
Para anggota keluarga menunggu kepulangan pengantin baru yang tidak tau kapan pulang.
Sama seperti saat berangkat maka pulang pun tidak mengasih kabar, benar benar meresahkan pasangan baru itu.
Apa tidak menganggap mereka semua keluarga, tidak memberi kabar kapan pulang.
Apa mau mengasih kejutan lagi sama seperti mau berangkat malam itu.
Pantas di beri penghargaan sudah berhasil membuat semua orang kaget serta cemas.
"Itu pengantin baru kemana sih, pergi honeymoon apa minggat? nggak ngasih kabar kapan pulang.
Kita kan juga mau ngasih kejutan, kan nggak lucu kalau kita yang terkejut lagi," Gerutu bang Endra sambil bermain sama Zio, tadi pagi dia menjemput Zio di rumah opa nya buat di ajak nginap bersama kakek nenek.
"Sabar pa, kata mbak Rara orang sabar di sayang tuhan," Ini bocah sudah bisa basehati orang tua.
"Nggak gitu juga Zio, orang meninggal karena tuhan sayang juga jadi buat sementara papa nggak apa nggak di sayang tuhan dulu," Bergidik ngeri membayangkan hal itu.
Kan suka gitu kalau ada orang kritis di rumah skait terus tidak selamat dan tanya dokter.
'dok gimana keadaan pasien? tanya orang dan pasti di jawab 'tuhan lebih sayang dia jadi tidak merasa sakit lagi' nah kan jadi tolong kalau bicara di filter kadang suka ngeri.
"Berarti kayak Iyo sayang mozi pa, kan Zio suka manggil mozi," Polos Zio menjawab.
"Iya papa juga sayang Zio," Bang Endra kalau tidak membantu di kantor maka akan bermain satu harian sama Zio di rumah atau pergi jalan jalan.
Untuk kantor bang Endra bentar lagi sudah bisa di pindahkan serta bisa fokus lagi di kantor.
"Iyo nggak nanya pa," Cuek Zio terus bermain tidak peduli wajah masam bang Endra yang penting dia bicara dan menjawab ucapan bang Endra.
"Papa cuma mau ngasih tau Yo," Kekeh bang Endra tidak mau ngalah sama anak kecil.
"Tapi Iyo nggak mau tau pa, papa jangan bandel nanti di marahin opa sama kakek," Siapa yang ngajari bicara pintar gitu, mana ada orang dewasa di marahi karena hal sepele.
"Kan ada Zio yang bela papa nanti kalau di marahi," Bandel papa ya tidak ngerti juga.
"Bayar berapa pa? bela papa nggak gratis," Mata duitan dari kecil.
"Siapa yang ngajari matre gini? mau papa sentil hah," Kesal bang Endra kenapa bisa punya anak yang pintar jawab gini.
__ADS_1
Anak siapa ya? ya anak bang Endra lah masa bisa lupa.
Waktu buat nggak ingat apa? gimana sih.
"Hidup harus matre pa, kalau ngak matre nanti beli makan, baju, mainan, bayar Sekolah terus lamar mama pakai apa?" Karungin jangan ya, bisa bisa nya mikir sampai lamaran segala.
Yang punya hubungan serta menjalani belum kefikiran sampai sana, nah ini anak kecil udah tau aja.
"Pakai daun, udah papa mau ke kamar dulu," Bisa gila sebelum waktu nya kalau meladeni mulut polos Zio.
\=\=
Di rumah Iva dua orang perempuan sedang bersantai menunggu pengantin baru yang tidak tau juga kapan pulang.
"Kak bosan ya kalau berdua aja," Mereka adalah Lisa dan Rara yang lagi bersantai di taman belakang rumah.
Bosan tidak ada Iva juga Zio di rumah hanya mereka berdua.
Kalau ada Zio setidaknya ada mainan yang akab mengusir bosan.
Berdua gini mau ngapain.
"Iya, Bang Endra ngapain coba bawa Zio kan sepi," Tadi Lisa mau menjemput Zio juga ternyata sudah ke duluan sama bang Endra.
"Terus sekarang kita ngapain coba, masa tidur," Keluh Rara merebahkan badan di atas tikar yang sudah di gelar.
Malas duduk di atas kursi, lebih enak selonjoron.
"Oh ya gimana mbak sama pak dosen nya?" Dari pada bosan kan.
"Nggak gimana mana kak, biasa aja," Apa yang mau Rara ceritakan kalau hubungan mereka biasa saja dan masih berjalan lancar tanpa di salip pelakor.
Ya mau gimana pelakor nyalip tidak ada yang tau mereka menjalin hubungan juga orang tau gimana sifat Satyia yang cuek pada semua orang.
"Kok gitu? nggak ada niat serius gitu?" Kepo ya kak.
Nggak boleh kepo kalau nggak di kasih tau ntar makin penasaran dan tidak bisa tidur.
Niat serius apa lagi coba, masa ngajak serius pakai ancaman segala.
__ADS_1
Kan nggak bisa nolak, kan udah ke cintaan.
Nggak mungkin Rara lepas gitu aja, pasti banyak yang nunggu.
Tampan gitu, bikin meleleh.
Hayal Rara membayangkan wajah tampan Satyia yang memenuhi isi kepala Rara.
Sifat manis yang hanya di tunjukkan pada Rara, gimana nggak meleleh coba.
"Ngapain bahas Rara sih kak, kalau kakak gimana sama bang Endra? sampai kapan mau di gantung?" Ya mereka tau hubungan mereka berdua belum ada titik terang, masih jalan di tempat.
"Nggak tau ah, bang Endra rese suka nggak jelas.
Apa perlu di tinggal lagi ya biar sadar," Mau merencanakan buat meninggalkan bang Endra biar sadar, tapi apa sanggup jauhan.
"Mau Rara bantu nggak kak?" Kok senang gitu mau ngerjain bang Endra.
Senang mau bantu atau senang nanti bisa melihat bang Endra kebakaran jenggot.
"Nanti ah kakak fikir lagi, tapi laki nya siapa?" Lah katanya nanti.
"Biar Rara coba cari juga kak," Kan banyak kenalan pasti mau bantu lah.
Tapi pastikan dulu tidak menaruh rasa dulu, ntar anak orang baper eh ternyata sandiwara saja.
Tiba tiba hp Rara berbunyi.
"Siapa mbak?" Apa harus di jawab juga.
"pak dosen," Jawab Rara sambil membaca isi pesan yang di terima.
"Rara ke depan dulu kak, udah di tunggu," Pamit Rara beranjak dari sana, menuju depan setengah berlari.
"Apes banget ya, punya pasangan rasa jomblo hubungan masih di gantung, eh sekarang harus ngenes di tinggal adik sendiri mending ke kamar," Memilih masuk kamar ketimbang sendirian duduk tidak jelas.
Yang sabar Lisa kata Zio, orang sabar di sayang tuhan kata mbak Rara.
Terus Zio nggak bilang apa apa gitu cuma nyampein apa kata orang saja.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Tbc.