My Handsome Daddy

My Handsome Daddy
Hanya Merusak Generasi.


__ADS_3

Sudah beberapa bulan ini kedekatan trio Z yang siapa saja melihat mereka jalan bersama akan menganggap kalau mereka adalah keluarga kecil bahagia.


Namun


Namun semua itu hanya tipuan saja dan pada kenyataan mereka hanya sekedar berteman tapi semua itu hanya orang terdekat yang tau kalau mereka tidak memiliki hubungan.


"Daddy sebentar lagi Zio libur Sekolah, daddy ngak mau ngajak Zio jalan jalan?," Sama seperti hari biasa Zio banyak menghabiskan waktu bersama Zefan kalau siang hari karena pulang Zio Sekolah Zefan sudah menunggu di luar pagar menunggu Zio keluar namun semua itu sudah dapat izin dari Ziva.


"Zio mau liburan pergi kemana?," Inilah Zefan sosok Ayah yang luar biasa selalu mencurahkan kasih sayang pada Zio yang bukan anak kandungnya.


Sebagian orang yang melihat Zio akan mengatakan kalau dia mirip Zefan namun hanya di balas senyuman saja sama Zefan, bagaimana bisa mirip dia sedangkan mereka saja baru kenal dan dari mananya Zio mirip dirinya.


"Zio mau taman bermain daddy, naik wahana yang bbaaaaannyyyaaakkk," Sambil Mengangkat tangan lalu membuka kanan kiri menandakan banyak.


"Iya nanti daddy ajak ya, tapi izin sama mozi dulu ya," Setiap kali pertemuan mereka berdua sudah pasti mendapat izin dari Ziva kalau tidak mana mungkin mereka berdua bisa menghabiskan waktu bersama.


"Siap daddy," Angkat tangan seperti orang hormat bendera saat upacara.


Kini mereka berada di kantor Zefan yang megah, luas serta mewah itu.


Baju ganti Zio saja sampai Zefan sediakan biar Zio nyaman berada disana karena tidak perlu memakai baju Sekolah sampai sore hingga di jemput Ziva dan kalau tidak sempat jemput maka sudah ada supir yang datang.


"Zefan," Panggil seseorang yang baru masuk ke ruangan Zefan tanpa mengetuk pintu.


"Mama datang? mama sama siapa?," Belum mamanya menjawab seorang perempuan seksi juga ikutan masuk sambil menyunggingkan senyum manis namun tidak bisa membuat Zefan tertarik.


"Mama sama calon menantu mama, sini Van duduk dekat mama," Sudah panggil mama saja belum tentu Zefan mau menikah sama dia.


Kalau tidak jadikan malu udah panggil mama tapi kenyataan hanya sekedar panggillan saja tanpa bisa menikah sama anak orang itu.


"Iya ma," Memasang wajah polos menandakan kalau dia calon menantu idaman dan bersikap ramah yang selalu tersenyum.

__ADS_1


"Fan anak kecil ini siapa?," Melihat Zio yang berdiri di samping kursi yang Zefan duduki.


Saat mendengar suara perempuan masuk Zio langsung berlari kemeja Zefan karena mendengar suara asing masuk ruangan itu, biasanya cuma sekretaris Zefan yang sering masuk bukan orang lain.


"Daddy Zio takut," Dengan cepat Zefan memangku Zio dan mendekapnya.


Sorot mata itu yang membuat Zio ketakutan bukan tanpa alasan sebagai anak kecil maka dia tau mana orang yang suka atau tidak menyukai dirinya.


"Zio jangan takut ada daddy disini," Menenangjan Zio melupakan sejenak kehadiran mamanya.


"Zefan kamu apa apaan ini? dia panggil kamu daddy padahal kamu belum menikah sama sekali.


Siapa dia? apa dia anak kecil yang dulu mengganggu pertemuan mu sama Vani," Dulu saja hanya sekedar mendengar cerita temannya tentang anak kecil yang mengganggu pertemuan antara anak mereka saja dia sudah marah apa lagi kini dia melihat langsung bagaimana anak kecil itu memanggil Zefan dengan sebutan daddy.


"Ma kalau bicara di depan anak kecil jaga nada bicara mama," Zefan tidak mau kalau Zio sampai ketakutan atau merasa trauma dengan suara yang bernada tinggi.


Selama ini Ziva mengajarkan Zio bahwa kalau bicara harus menggunakan nada bicara yang rendah dan sopan pada siapa saja baik yang tua atau kecil dari kita.


Apa dia lupa bahwa kalau saling mengingatkan itu tidak perlu memandang usia sebab kita sebagai manusia ada kala khilaf atau lupa hingga bagi siapa saja yang melihat atau mendengar maka wajib menegur tanpa melihat usia atau pada siapa kita bicara.


"Zio masuk kamar ya dan tekan tombol merah dekat pintu ok," Pinta Zefan dan Zio segera turun dari pangkuan Zefan lalu masuk ke dalam kamar yang ada di dalam ruangan itu.


Maksud Zefan menekan tombol merah untuk mengaktifkan mode kedap suara agar Zio tidak dapat mendengar apa yang akan mereka bicarakan.


"Jawab Zefan dia anak siapa? kenapa wajah kalian sedikit mirip?," Bukan orang lain saja yang melihat kemiripan mereka, mama Zefan juga melihatnya.


"Mungkin karena kami sering bersama makanya kami mirip ma," Bukan jawaban ini yang di mau mama Zefan.


"Atau kamu sudah punya anak sama perempuan lain kalau sampai itu terjadi maka ini hari terakhir kalian berjumpa," Tidak semudah itu ferguso menyingkirkan si Zio tampan dan menggemaskan itu.


Hadapi dulu mozi Zio yang selalu menjaga Zio dua puluh empat jam tidak ada henti itu.

__ADS_1


Jika di lihat sekilas Zio memang seperti anak pada umunya namun siapa sangka kalau penjagaan Zio lebih ketat dari seorang anak pejabat.


"Mama jangan melebihi batas ma kalau bertindak, Zefan sudah pernah bilang jangan libatkan orang yang tidak bersalah kalau mama tidak mau kena dampaknya nanti," Selain Ziva, Zefan juga sudah menyuruh orang untuk menjaga Zio jika tidak bersama dia.


Enak banget ya jadi Zio berasa jadi anak sultan saja, mau dong Zio jadi kakak Zio tapi apalah daya semua itu hanya bisa terwujud dalam mimpi.


"Mama jangan terbawa emosi ma," Vani memegang tangan calon mertuanya itu, dia melakukan itu hanya mencari simpati saja supaya semua rencana yang sudah di susun bisa berjalan mulus.


"Iya Vani, makasih ya kamu memang anak baik dan pantas bersama Zefan," Tidak tau saja kalau sudah ada udang di balik bakwan.


Kalau bukan karena harta berlimpah yang sudah ada di depan mata mana mau aku melakukan hal menjijikan ini.


Sabar Vani ini hanya sebentar setelah menikah sama Zefan nanti kamu tidak butuh perempuan tua ini lagi.


"Kamu liat Fan, kurang apa lagi Vani ini.


Kamu mau mencari calon istri seperti apa lagi?," Tidak habis fikir sama jalan fikiran Zefan yang sampai sekarang belum memberi keputusan.


"Bajunya kurang bahan ma, masa anak keluarga kaya pakai baju kayak make baju adeknya padahal dia anak tunggal," Terlintas begitu saja sama Zefan ucapan Zio saat mereka bertemu saat pertama kali.


"Jaga ucapan mu Zefan," Amarah sudah di ubun ubun, bagaimana bisa Zefan menghina calon istri sendiri.


"Zefan hanya bicara fakta ma, udah ya ma Zefan masih ada kerjaan," Berdebat sama mamanya tidak akan pernah habis.


Zefan melanjutkan pekerjaan dari pada meladeni mama sampai pagi tidak akan mengalah.


Merasa di acuhkan kedua perempuan beda usia itu meninggalkan ruangan Zefan dengan hasil menjengkelkan buat mereka tapi tidak bagi Zefan.


\=\=\=\=\=


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2