
Iva pulang di antar Zefan yang mana keadaan mereka sudah mulai tenang.
Mendapat kabar dari orang kepercayaan mereka yang mengabarkan kalau Zio baik baik saja saat ini.
Bukan karena takut atau tidak tau dimana Zio sehingga tidak di jemput sekarang hanya membiarkan orang itu sedikit merasa di atas awan sebelum jatuh terhempas ke dasar tanah.
"Yakin ngak mau mas temanin dulu?" Itu pertanyaan entah yang ke berapa kali Zefan lontarkan pada Iva dan jawabannya.
"Mas Iva udah ngak apa, jadi mas tenang aja ya.
Orang yang menculik Zio terlalu bodoh buat menyuruh orang," Jengah sama pertanyaan yang itu itu saja dari tadi.
Apa tidak ada stok pertanyaan lain apa atau diam juga boleh.
"Daddy mana yang kwatir coba," Sungut Zefan yang gemas sama Iva bisa bersantai di saat anaknya tidak lagi di sisi, tadi saja nangis nangis seperti anak kecil yang minta di belikan permen.
"Emang mas aja kwatir, Iva jauh lebih kwatir mas.
Coba mas bayangkan biasanya Zio ada bersama kita sekarang ngak ada, sepi kan?" Cetus Iva, siapa yang tidak kwatir sama anak sendiri.
"Iya maaf, mas kan cuma menyampaikan isi hati mas," Cih alibi sekali kamu mas tampan.
"Ini mas curhat atau apa.
Menyampaikan isi hati atau mengungkapkan isi hati.
Ini beda tipis lo," Ledek Iva yang siap turun dari mobil yang sudah berhenti di depan pintu utama rumah itu.
Lagian mana ada menyampaikan isi hati tiap detik, tiap menit.
Itu apaan coba.
"Udah lah Iva capek, mau mandi dulu," Melangkah masuk ke dalam di ikuti Zefan.
Iva tidak menyadari kalau Zefan berjalan di belakang nya dengan langkah yang tidak mengeluarkan suara sama sekali benar benar sunyi.
"Hah gerah, mandi dulu lah," Gumam Iva yang mulai membuka baju luaran dan menyisakan dalaman dengan tali spagetti itu.
"Mau goda mas ya," Cetuk Zefan yang mengikuti Iva sampai kamar tanpa Iva sadari.
__ADS_1
"Aahh mas, ngapain masuk sih?" Kaget Iva menutup bagian depan sama baju yang malah di pegang, untung belum di tarok dalam tempat baju kotor.
"Ngak tau, pengen ikut aja.
Eh malah dapat pencerahan buat cuci mata.
Udah mandi aja, mas mau turun," Santai Zefan pergi dari kamar itu menuju ruang tamu yang mana sudah ada minuman serta cemilan yang menanti Zefan buat di nikmati.
Memang calon tuan rumah itu selalu dapat suguhan yang menggugah selera tiap kali datang.
Asisten rumah tangga itu tau aja kesukaan Zefan setiap kali datang kesana.
Iva di kamar langsung lari ke kamar mandi setelah Zefan keluar kamar serta tidak lupa mengunci pintu takut ada yang masuk lagi serta tak di undang.
"Huh untung tadi masih pakai baju, kalau ngak bisa malu banget," Iva mengusap dada yang berdebar bukan karena tersipu tapi lebih tepatnya malu plus kaget.
Siapa yang tidak kaget dan malu, di saat dia buka baju ada yang lihat bahkan bukan suami.
Iva mandi dengan cepat takut Zefan belum pulang dan malah menunggu dia turun.
Di ruang tamu.
"Wa'alaikumsalam, pa ma," Eh kok udah panggil papa mama saja? apa sudah dapat restu sesungguhnya atau buat cari simpati agar restu mudah didapati.
"Iva mana Fan?" Entah mengapa aura sekarang berbeda dari biasa yang Zefan lihat dan juga nada bicara papa Syakil sedikit berbeda.
Apa dia sudah tau apa yang menimpa Zio? atau udah bawaan seperti biasa.
Tapi yang Zefan tau tidak ini nada bicara papa Syakil kepada Zefan.
"Masih mandi pa," Jawab Zefan lalu orang tua Iva duduk di hadapan Zefan sambil melirik tajam ke arah Zefan.
"Kenapa?" Satu kata yang berhasil membuat Zefan bungkam seribu bahasa.
Zefan bukan tidak tau maksud dari kata kenapa hanya saja dia juga kecolongan hingga kejadian ini tidak dapat di hindari.
Kenapa, satu kata itu memiliki sejuta makna serta tujuan dari kata itu, hanya saja kata sederhana itu mampu membuat orang terdiam.
"Semua ini terlalu cepat kejadiannya pa, bahkan ini terjadi di area Sekolah yang mana orang tua ngak di izinkan masuk menjemput anak anak dan malah orang itu dengan mudah membawa Zio.
__ADS_1
Tapi papa ngak usah kwatir keberadaan Zio udah di ketahui hanya aja Iva meminta untuk ngak menjemput Zio sekarang.
Aku harap papa ngerti akan tindakan yang Iva ambil,"
Jelas Zefan panjang lebar sebab yang sekarang di hadapi calon papa mertua yang bisa kapan saja menarik lagi restu yang sudah di berikan.
Lah narik, emang tarik tambang pakai di tarik segala.
"Anak itu selalu aja suka bermain, apa ngak kasian sama cucu kesayangan ku," Helaan nafas papa Syakil menandakan jengah sama sifat Iva yang suka bermain sama orang yang ngajak dia.
Apa tidak bisa pada orang lain, jangan pada Zio yang masih kecil serta mental yang belum kuat.
Kadang dia tidak lihat sikon kalau lagi begini, kasian Zio, fikir papa Syakil.
"Sabar pa, percaya sama Iva pasti Zio akan baik baik aja," Mama Ila mencoba menenangkan sang suami yang terlihat kesal sama sifat Iva yang santai padahal anaknya tidak lagi di rumah.
"Anak mama tuh," Kesal papa pada mama.
"Anak papa juga, papa lupa kalau tanpa papa mama ngak bisa buat Iva," Hey stop disana masih ada calon menantu jangan bicara masalah ranjang di sana, kasian tau kalau tiba tiba minta nikah sama Iva di percepat gimana hayo udah siap melepas Iva menjadi milik lelaki lain.
"Udah ah mama malas ama papa, masa begitu an di depan calon mantu kita, kalau dia kepengen gimana.
Kan kasian belum nikah," Lah di suruh berhenti malah mama sendiri yang bilang langsung.
Memang perempuan makhluk tuhan yang benar tidak mau salah walau dalam keadaan salah tidak mau di salahkan.
"Maaf ya nak Zefan, maklum kurang jatah ya gitu suka bahas ngasih kode," Ucap papa Syakil pada Zefan dengan senyum yang entah apa makna dari senyuman itu.
Hanya papa Syakil yang tau sendiri.
"Iya pa ngak apa kok," Jawaban simple yang sederhana menyimpan sejuta makna.
Maksud tidak apa itu apa? tidak apa saya maklum, tidak apa saya ngerti, tidak apa itu hal biasa, tidak apa nanti saya juga akan mengalami atau tidak apa kita sesama lelaki memahami perempuan jika sudah membahas itu pasti lagi ingin di manja.
Jika memikirkan itu Zefan ingin segera menikahi Iva dan merasakan apa yang di bahas calon mertuanya ini.
\=\=\=\=\=
Tbc.
__ADS_1