My Handsome Daddy

My Handsome Daddy
Semua Tidak Mudah.


__ADS_3

Setiap orang memiliki dan mendapatkan cara bahagia yang berbeda serta dalam porsi yang beda juga.


Kadang bahagia datang dengan mudah, ada juga yang butuh perjuangan serta pengorbanan tapi semua itu akan berbuah manis selama kita sabar dan ikhlas menjalani.


Malam hari semua mereka kumpul di ruang keluarga setelah makan malam bersama.


Tidak ketinggalan si tampan Zio yang ikut bergabung dengan ketiga perempuan cantik itu.


"Kalian kemana aja hari ini?" Ini introgasi atau lagi bertanya kenapa tidak jauh beda.


"Rara kuliah abis itu pulang mbak," Jawab Rara singkat melupakan satu hal.


"Aku cuma ke caffe buat cari angin," Jawab Lisa tidak kalah singkat sama seperti Rara.


"Tampan mozi kemana abis pulang Sekolah?" Iva heran saat dia pulang tadi tidak ada satu orang pun yang ada di rumah hanya bibik biasa dan para penjaga.


"Zio di jemput oma sama opa mozi, kan daddy ngak bisa jemput tadi," Jelas Zio yang di jemput ke dua orang tua Iva, ya walau sebenarnya kalau itu Iva sudah tau hanya ingin mengetes kejujuran Zio saja dan ternyata anak tampan itu tidak bohong.


Bisa saja Iva, masa sama anak sendiri tidak percaya atau mengajarkan hal baik.


"Iya mozi udah tau," Jawab santai Iva.


"Ih mozi ngeselin nanti Iyo bilang daddy sebab mozi jailin Iyo," Memukul Iva dengan tangan mungil itu lalu mengerucut kan bibir mungil itu jadi pengen narik tuh bibir.


"Sorry sorry okey," Mengusap kepala Zio sebab dengan cara itu Zio cepat luluh.


"Kalian berdua hanya itu aja?" Tanya Iva lagi.


Dengan kompak mereka berdua menganggukkan kepala.


"Ngak ada yang lain?" Lanjut Iva dan mendapatkan jawaban sama.


"Ngak ada yang balikan sama mantan atau mampir ke rumah calon mertua?" Pertanyaan Iva membuat mereka berdua terdiam lalu saling pandang.


Dalam otak mereka berfikir bagaimana bisa Iva tau kalau ada yang balikan sama mantan dan mampir ke rumah calon mertua.

__ADS_1


Mereka tidak bilang tapi Iva sudah tau duluan.


"Ok kalau ngak mau jujur besok kalian ngak bakal liat mereka lagi," Ancaman ini sungguh membuat mereka takut tapi mereka berfikir lagi mana mungkin Iva bisa melakukan semua itu dalam waktu sekejap.


"Diam kalian berarti setuju ya, fiks," Tapi dengan cepat di potong.


"Jangan," Tolak keduanya kompak.


"Maaf mbak, Rara ngak maksud bohong hanya aja Rara malu mbak," Tutur Rara menunduk.


"Malu kenapa?" Kan mereka tidak melakukan kesalahan atau berbuat menyimpang jadi buat apa malu.


"Ngak tau mbak tapi malu aja," Ok disini Iva yang mengerti Rara sebab adiknya itu masih belum bisa menjalani hubungan seperti orang lain sama dosennya itu.


Ya Iva sudah menganggap Rara adik sendiri.


Dan setelah Rara tinggal di rumah Iva, papa Syakil menyelidiki tentang Rara yang tertanya hanya tinggal bersama orang tua angkat di kampung tanpa tau dimana orang tau kandung hanya saja Rara tidak mengetahui akan hal itu.


Orang tua Rara hanya menitipkan dia pada suster rumah sakit tempat dia lahir lalu menitipkan pesan bahwa menyuruh suster itu memberikan Rara pada seorang wanita yang baru melahirkan seperti dia tapi anaknya tidak bisa di selamatkan.


Balik ke cerita.


"Ok mbak ngerti, sekarang gimana ini yang balikan sama mantan?" Mengarah pada Lisa yang duduk di depan Iva.


"Ya ngak gimana gimana kalau suka ya balikan kok repot amat sih Va.


Kenapa kamu bisa tau kita ngapain aja? kamu ngikutin kita ya sampe tau detail itu?" Selidik Lisa memperhatikan Iva yang duduk santai tanpa merasa terusik sama pertanyaan Lisa.


"Ngak tau aja," Santai Iva cuek.


"Kalau ngak ngikutin kenapa kamu bisa tau?" Lisa bukan anak kecil yang gampang di bodohi.


"Hey kurang kerjaan Iva ngikutin kalian berdua yang beda arah, logikanya aja ngak masuk akal mikir coba gimana sih.


Kalau nyuruh orang ngikutin baru bener," Sesantui itu bilang kalau dia nyuruh orang mengikuti mereka berdua.

__ADS_1


Hah mereka sampai tidak tau kalau selama ini ada yang ikuti untung bukan orang jahat.


"Kenapa pakai nyuruh orang ikuti kita? kamu ngak percaya sama kita?" Cerca Lisa yang tidak terima sama sikap Iva yang terkesan berlebihan.


"Yang bilang ngak percaya siapa, ayo lah non fikiran jangan pendek gitu.


Kalau ngak ada yang ngikutin kamu mungkin saat ini kita ngak akan bisa bersama sekarang dan kamu ngak tau dimana sekarang.


Kamu kira dunia itu baik semua hah, ngak Lisa sayang dunia itu kejam makanya kita harus bisa menjaga diri.


Kalau dunia ngak kejam mungkin kalian berdua ngak akan berpisah lama seperti dulu,"


Ucapan Iva membuat Lisa bungkam seketika, benar kata Iva kalau dunia tidak kejam maka dia sudah bahagia sama lelaki pilihan dia dulu.


Tapi apa yang dia dapat perpisahan serta sakit selama beberapa tahun.


"Maaf Va,'' Sesal Lisa kepada Iva yang sudah berburuk sangka tadi.


Dia yang terlalu polos dan percaya bahwa semua orang baik sama dia selama dia baik sama orang lain.


tidak, semua tidak seperti itu bahkan kadang orang hanya baik di depan kita namun beda saat di belakang.


" Ngak apa Iva ngerti, kita hanya perlu jaga jaga agar terhindar dari segala macam bahaya yang ngak tau kapan datang dan di mana.


Berjaga jaga lebih baik dari pada menyesal, tidak ada gunanya.


Kadang orang terdekat kita yang jadi musuh maka kita harus selektif memilih teman dan jangan asal cerita sama orang,"


Iva hanya ingin yang terbaik buat orang sekitarnya dan terjaga aman.


Kalau di tanya masak kepercayaan, Iva sepenuhnya percaya hanya saja dia tidak mau lengah dalam menjaga.


"Sekarang udah malam, baiknya kita tidur," Mereka membubarkan diri menuju kamar masing masing dan tugas Lisa tiap malam adalah mengurus Zio sampai tertidur.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Bersambung👌👌


__ADS_2