
Malam harinya setelah selesai makan malam Rara mulai bicara sama pak Mat dan Bu Ami menanyakan soal asal orang tuanya atau mencari petunjuk asal dia.
Bisa saja ada petunjuk buat dia yang bisa memudahkan dia mencari titik terang dimana keberadaan orang tua kandungnya.
Pak Mat memberi tau kalau Rara lahir di sebuah klinik yang tidak terlalu besar di kampung sebelah yang berarti kedua orang tuanya bukan berasal asli dari sini.
Tapi kampung itu juga tidak terlalu jauh hanya butuh waktu satu jam buat ke sana dan rencananya besok selesai sarapan pagi akan pergi ke sana dan juga mengingat waktu libur Rara tidak lama.
Yang pasti di temani Satyia ke sana, semoga cepat selesai dan mereka berkumpul, doa Rara dalam hati.
Cukup lama berbincang mereka semua masuk kamar.
Pagi hari sesuai rencana semalam maka di sini mereka berdua berada di perjalanan menuju kampung sebelah tidak lama sampai di sebuah klinik yang cukup besar.
Ya wajar cukup besar karena sudah cukup lama jadi wajar banyak perkembangan.
Rara menuju klinik itu buat menanyakan informasi yang bisa saja dia dapat.
Namun bukti itu tidak banyak hanya ada file lama yang sudah kusam serta juga ada seperti video dokumentasi yang sudah di kemas dalam beberapa file sesuai tahun ke tahun.
Setelah di rasa cukup Rara mengucapkan terima kasih lalu pergi dari sana.
"Berarti ibu Rara nggak ada di kampung ini lagi kak?" Lesu Rara sebab info yang di dapat kalau ibu Rara langsung pergi dari kampung itu usai melahirkan.
"Jangan patah semangat, kita cari sama sama apa lagi kotanya sama dengan kita," Menguatkan hati kekasih yang sedang risau.
Jauh ke sana namun info yang di dapat kurang dan harus berpetualang ke kota.
"Semoga cepat ketemu ya kak," Tidak tega apa yang sudah menimpa Rara, kenapa kisah hidupnya begitu rumit.
Terpisah dari orang tua sejak kecil tapi satu yang paling Rara syukuri sebab di besarkan dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Gimana kita cepat balik supaya sebelum masuk kuliah kita cari dulu," Usul Satyia mengajak Rara balik cepat.
"Boleh kak, hari ini aja biar besok kita bisa melangkah," Semangat Rara ingin cepat balik.
Akhirnya sampai rumah Rara langsung pamitan balik dan dengan berat hati orang tua Rara melepas anaknya pergi lagi dan cuma bisa berdoa supaya Rara segera menemukan orang tuanya.
¶¶¶¶¶
Di rumah besar namun sederhana kata papa Syakil kini mereka lagi berkumpul di taman belakang.
Hari ini gilirannya sama Zio seharian jadi sejak tadi pagi sudah di jemput ke rumah panda dan mandanya lalu di antar Sekolah dan di tungguin hingga pulang.
Biasanya habis mengantar akan di jemput saat pulang Sekolah namun hari ini tidak sebab sudah pernah kecolongan sekali.
Pernah mengantar Zio Sekolah lalu pulang dan di jemput siang namun nasib baik tidak berpihak mereka keduluan sama panda Zio dan di bawa main hingga hari itu jadi hari sial bagi papa Syakil.
"Zio kalau opa yang antar Sekolah jangan mau pulang sama panda ya," Jika mengingat itu maka papa Syakil sungguh kesal satu hari sama Zio di curi juga.
Jangan salahkan panda opa tapi opa yang salah mau panda kibulin," Zio menjawab membuat mental papa Syakil drop.
Siapa yang di kibuli hanya kalah star saja.
Dan papa Syakil sudah buat rencana buat membalas perbuatan panda Zio.
Sejak dimana semua orang siapa Zio sebenarnya membuat waktu papa Syakil sama Zio berkurang, bukan sedikit ya tapi kurang banyak dan hanya dapat empat hari dalam satu bulan.
Malamnya Iva dan Zefan datang ke rumah papa Syakil karena kangen sama Zio.
Iva juga merasakan hal yang sama seperti papa Syakil namun tidak bisa berbuat banyak sebab sekarang Zio sudah milik banyak orang tidak seperti dulu yang hanya di kuasai dirinya dan papa Syakil.
"Zio mozi kangen," Baru masuk langsung mencari keberadaan Zio yang lagi main.
__ADS_1
"Iyo juga kengen mozi," Memeluk Iva tak kalah erat.
Kerinduan anak pada orang tua tidak bisa di pungkiri begitu juga dengan Iva.
Walau bukan orang tua kandung tapi bagi Zio Iva tetap mozinya dan entah sampai kapan itu akan di anggap.
"Sama daddy nggak kangen," Menyalip adegan melepas rindu merasa di abaikan.
"Kangen daddy juga tapi Iyo lebih kangen mozi.
Sorry dad," Membalas ucapan Zefan namun tidak di peluk hanya Iva yang di peluk dan tidak di lepas.
"Daddy nangis nih," Tidak terima di cueki anak sendiri.
"Muka daddy nggak cocok sedih, cocoknya jadi ATM Iyo," Zefan melongo mendengar ucapan Zio.
Jadi ATM apa maksudnya? ATM berjalan gitu.
Dapat kosa kata dari mana.
"Siapa yang mau nangis coba, liat nih daddy senyum," Menampilkan senyum manis pada Zio hingga membuat semua orang disana tergelak melihat interaksi daddy dan anak itu.
"Jangan di paksa dad kalau nggak bisa," Lalu lepas dari pelukan Iva dan melanjutkan bermain.
"Karungin boleh nggak sih tuh anak bikin gemes aja," Ya siapa yang tidak suka sama Zio dia juga termasuk anak yang mudah dekat sama orang baru namun bukan berarti dia bisa di pegang sembarangan sebab dengan orang baru hanya mau di ajak bicara sebagai bentuk menghargai jika ada yang mengajak bicara.
"Karung nggak ada yang ada cuma kantong kresek," Balas papa Syakil hingga lagi mereka semua tertawa.
Banyangin aja Zio masuk kantong kresek apa tidak bakal gempar dunia melihat cucu kesayangan tiga keluarga besar dengan wajah cemberut atau bisa saja dia teriak dengan mengucapkan ganti keluarga.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Bersambung.