
Setiap perasaan tidak bisa di paksa, akan pada siapa dia akan berlabuh atau pada siapa dia akan terpaut.
Kadang kemauan hati tidak sama dengan fikiran, kadang hati menginginkan A disaat yang sama fikiran minta B.
Hati dan fikiran kadang tidak jalan satu arah bahkan sering berlawanan arah.
Hati ingin yang terbaik kadang fikiran hanya terlintas kesenangan sesaat.
Di kampur Rara atau yang akrab di panggil mbak Rara itu lagi berada di perpustakaan seorang diri sedangkan sahabatnya memilih ke kantin buat mengisi perut dulu.
"Sendiri aja?" Seseorang duduk di kursi kosong di samping Rara.
"Iya," Balas Rara singkat, selain canggung Rara masih suka terngiang sama ucapan Iva beberapa hari yang lalu.
Tentang kamu kira papa akan mengizinkan anaknya pergi untuk hal yang ngak penting.
Mulai saat itu Rara mulai berfikir keras apa iya yang di bilang Iva itu beneran.
"Kenapa? saya ganggu ya?" Heran orang yang duduk di samping Rara siapa lagi kalau bukan Satyia dosen tampan sekali gus idola di kampus.
Siapa saja tidak akan bisa menolak pesona dia hanya saja Rara suka mengelak kalau membahas itu.
Bukan tidak tertarik hanya dia ingin fokus sama kuliah dulu, kalau soal pasangan Rara belum terlalu memikirkan itu.
"Bukan gitu pak, tapi Rara ngak enak kalau ada yang lihat," Memperhatikan sekitar yang ternyata keadaan berpihak pada mereka berdua.
Suasana cukup sepi jadi tidak perlu was was juga.
"Tuh lihat sepi kan," Rara hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban lalu melanjutkan membuat tugas yang hampir selesai.
"Japan ngapain kesini?" Tidak biasanya tuh dosen ada pustaka jam istirahat lagi, kan biasa dosen akan ngumpul sama yang lain.
"Cariin kamu," Dua kata singkat itu cukup membuat kinerja detak jantung Rara bekerja dua kali lipat.
"Ngapain di cari pak? kan Rara ngak hilang," Itu polos atau pura pura ya atau memang sangaja.
Selain jantung yang tidak bisa diam wajah Rara menunjukan kalau dia lagi malu malu mau juga.
"Iya siapa yang bilang hilang, tapi kamu bawa hati saya makanya saya cariin.
Jangan panggil pak kan sekarang hanya kita berdua," Ingat kesepakatan mereka yang akan mengubah nama panggillan kalau lagi berdua.
"Iya kak," Bisa tidak pergi lebih cepat, Rara sudah tidak kuat duduk berdekatan lebih lama lagi tidak baik buat kesehatan jantung.
"Buat tugas apa," Merasa kesal di cuekin Rara lagian siapa juga yang nyuruh dia duduk disana, tidak ada kan.
__ADS_1
"Tugas kakak," Memperlihatkan tugas yang tinggal sedikit lagi.
"Rajin banget sih," Puji Satyia melihat Rara yang mengerjakan tugas di berikan tadi padahal akan di kumpul seminggu lagi.
"Bukan, ini hanya aja lagi senggang aja jadi kerja in aja kak biar ngak lupa juga," Balas Rara merapikan buku yang berserakan di meja dan menaruh lagi di rak sebelumnya.
"Udah siap?" Tanya Satyia.
"Udah kak," Mengambil tas lalu siap pergi dari sana.
"Mau kemana?" Heran Satyia melihat Rara yang mau beranjak.
"Pulang kak, kelas Rara juga udah selesai," Berjalan keluar namun di cegah Satyia.
"Kakak antar ya," Tawar Satyia mengikuti langkah Rara.
"Ngak usah kak, ngak enak di lihat orang," Tolak Rara halus dan juga mereka tidak begitu dekat.
"Kenapa? apa kamu takut ada yang marah? atau kamu udah ada yang punya?" Rara menggeleng.
Bukan itu hanya saja tidak mau ada gosip menyangkut dia nanti.
"Ya udah saya antar," Ucap telak Satyia.
Sepuluh menit Rara menunggu mobil Satyia datang dan Rara langsung masuk tanpa menunggu lama.
Jantung tolong jantung Rara tidak bisa diam.
Plis berdua dalam mobil cukup membuat Rara susah bernafas dan merasa panas walau AC hidup.
"Ra," Panggil Satyia lembut sambil melirik sekilas pada Rara yang duduk di sebelahnya.
"I iya kak," Gugup Rara sebab nada suara Satyia jauh berbeda dari biasanya.
"Kamu udah punya kekasih?" Pertanyaan itu cukup membuat Rara terdiam. Apa maksudnya bertanya seperti itu.
Nafas Rara tercekat dan tidak tau harus melakukan apa?.
"Kenapa diam?" Lanjut Satyia kala belum mendapat jawaban yang di inginkan dari Rara.
"Be belum kak," Jawab lirih Rara lalu menundukkan kepala.
Satyia bernafas lega, setidaknya dia tidak lagi mendekati cewek orang.
"Kamu tau kan saya suka sama kamu?" Rara menggeleng, tidak tau juga dan juga dia hanya fokus sama kuliah.
__ADS_1
"Kamu tau maksud saya mengajak kamu bertemu orang tua saya.
Saya sudah menaruh hati sama kamu sejak pertama masuk ngajar jadi dosen disini.
Kamu datang ke rumah waktu itu hanya alasan saya saja dan kebetulan kamu mau.
Saya sudah lama menyukai kamu dan baru sekarang saya berani bilang saat kita sudah mulai dekat.
Saya bicara begini hanya ingin jujur tentang perasaan saya sama kamu.
Kalau kamu mau jawab sekarang silahkan dan kalau tidak juga tak apa.
Sekarang saya sudah lega setelah bicara," Begitu panjang ucapan Satyia sama Rara.
Rara tertegun sama ucapan dosen idola nya itu, Rara tidak menyangka dosen itu akan mengungkapkan isi hatinya sama Rara.
Bagaimana bisa dosen itu menaruh hati sama Rara, jika di lihat Rara hanya gadis biasa yang tidak sama dengan mahasiswa lain yang ada di kampus nya
Lalu dari segi apa dosen itu menyukai diri nya.
Cantik, ya kalau cewek cantik itu relatif ya.
Lalu dari segi apa Rara punya daya tarik di mata dosen itu.
"Tidak apa kalau tidak di jawab sekarang saya lega setelah mengungkapkan apa yang saya rasa.
Jangan di fikirkan anggap saja saya lagi curhat," Rara masih dalam mode diam.
Lidah dia kelu mau bicara, ini terlalu dadakan buat Rara di saat perasaan dia mulai bimbang sebab ketenangan hatinya mulai terusik sejak Iva bicara tentang Satyia.
"Maaf," Cuma satu kata itu yang sanggup Rara ucapkan dan itu butuh kekuatan buat bicara.
"Tidak apa, saya tidak akan memaksa perasaan kok," Ada sedikit kecewa di hati Satyia saat ungkapan perasaan dia hanya di balas satu kata yaitu maaf.
"Maaf kak Rara butuh waktu buat memikirkan ini," Tambah Rara memberanikan diri menatap Satyia yang mana mobil itu lagi berhenti di tepi jalan.
"Berapa lama?" Satyia juga butuh kepastian dan bisa juga nanti akan bertindak seperti apa.
"Dua hari," Terlintas begitu saja di fikiran Rara.
Dua hari ini yang akan menentukan nasib perasaan Satyia, di terima atau di tolak dan siap menerima rasa perih.
\=\=\=\=\=
Bersambung Okey,,,
__ADS_1