
Pesta yang sederhana kata papa Syakil itu kini telah usai hanya keluarga inti serta orang terdekat yang masih di sana.
Itu pun hanya sebagian dan lain nya sudah memasuki kamar yang sudah di siapkan sebelumnya bagi mau menginap atau malas pulang walau rumah mereka dekat.
Rasa lelah tidak bisa di bohongi sebab acara dari pagi sampai larut malam ini tak pernah sepi sama tamu undangan.
Dan buat kedua pasangan baru itu jangan di tanya capeknya menyalami tamu silih berganti.
Seharusnya dari awal minta acara yang beneran sederhana saja jangan sederhana seperti artian papa Syakil.
Bahagia dapat, capek dapat, senyum tak henti henti juga dapat, punggung Iva yang terekpos di belakang juga dapat Zefan belai jika mereka lagi duduk.
Seperti ada yang berdiri tapi nyatanya mereka lagi duduk.
Setelah pamitan sama semua anggota keluarga pasangan pengantin baru memilih undur diri terlebih dulu sebab tidak perlu juga berada di sana, tamu juga tidak ada lagi.
Memasuki kamar nuansa khas pengantin baru yang sudah di sediakan di hotel itu padahal di rumah orang tau Iva juga sama.
"Capek ya?" Menuntun Iva duduk di depan meja hias lalu membantu membuka pernak pernik yang menempel pada Iva satu persatu.
"Banget mas, rasanya badan remuk semua," Iya jelas lah remuk acara non stop dari lagi.
Akan lebih remuk lagi nanti kalau mas minta hak malam ini.
Kalau iya beneran ampun nggak tau gimana nasib badan bangun tidur besok.
Hanya bisa berdoa semoga Zefan lupa kalau malam ini malam pertama mereka.
Semoga lupa karena kelelahan kalau besok baru bisa sebab badan sudah frees lagi.
Istri macam apa ini? baru beberapa jam jadi istri sudah mendoakan suami pelupa.
Ampuni Iva tuhan, kekeh Iva dalam hati.
Gaun Iva di bantu bukakan hingga turun sempurna hanya menyisakan dalaman putih saja.
Zefan dengan susah payah menelan saliva melihat pemandangan di depan mata yang begitu indah.
Secara tidak sadar tangan Zefan membelai lembut mulai dari bahu Iva, turun ke lengan naik lagi ke bahu lalu naik ke belakang telinga Iva dan terakhir sampai di punggung mulus serta lembut itu.
Hasrat lelaki Zefan cepat naik ingin merasakan lebih dari sekedar belaian saja.
Ingin melihat lebih dari bahu serta punggung itu.
Memikirkan saja Zefan sudah tegang.
"Hhmm,, I Iva mandi dulu ya mas," Ucapan Iva membuyarkan lamunan Zefan.
__ADS_1
Iva dengan segera beranjak menuju kamar mandi sebelum tangan nakal yang sejak siang tadi akan bergerak semakin jauh.
Iva masuk kamar mandi meninggalkan Zefan menahan sesak minta segera di tuntaskan.
"Oh shit baru itu aja aku udah tegang gini.
Udah di bikin tegang malah di tinggal lagi, nggak mau tanggung jawab apa?" Zefan mendesah panjang.
Iva setega itu sama dia, tidak tau atau pura pura.
Ah sial kenapa dia juga masih tegang.
Zefan berjalan menuju balkon kamar itu buat menikmati udara malam berharap yang sudah bengun perlahan tidur sambil menunggu Iva selesai mandi.
Udara berhembus cukup kencang dan dingin.
Tapi Zefan abaikan dia ingin menenangkan fikiran tentang bahu serta punggung mulus Iva.
Mengelus adik kecilnya sambil memejamkan mata berharap segera tidur.
"Itu baru liat punggung mulus tegang nya udah seperti tegangan tinggi aja.
Gimana udah liat yang lain ya? pasti lebih tegang lagi," Membayangkan bagian tubuh Iva yang lain.
Membayangkan betapa bagus dan mulus tubuh Iva tanpa busana serta tidak lupa menjelajahi setiap inci dari tubuh itu.
Zefan berjalan masuk lagi berniat ingin membuka pintu kamar mandi dan berharap Iva lupa mengunci.
"Ini gila, baru di pegang gitu aja Iva udah deg deg an banget.
Lagian tuh tangan makin jail sejak selesai akad tadi dan saat duduk menyalami tamu tuh tangan nggak bisa diam," Iva mulai mengisi air bak mandi tidak lupa memberi sabun cair serta aroma therapy buat merilekskan badan.
Mengambil handuk yang sudah di siapkan di lemari kecil kamar mandi itu dan meletakkan dekat tempat Iva mau berendam.
"Berendam kayak nya enak buat menyegarkan badan.
Ah capek banget hari ini tapi juga bahagia," Keluh Iva memijit sebentar tengkuk yang terasa pegal.
Iva mulai membuka satu persatu sisa kain masih di gunakan hingga tanpa sisa benar benar polos.
Namun tanpa Iva sadari karena keteledoran lupa mengunci pintu hingga sepasang mata memperhatikan gerak gerik Iva hingga polos itu.
Kini Zefan benar benar makin tegang melihat tubuh mulus tanpa cela itu.
Dengan langkah pelan tanpa mengeluarkan suara Zefan masuk lalu dengan cepat membuka pakaian hingga sama dengan Iva.
Zefan melingkarkan tangan di pinggang ramping Iva.
__ADS_1
"Aaahh," Teriak Iva kaget sebab tiba tiba ada sepasang tangan melingkar di pinggang nya.
lalu menoleh siapa pemilik tangan itu.
"Ma mas Zefan," Gagap Iva dan juga di iringi wajah bersemu merah sebab dia lagi tidak makai apa apa saat Zefan masuk.
"Nggak usah malu, kita sama kok," Bisik Zefan tepat di telinga Iva.
Jantung mereka berdua berdetak saling pacu berirama.
Iva menoleh sedikit dan tampak tubuh Zefan tanpa busana.
Iva malu, baru pertama kali melihat badan kekar lelaki sebelum nya tidak pernah meski hanya dada bidang.
Walau Iva punya saudara pria tapi mereka tidak pernah bertelanjang dada di depan Iva.
baik bang Jidan atau kemal berkata, kalau kita telanjang dada ntar Iva pengen gimana, kan jomblo' kurang ajar memang.
"Tunggu Iva selesai mandi dulu ya mas," Iva benar benar malu sekarang, mudahan dengan cara ini Zefan mengerti.
"Kita mandi bersama," Bisik Zefan lagi lalu menggiring Iva memasuki bak dan mereka berendam bersama dengan Iva duduk di depan Zefan lebih tepat nya di atas paha Zefan.
"Biar mas gosokkan," Mengambil spon lalu menggosok perlahan punggung Iva mulai atas hingga bawah.
Iva hanya bisa pasrah dan sesekali menahan nafas buat mengurangi kegugupan.
Hingga gosokan itu merambat ke depan secara perlahan berlabuh di perut rata Iva berputar sebentar di sana lalu naik ke atas dada Iva.
Namun ada yang beda bukan spon lagi yang menggosok badan Iva tapi tangan kekar Zefan yang bermain di sana.
"Hhmm mas," Lirih Iva menahan sesuatu yang mau lolos dari mulut Iva.
Zefan menulikan telinga sibuk sama mainan baru nya.
Bermain di sana cukup lama hingga Iva tidak tahan lalu meloloskan satu desahan ringan namun cukup membangkitkan gairah Zefan yang sedari tadi sudah bangun.
Padat, berisi, pas di tangan dan kenyal.
Aku awalnya hanya ingin membantu Zizi mandi tapi saat tangan ini mulai nakal lagi dan bertemu maina baru rasanya sulit berhenti.
Zefan sangat menikmati mainan baru dia dan lupa niat awal cuma mandi bersama.
\=\=\=\=\=
**Sumpah aku panas dingin part ini nulisnya, sebab di novel sebelum nya aku skip sebab nggak kuat.
Buat yang nanya novel horor aku udah mulai buat tapi nggak di sini maaf ya๐๐kalau berkenan mampir nanti aku kasih tau kalau udah terbit di aplikasi alnya baru nyicil bab.
__ADS_1
Judul nya "SUAMI KU DARI DUNIA LAIN"
Tbc**.