
Sejak pertemuan Zefan dan Vani sampai sekarang mama Zefan belum sempat bicara sama Zefan karena Zefan akhir akhir ini sibuk sama pekerjaan dan jarang pulang cepat.
Dan pagi ini sepertinya kesempatan itu ada bagi mama Zefan bicara sama Zefan.
"Zefan apa gimana pertemuan mu sama anak teman mama?," Selesai sarapan mereka belum ada yang beranjak.
"Lancar aja ma, tidak ada kendala," Jujur Zefan karena dia merasa pertemuan itu hanya biasa saja.
"Gimana menurut mu Vani itu? cocokkan pilihan mama?," Mama Zefan sudah mendengar cerita temannya itu.
Mama Zefan sangat marah mendengar cerita itu tapi masih berusaha bersifat tenang ingin tau dulu cerita dari Zefan.
"Kalau masalah itu Zefan tidak bisa menerima ma dan juga pertemuan pertama saja terkesan kurang baik," Jelas Zefan merasa bahwa Vani bukan pilihan yang pas buat dia yang suka perempuan sedikit kalem, berpakaian sopan, punya rasa malu dan pasti rasa itu tidak ada buat Vani.
"Apa kurangnya anak teman mama? perempuan berpendidikan, dari keluarga terpandang, cantik, dan lulusan luar Negeri lagi," Mau mencari calon istri seperti itu kemana lagi, sangat susah di dapatkan zaman sekarang, begitu kira kira fikiran mama Zefan.
"Semua itu memang benar ma, tapi Zefan tidak suka cara berpakaian seperti kurang bahan, tidak punya sopan santun, baru datang udah nempel sama Zefan dan kalau sampai Zefan mau sama dia mau di bawa kemana rumah tangga kami?," Banyak alasan yang menjadikan Zefan menolak pilihan mamanya dan juga Zefan mau mendahulukan sang abang yang belum menikah sampai sekarang.
"Alasan kamu ngak jelas Van, itu bisa di ubah kalau dia sudah jadi istri kamu nanti.
Pokoknya mama ngak mau tau kamu harus segera bertunangan sama dia secepatnya.
__ADS_1
Dan satu lagi siapa anak kecil yang datang menemui mu saat kamu bertemu anak teman mama dan dia memanggil kamu daddy? jangan bilang itu anak kamu sama simpanan mu.
Kalau sampai mama tau kamu sudah punya anak maka akan mama pastikan kamu ngak akan pernah mama anggap anak lagi dan anak beserta perempuan itu akan mama singkirkan," Kalau sampai itu beneran maka secepatnya mama Zefan segera bertindak buat memisahkan mereka karena sampai kapan pun mama Zefan tidak akan pernah setuju.
"Siapa yang mama maksud, Zio? mama jangan asal percaya sama orang," Zefan tidak sekarang akan membahas Zio, takut mamanya akan bertindak lebih.
"Oh jadi namanya Zio, cukup bagus untuk sebuah nama tapi jangan salahkan mama kalau terjadi sesuatu sama bocah itu," Seperti dugaan Zefan, mamanya sangat nekat orangnya bahkan mau menyingkirkan orang yang tidak bersalah sekali pun.
"Mama jangan melewati batas ma, dia tidak tau apa apa jadi Zefan harap mama tau batasan dalam bertindak," Sepertinya sekarang Zefan harus mulai waspada sama mamanya yang tidak pandang bulu kalau menyingkirkan orang.
"Kamu liat saja nanti,"
Dulu mamanya sangat gigih menjodohkan sang abang yang sebenarnya saat itu sudah memiliki kekasih saat itu namun mamanya tidak peduli akan hal itu dan tetap melaksanakan apa yang sudah dia rencanakan hingga menyingkirkan kekasih abangnya dengan cara licik hingga mereka berpisah dan saat itu juga sang abang memilih keluar dari rumah namun tidak ada kedamaian itu karena keegoisan mamanya.
"Dulu itu hanya abang mu saja yang bodoh, memilih perempuan miskin itu dan menolak pilihan mama.
Bahkan dia memilih pergi dari pada mengikuti kemauan mama," Masih belum sadar juga sampai sekarang, dengan cara apa lagi harus menyadarkan sang mama yang sangat pemilih dalam mencari calon menantu.
"Siapa juga yang mau sama perempuan yang bisa di bilang seperti member cabe cabean bahkan bajunya cocok buat anak Sekolah saking kecilnya," Itu juga yang Zefan rasakan bertemu Vani hari itu.
"Jaga ucapan mu Zefan, mereka keluarga terpandang ngak sepantasnya kamu menghina anaknya," Meninggikan suara tanda amarah sudah sampai pada puncaknya.
__ADS_1
"Ma udah ya, biarkan anak anak mencari pendamping sesuai selera mereka.
Jika kita mmemaksa mereka apa mama bisa menjamin bahwa mereka akan bahagia sama pernikahan mereka," Sang papa yang sedari tadi hanya diam saja membuka suara saat mendengar perdebatan itu tak kunjung usai dan malah makin memanas.
"Papa ngak tau apa yang mama fikirkan?," Kesal sang mama merasa suami sendiri tidak mendukung keputusan dan pilihan dia.
"Justru papa tau makanya papa tidak mau memaksa Zefan sama pilihan mama.
Yang pertama siapa yang akan menjamin Zefan akan bahagia sama pernikahan mereka, kedua apa mama sudah pasti kalau dia memang perempuan baik baik mengingat dia pernah kuliah di luar Negeri juga pergaulan disana yang begitu bebas, ketiga apa mama mau kalau anak mau pun menantu mama kelak sibuk sama pekerjaan masing masing, keempat yang paling penting yang harus mama lakukan adalah meminta maaf sama Endra dan bujuk buat pulang lagi,"
"Apa mama akan bahagia jika anak mama tidak bahagia sama pilihan mama? apa mama mau Zefan juga ikutan keluar dari rumah ini? dan apa mama mau selamanya anak mama membenci mama?," Panjang lebar menjelaskan kenapa tidak setuju sama istrinya dan membiarkan anaknya memilih pendamping hidup sendiri.
"Sudah papa sama Zefan sama saja ngak ada yang mau mengerti," Meninggalkan suami dan anaknya di meja makan itu.
"Kalau papa terserah kamu mau calon istri seperti apa, yang jelas dia sayang sama kamu, sama keluarga dan menerima kamu apa adanya.
Ucapan mama jangan di fikirkan," Beranjak juga dari sana dan mengikuti sang istri guna membujuk serta menyadarkan bahwa apa yang di lakukan selama ini salah.
\=\=\=\=\=
Tbc.
__ADS_1