
Di dalam mobil yang terdapat Zio belum sadarkan diri dari obat bius yang menyebabkan bocah tampan itu tertidur lelap.
Apa karena lagi mimpi indah, efek obat yang kuat atau lagi keenakan tidur.
Ah kalau lagi tidur sudah tampan imut lagi, rasanya pengen cubit tapi bukan buat orang yang membawa Zio dia merasa geram dengan Zio yang bisa dengan mudah mendapatkan hati pujaan hatinya.
Dia yang susah payah berjuang tapi orang lain yang mendapat, jika di kenang lagi maka dia ingin segera melenyapkan siapa saja yang menghalangi segala rencananya.
"Enak sekali hidup kalian, saya yang berjuang kalian yang bahagia.
Ini akan segera berakhir liat aja nanti dan saya pastikan kalian ngak akan bertemu lagi," Sinis dia melihat Zio yang masih enggan membuka mata atau tanda tanda akan bangun.
"Saya udah tak sabar melihat air mata kesedihan dan kehancuran di antara kalian," Membayangkan rencana yang tinggal sedikit lagi akan terlaksana dan mendapat apa yang dia mau.
Hah tinggal sebentar lagi dan semua yang dia mau akan tercapai.
Melihat orang yang telah bahagia di atas derita dia dan kini posisi itu akan terbalik.
Akan menyaksikan air mata berjatuhan di antara mereka serta keterpurukan yang mendalam.
"Dasar kebo, udah sejak tadi masih diam aja tidur.
Tapi tak apa setidaknya ini lebih baik dari pada kamu bangun dan berisik," Zio di letakkan di kursi paling belakang dengan keadaan tangan di ikat serta mulut di kasih sapu tangan buat membungkam agar saat bangun tidak berisik.
Satu langkah sudah di depan tinggal menunggu mommy sang anak yang memohon minta anaknya di lepaskan dan dia mendapatkan apa yang dia inginkan.
Dia tidak mau bertindak sejauh ini hanya saja tidak ada yang mengerti sama apa yang dia rasakan serta orang yang dia cinta memilih orang lain di banding dirinya, siapa yang tidak sakit hati coba.
Hingga mobil itu sampai di sebuah rumah besar namun sepi hanya penjaga depan yang ada membuka kan pintu lalu di tutup lagi setelah mobil itu lewat.
"Tarok aja di lantai," Titah dia pada seseorang yang mengangkat badan mungil itu lalu menaruh di atas lantai saja, sungguh kejam dan tak berperasaan.
Di ruangan itu ada ranjang kenapa tidak di atas ranjang saja kan udah dekat juga.
Nama nya juga bukan ngajak nginap jadi merasa tidak perlu tidur di atas ranjang, begitu kira kira fikir nya.
Orang itu keluar dari ruangan itu meninggalkan perempuan yang membawa Zio tadi hanya berdua saja.
"Tidur nyenyak lah sebelum ngak bisa tidur lagi," Menepuk pipi chubby itu lalu keluar dari sana dan mengunci pintu dari luar.
"Jaga bocah itu jangan sampai berisik kalau udah bangun dan ingat jangan kasih makan biar aja," Kejam begitu fikir lelaki berbadan kekar yang lagi berdiri di depan pintu.
__ADS_1
"Baik nona," Hanya bisa menjalani tugas agar uang yang dia dapat nanti tidak berkurang sedikit pun.
Sebenarnya manusia tidak jahat hanya kadang kala keadaan yang menjadikan dia seperti itu serta situasi tertentu menyebabkan dia terlihat jahat.
Yang tampak luar belum tentu itu juga yang sebenarnya bisa saja hanya topeng belaka begitu juga dengan orang baik, belum tentu baik luar baik juga di dalam.
\=\=
Di sebuah ruangan terbilang cukup sederhana dua pasang anak manusia sedang membahas apa langkah yang akan mereka ambil buat melepaskan Zio tanpa harus menyakiti atau membuat troma nanti.
Anak kecil sulit buat di hadapkan pada kondisi yang membuat dia terguncang hingga mengakibatkan psikisnya terganggu atau lebih parah sulit bertemu orang asing.
"Va aku ngak mau berpisah sama Zio untuk yang kedua kali," Isak tangis Lisa yang tak kunjung reda dalam dekapan Endra.
Ya mereka memutuskan buat berkumpul sebelum bertindak serta menyusun rencana.
"Kamu fikir cuma kamu yang mau berpisah sama Zio Lisa.
Iva juga ngak mau, Iva udah sama Zio sejak kecil dan itu tak bisa di pungkiri kalau Iva udah menyayangi Zio seperti anak Iva sendiri," Isak Iva tak kalah sama Lisa dalam dekapan Zefan.
Zefan yang mendengar ucapan Iva terdiam.
Apa maksud Iva menyayangi Zio seperti anak dia sendiri? bukannya Zio anak Iva? itu yang Zefan tau lalu kenapa Iva bicara seperti itu seolah Zio bukan anak dia, begitu fikir Iva.
Dan sekarang saat moment itu ada malah jadi begini.
Kamu tau gimana hancurnya perasaan aku Va," Cerca Lisa yang terus memikirkan keberadaan Zio dimana.
"lalu Iva kamu anggap apa Sa? kamu anggap pengasuh dia aja selama ini? kamu fikir Iva ngak cemas memikirkan Zio.
Walau Zio bukan anak kandung Iva tapi Iva udah begitu menyayangi Zio selama ini.
Iva yang membesarkan Zio sejak kecil hingga sekarang.
Iva yang menyaksikan setiap tumbuh kembang Zio selama ini.
Kamu jangan egois mengatakan kalau cuma kamu yang tersakiti disini," Sekarang Zefan tau kalau Zio bukan anak kandung Iva.
Kalau bukan Iva ibu kandung Zio lalu siapa? apa mungkin Lisa batin Zefan.
"Maafin aku Va, aku terlalu cemas memikirkan Zio," Sesal Lisa menyadari kalau Iva sama hal merasakan apa yang dia rasakan.
__ADS_1
Terpukul sama apa yang menimpa Zio, dua orang Ibu yang kehilangan anak tidak tau dimana sekarang.
"Aku cuma takut ngak ada kesempatan buat membesarkan Zio nanti setelah sekian lama.
Aku cuma mau minta sama kamu Va, setelah ini izinkan aku tinggal bersama Zio berdua aja walau aku tau Zio belum tentu mau meninggalkan kamu.
Karena yang dia tau kamu ibu nya selama ini.
Tapi izinkan aku buat mengganti waktu yang terbuang selama ini," Pinta Lisa penuh harap.
Sebagai seorang ibu yang melahirkan Zio pasti ingin selalu bersama Zio.
"Iva udah memikirkan itu sejak awal ini akan terjadi.
Kamu ngak perlu kwatir Sa, Zio akan tetap selamanya anak kamu dan Iva akan memberi pengertian sama Zio pelan pelan tapi kamu harus sabar menunggu.
Dan untuk kamu bang Endra, Iva minta jaga Lisa dan Zio setelah ini jangan pernah sia siakan atau tinggalkan mereka lagi seperti dulu sebab kalau itu terjadi maka hari itu hari terakhir kalian berjumpa.
Kamu tau kan gimana susahnya mencari Lisa tapi ngak ada titik terang," Jelas Iva panjang lebar.
Endra terdiam mendengar ucapan Iva, jadi selama ini Iva di balik ini pantas dia tidak bisa menemukan Lisa dan siapa yang membantu dia menyembunyikan Lisa.
Dan Zefan yang jauh lebih terkejut, dengan Iva bukan ibu kandung Zio serta siapa ayah dari Zio membuat dia bungkam tidak tau mau bicara apa.
Pantas dia merasa mirip sama Zio ternyata Zio anak abang dia sendiri.
"Saya berjanji Va akan menjaga permata saya dengan baik, saya ngak mau menyiakan mereka lagi cukup satu kali saya merasa bodoh kehilangan mereka dan itu sangat menyiksa," Tutur Endra tegas sebab dia sudah berjanji pada dirinya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama buat kedua kali dan bukan berarti akan membuat kesalahan baru juga.
"Mas kenapa diam dari tadi?" Sadar Iva sebab Zefan hanya jadi pendengar saja tidak mengeluarkan suara meski hanya kaya oh.
"Mas masih syok sama apa yang mas dengar Zi, ini terlalu mendadak," Siapa yang tidak syok coba.
Tunangan yang dia sangka janda ternyata masih gadis, anak yang dia sayangi dan memanggil dia daddy ternyata anak abang dia sendiri.
Lalu siapa yang tidak terkejut.
"Maafin Iva yang belum menceritakan siapa Zio sebenarnya mas," Memegang tangan Zefan dengan sesal sudah menyembunyikan rahasia besar pada tunangan nya itu.
Seharusnya terbuka sejak awal dan Zefan tidak akan terkejut lebih.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Tbc.