My Handsome Daddy

My Handsome Daddy
Sebentar Lagi.


__ADS_3

Aula besar itu sudah di sulap menjadi ruangan yang sangat mewah dengan tatanan bunga sepanjang jalan menuju tempat akan di adakan pertunanganan malam ini.


Semua tampak sempurna tidak ada cela sedikit pun, bahkan jika di lihat dari kursi yang ada sangat banyak tamu yang di undang dalam acara malam ini.


Bagi siapa saja yang melihat akan merasa iri tapi mereka bisa apa, hanya bisa gigit jari atau mencari pendamping yang kaya raya juga buat bisa meraskan hal ini juga.


Kabar berita pertunanganan itu sudah beredar seminggu yang lalu hingga pemburu berita sangat menantikan hari ini tiba.


Hingga seseorang yang jauh di sana datang buat melihat langsung acara itu sekali gus memastikan sesuatu.


"Fan lo yakin mau tunangan sama perempuan pilihan mama, abang dengar kamu lagi menjalin kasih sama seseorang tapi ya walau dia udah punya anak," Endra abang Zefan masuk kamar dia yang lagi merapikan jas yang dia kenakan.


"Iya bang.


Kalau itu bukan yang abang tau tapi beneran tau sampai sedetail itu," Nah dapat skak dari Zefan, lagian kalau tau cuma sedikit ini malah lengkap.


"Tapi cantik ngak Fan?" Mendekati Zefan yang lagi bercermin.


Memperhatikan penampilan Zefan yang sangat sempurna tidak kelihatan seperti.


"Di jodoh kan aja penampilan lo perfect gini, gimana pilihan sendiri coba?" Penampilan Zefan seperti sudah di persiapkan buat malam ini.


"Kan ngak mau buat mama malu bang," Bisa saja kalau menjawab.


"Yuk turun bang," Berjalan beriringan menuju ruangan keluarga di sana sudah menunggu dengan seragam mereka malam ini.


Namun pandangan mama mereka pada pakaian yang di gunakan Zefan, hingga.


"Apa apaan ini Fan? kenapa baju kamu beda sama punya Vani?" Nah kan suara tidak suka itu keluar lagi.


"Ini yang abang malas pulang, omelan mama," Bisik Endra pada telinga Zefan.


Di balas anggukan sama Zefan.


"Mama bicara sama kamu Fan kenapa malah bisik bisik gitu?


Ganti sama baju yang udah mama kasih," Semalam mama Zefan sudah mengasih jas lengkap sama Zefan yang seragam sama Vani tapi sekarang Zefan menggunakan baju lain siapa yang tidak marah coba.


"Ini baju juga ma yang penting pakai bajukan, ya kecuali," Jeda Zefan melihat wajah mamanya yang terlihat sedang menahan amarah.

__ADS_1


"Kecuali apa?" Nada suara itu sudah tidak bersahabat lagi.


"Malam pertama, udah kita berangkat sekarang ntar kita datang telat lagi dari tamu kan malu," Berjalan duluan meninggalkan tiga orang yang mematung mencerna ucapan Zefan barusan.


"Apa katanya tadi malam pertama, seperti nya udah ngak sabar mau nikah," Akhirnya mereka ikut menyusul Zefan menuju tempat di adakan acara sekitar satu jam lagi.


\=\=


Di rumah besar itu perempuan cantik itu terus melihat riasan dia sebab tidak mau ada kekurangan dan membuat dia kurang percaya diri.


"Sayang udah dandannya, nanti kita telat lagi," Panggil mama Vani yang sudah menunggu di bawah dengan papanya.


"Iya ma ini udah siap," Melangkah anggun menuruni tangga dengan gaun seksi memperlihatkan lekuk tubuh serta payudara yang seakan mau melompat dari sangkar, yah sangkar di kira burung kali.


"Kamu cantik banget sayang, mama yakin Zefan akan terpesona sama kamu malam ini," Puji sang mama takjup sama penampilan Vani.


"Iya dong ma, kalau bisa Zefan langsung minta nikah aja," Jangan terlalu percaya diri, jatuh sakit loh.


"Itu harus sayang ngak perlu lama lama dan juga mama kesal sebab dia begitu menolak di jodohkan sama kamu sayang," Sudah punya rencana rupanya.


Memang ya tidak salah anaknya seperti ini emaknya saja tidak beda jauh.


"Ya udah sekarang kita berangkat," Sang papa menyela perbincangan kedua perempuan beda usia itu.


\=\=


Sama halnya dengan Iva yang lagi berdandan di kamar pribadinya setelah pulang dari salon tadi Zefan menyuruh Iva bersiap serta memakai baju yang sudah di berikan kemarin.


"Ini ada acara apa sih? kok di kasih gaun segala apa menghadari acara? tapi mas Zefan ngak bilang apa apa," Walau kepala cantik itu penuh tanda tanya tapi tetap melakukan apa yang di suruh Zefan.


Tidak ingin mengecewakan pujaan hati dan juga malam ini penampilan Iva berubah 180 derajat dari biasa yang suka berpenampilan sederhana.


Ya dari dulu Iva lebih suka penampilan sederhana dan tidak ribet maka saat ada acara maka dia terlihat sangat berbeda.


"Mozi mau kemana?" Tangan mungil itu membuka pintu dan melihat Iva sudah cantik dengan sebuah gaun mewah dan terkesan sopan.


"Mozi mau keluar sebentar, iyo sama aunty Lisa dan mbak Rara dulu ya," Memberi pengertian sama pangeran kecil nya.


Tidak sulit membujuk Zio hanya saja datang pengganggu.

__ADS_1


"Jangan mau iyo mozi mau pergi sama daddy," Lisa tiba tiba datang sebagai provokator.


Ingin rasanya Iva menyumpa mulut Lisa menggunakan tisu bekas.


"Diam atau kirim balik ke luar Negeri," Ancam Iva sebab bisa saja Zio berubah fikiran mendengar kata daddy.


"Iya ampun, udah pergi sana Zio aman tinggal di rumah," Mana mau Lisa pergi lagi setelah sekian lama baru pulang dan sekarang pergi lagi.


"Nah tu pintar, iyo habis ini istirahat ya mozi ngak lama,"


Iva tidak tau akan menghadiri acara apa dan Zefan hanya memberi alamat menyuruh Iva datang.


Karena penampilan sudah rapi maka Iva pergi bersama supir dan juga mengingat malam hari.


Setengah jam Iva sampai tujuan dan turun dari mobil tidak lupa menyuruh supir pulang sebab dia akan pulang bersama Zefan.


Saat menuju pintu masuk Iva melihat papan nama dan seketika matanya terasa panas.


Apa ini? apa maksudnya ini? ini ngak lucu, begitu kira kira fikir Iva.


Apa maksud semua ini? apa selama ini Zefan hanya berniat mempermainkan dia saja dan kalau iya selamat Zefan berhasil menghancurkan hatinya.


Apa karena dia sudah punya anak maka Zefan anggap rendah dia dan menganggap dia hanya mainan.


"Ini ngak benar kan?" Bertanya pada diri sendiri.


Masih terpaku di tempat sama dan melihat sekitar banyak papan nama yang memberi ucapan selamat pada dia nama itu yang sukses membuat Iva sulit bernafas.


"Kenapa ngak masuk?" Ucap seseorang yang berdiri tepat di samping Iva, Iva hanya menoleh sebentar lalu mengacuhkan lagi.


Bukan Iva tidak mau menjawab hanya saja lidah Iva terlalu kelu buat hanya mengeluarkan satu patah kata.


Ingin rasanya Iva pergi segera dari sana namun hatinya menyuruh masuk dan melihat apa yang ada di dalam.


"Dia ngak lebih dari laki laki brengsek yang suka mempermainkan perempuan, ini yang kamu pilih? lebih baik lepaskan sebelum terlanjur jauh.


Liat sekarang dia memberi kamu kejutan luar biasa seperti ini," Orang itu terus memanasi hati Iva agar goyah dan meninggalkan tempat itu.


Selain melihat kenyataan yang ada dia juga ingin Iva tidak terlalu dalam merasakan sakit.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Bersambung woke,,,,


__ADS_2