My Handsome Daddy

My Handsome Daddy
Bikin Kesal.


__ADS_3

Perasaan Lisa kian tak menentu, sejak bang Endra keluar ruangan itu belum ada tanda tanda mau balik atau wangi bandannya yang menyeruak masuk, makanan kali ah sampai harus menyebarkan aroma.


Hingga pelayan datang membawa makanan tapi yang di tunggu juga belum datang.


"Silahkan nona, tadi tuan juga berpesan kalau nona lapar silahkan makan duluan," Menata piring makanan yang di bawah di atas meja.


"Makasih tapi orang nya mana? kok nggak belum datang?" Masa makan sendiri kan datang berdua.


"Sebentar lagi mungkin nona, tadi tuan hanya bilang itu.


Selamat menikmati dan kalau ada apa apa saya ada di luar tinggal pencet itu aja," Menunjuk sesuatu seperti bel di atas meja kecil di samping Lisa duduk.


Membungkukkan badan lalu melangkah mundur baru membalikkan badan dan keluar.


"Kok gue seperti orang mau di hukum mati ya, di baikin di kasih makan enak, di buat senang dan setelah nya di tembak mati.


Ih kok serem gini jadi nya," Bergidik sendiri membayangkan hal itu.


Tega sekali kalau iya sampai terjadi.


"Ngapain pesan makan sebanyak ini kalau dia belum balik.


Emang gue mau merangkap jadi kebo apa di kasih makan banyak gini.


Makan sehari juga nggak sebanyak ini, ini di suruh makan atau belajar mati apa?" Memandang semua makanan yang bisa di bilang makanan berat hanya sedikit makanan ringan atau rendah kalori.


"Mesan makan juga buat orang se RT mungkin, masa banyak gini.


Apa dia lupa boros itu sifatnya setan,apa mau belajar jadi setan juga.


Mana lagi belum balik?" Memandang pintu belum ada tanda tanda mau di buka dari luar.


Semua makanan juga memanggil buat di makan dan minta di habiskan.


"Boleh tukar tambah kekasih tidak ya, kalau bisa gue mau tukar tambah sama yang lebih pengertian biar bisa kayak orang orang," Menghayal saja dulu buat menghibur diri.


Soal jadi kenyataan atau tidak itu urusan nanti yang penting khayal saja dulu.


Bukannya menghayal salah satu cara bahagia yang sederhana, walau tanpa bisa memiliki dan orang yang kita khayal kan tidak tau dimana atau siapa setidaknya bisa membuat kita senang.


Itu mau bahagia atau belajar jadi orang gila.


Memikirkan hal yang tidak nyata hanya memberi rasa semu dan penyakit hati.


"Minum aja dulu sambil nungguin bang Endra, seret juga ngomong nggak jelas gini," Mengambil minuman favorite Lisa yang sudah di sediakan lalu meminum setengah.


Doyan atau haus?.


"Ini kepala kenapa rasanya mutar mutar ya? nggak lagi gempa kan? jangan gempa dong kan belum nikah," Tidak lama setelah Lisa minum dia merasakan ada hal aneh pada dirinya.

__ADS_1


Memegang kepala yang terasa pusing lalu minum lagi tapi kali ini air putih saja.


Namun tidak bisa memberi efek reda malah makin pusing dan pada akhirnya pandangan mulai gelap dan tidak sadarkan diri.


Pintu terbuka masuk seseorang lalu mengangkat badan Lisa dan membawa keluar.


Memasukkan ke dalam mobil dan meninggalkan restauran itu.


Di kampus.


Kelas hari ini sudah selesai hanya tinggal mengumpulkan tugas dan yang bertugas mengantar tugas ke ruang dosen adalah Rara.


Setiap jam ngajar Satyia selalu ada tugas dan Rara yang di minta buat mengantar ke ruangan nya.


"Tuh dosen lama lama Rara tabok juga lama lama, enak aja main nyuruh nyuruh kan ada dia yang biasa ngantar tugas ke dosen," Walau melakukan setengah ikhlas tapi tetap tata lakukan.


Mengumpulkan tugas teman satu kelas nya.


"Nabok pakai cinta ya Ra," Bisik sahabat Rara pelan agar tidak ada yang mendengar.


Sahabat lagi malas malah di goda.


"Nyari kesempatan dia mah," Balas Rara sambil berbisik juga.


"Dari pada nyari yang lain, mendingan cari kesempatan," Lagi lagi pengen di tabok seperti dosen mereka.


"Coba aja kalau dia brani, itu pun kalau dia amnesia kalau pendukung Rara adalah mama dia sendiri auto kalah sebelum berperang," Senang Rara.


Calon mertua idaman tidak tuh, berasa udah jadi anak sendiri yang selalu di bela padahal baru calon itu pun kalo jodoh dan tidak di tikung orang.


"Iya iya tau yang punya calon mertua idaman, udah sana anterin nanti doi ngambek lagi," Mendorong Rara agar segera pergi.


"Suruh siapa main nyuruh orang sesuka hati," Pergi juga dengan terus membaca mantra sepanjang koridor menuju ruangan dosen.


Entan mantra apa yang Rara baca hingga setiap orang yang berselisih sama dia memandang heran, ada juga yang berfikir lupa minum obat.


Bilang aja cantik cantik kok sinting.


**Tok...


Tok**...


Sampai ruangan itu Rara mengetuk pintu itu tapi tidak ada jawaban dari dalam.


Tidak mau menunggu lama jadi Rara membuka perlahan pintu itu dan melihat sekitar tidak ada pemilik ruangan.


"Di suruh ngantar tapi dia nggak ada.


Emang dosen suka seenaknya saja.

__ADS_1


Untung dosen kalau nggak nih buku udah Rara lempar ke wajahnya," Menuju meja lalu menaruh tugas yang di bawah ke atas meja.


Mengedarkan pandangan keseluruh ruangan hingga mata Rara menangkap sosok yang berdiri dekat pintu dengan mendekap tangan ke dada.


"Udah ngocehnya? tuh minum dulu biar nggak seret kalau mau ngomel lagi," Ya pemilik ruangan itu berdiri dekat pintu, sengaja pengen tau apa reaksi Rara kalau dia tidak ada di sana.


Tapi akhirnya dia bisa mendengar apa yang ingin dia tau.


Iseng, jail atau apa.


Ini kekasih sendiri masih aja di kerjain.


"itu pak tugasnya, kalau gitu saya permisi dulu," Berjalan ke arah pintu lalu membuka pintu tapi aneh tidak bisa di buka.


"Pak kenapa pintunya di kunci? saya mau keluar," Pinta Rara tidak mau lama lama berada di sana takut ada yang curiga dan menuduh mereka ngapain lagi di dalam karena lama.


"Coba ulangi?" Berjalan mendekat.


"Pak buka pintu nya, saya mau keluar," Memelas tidak mau berduaan walau kekasih sendiri tapi tetap saja ini lokasi kampus dan orang orang tidak ada yang tau hubungan mereka.


"Oh gitu, baik sekarang bantu saya koreksi tugas teman kamu baru setelah itu boleh keluar," Berjalan kemeja mengambil tugas yang Rara bawa tadi lalu meletakkan di meja kecil depan sofa.


"Ayo segera selesai kan baru setelah itu kamu boleh keluar," Tidak lupa meletakkan juga kertas jawaban buat Rara.


Rara tidak bergeming berdiri di tempat nya belum beranjak sama sekali.


Kenapa nada bicara Satyia seperti lagi ngajar, apa dia salah bicara?.


Seketika Rara ingat.


Bodoh, gerutu Rara ingat barusan manggil Satyia apa.


"Maaf kak," Menunduk mengaku salah, walau sederhana tapi Satyia tidak suka.


"Udah sadar?" Rara hanya mengangguk sebagai jawaban..


"Sini duduk?" Duduk di sofa lalu menepuk pelan tempat kosong di samping nya.


Rara menurut melangkah dan duduk.


"Jangan lupa lagi ya, kapan kita ke kampung besok udah mulai libur?" Rencana mereka berdua akan liburan di kampung Rara sekalian Satyia ingin kenal sama keluarga Rara.


"Besok juga boleh kak, nanti Rara izin sama kak Iva dulu," Satyia senang kalau Rara manggil dia kakak.


"Ya udah besok kakak jemput, sekarang udah boleh keluar jangan lupa makan ya," Membelai kepala Rara lembut lalu berdiri mengantar Rara sampai pintu.


"Iya kak, kakak juga jangan lupa makan," Keluar dari sana dengan perasaan lega karena tidak ada yang melihat Rara lama di dalam.


Bukan maksud apa, hanya saja hubungan sembunyi seperti orang lagi selingkuh sulit buat lama lama apa lagi di area kampus.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Tbc.


__ADS_2