dari waktu yang ada.
__ADS_1
Masa Ziva yang mengajarkan Zio buat jangan lalai tapi dia sendiri yang begitu.
"Tara udah siap, silahkan di nikmati masakan ala chef Ziva," Cuma butuh waktu kurang dari satu jam masakan Ziva sudah selesai, lagian cuma buat Zefan seorang jadi tidak perlu masak banyak.
"Terima kasih Zizi," Mulai melahap makanan itu dengan senang hati.
Tidak butuh waktu lama Zefan menghabiskan makanan itu dan tapi di restaurant sengaja makan sedikit, jadi ini toh alasan Zefan biar minta di masakin.
Modus kamu Fan.
Bersantai sebentar dan Ziva bersiap buat berangkat di antar Zefan.
Koper Ziva sudah Zefan masukin ke dalam mobil.
"Pak Iva titip rumah ya, kalau ada yang mau kasih aja tapi suruh pindahin ya," Sapa Ziva pada satpam depan saat mobil itu melintas di sana.
"Ya mana bisa atuh non rumah di pindahin, non ada ada aja," Satpam itu menjawab menahan senyum, majikannya itu ada ada saja masa rumah suruh di pindahin dia kira sumah siput apa yang bisa di bawa kemana aja.
"Yah kan Iva cuma ngasih rumahnya pak, jadi harus di pindah dong kecuali sama tanahnya baru ngak usah di pindah," Kekek Ziva, kenapa otaknya jadi berfikir keluar jalur gini.
"Terserah non aja deh, hati hati non semoga selamat sampai kembali lagi," doa sang satpam, sebab orang baik maka orang lain akan mendoakan yang baik juga buat kita.
Mobil Zefan meninggalkan rumah Ziva menuju bandara.
Satu jam lebih mereka sampai dan Zefan mengantar sampai dalam dan menunggu panggillan keberangkatan Negara tujuan Ziva.
Sepuluh menit menunggu pesawat yang akan Ziva tumpangi akan berangkat.
"Hati hati di sana dan selalu hubungi mas.
Kalau sampai satu hari kamu ngak ada mengabari mas maka besoknya mas udah sampai sana," Mencium kening Ziva sebelum berangkat.
Yah posesif amat Zefan, emang harus gitu menghubungi tiap hari.
Kalau Ziva sibuk kan bisa saja dia lupa menghubungi.
"Iya mas, akan Iva ingat.
Ya udah Iva berangkat dulu, mas juga hati hati disini dan Iva titip Zio juga ya," Memeluk Zefan sebelum melangkah masuk.
Dan setelah drama perpisahan Ziva menggeret kopernya dan pandangan Zefan tidak lepas sebelum Ziva menghilang dari pandangan.
\=\=\=\=\=
Jangan lupa komen, like , rate and vote ya..
Jadilah pembaca nyata setidaknya komen dan like.
Author sangat berharap komen para reader dan masukan semuanya.
Burung anggsa ken lem.
Setelah baca tinggalkan komen.
Tbc.
__ADS_1