My Handsome Daddy

My Handsome Daddy
Malunya itu.


__ADS_3

Paginya sebelum Zefan meminta Iva datang ke kantor buat menemani dia bekerja.


Zefan datang seperti biasa langsung menuju ke ruangan nya yang mana Ana sudah lebih dulu datang.


"Pagi pak," Sapa Ana saat Zefan melintasi meja Ana.


"Pagi," Balas Zefan lalu masuk ke ruangan.


Masuk ruangan sudah di sambut sama tumpukan berkas buat di selesaikan.


"Banyak juga ya," Memulai bekerja dengan memeriksa satu satu persatu lalu di tanda tangani.


Zefan fokus sama berkas yang ada di depannya, hari ini cukup santai hanya memeriksa berkas tidak ada meeting dengan perusahaan lain.


"Bosan juga ya," Ucap Zefan setelah berkutat sama berkas setelah satu jam.


"Apa ya biar ngak bosan, Zizi," Terlintas begitu saja nama Iva dan Zefan mengirim chat sama Iva.


Zizi mas kangen.


Chat singkat itu dengan cepat Iva baca dengan tanda sudah centang dua warna biru.


Itu hanya sebagai alasan Zefan saja supaya Iva datang kesana.


Bentar lagi Iva datang, mau Iva bawakan apa mas?.


Balas Iva dengan cepat, pulang mengantar Zio Iva pulang lagi sebab tidak ada kegiatan penting juga.


Cukup dirimu aja sayang.


Itu lagi merayu atau apa, entah cuma Zefan yang tau.


Moodbooster Zefan adalah Iva maka jika ada Iva mood serta semangat dia bisa bagus lagi.


Iva tidak membalas lagi hanya di baca saja.


Di rumah besar itu langsung bersiap buat ke kantor Zefan.


Setelah rapi Iva berjalan keluar menuju mobil yang sudah terparkir depan pintu.


Sampai gerbang.


"Pak Iva pergi dulu ya," Bilang Iva pada satpam depan.


"Iya non hati hati. Tunggu non tadi ada orang mencari non Lisa tapi ngak bapak izinkan," Lapor satpam pada iva.


"Makasih ya pak, udah ngak apa selama mereka ngak mengganggu," Iva keluar gerbang itu.


Soal laporan satpam tadi Iva juga sudah melihat dari cctv di laptopnya namun Iva juga tau siapa mereka.

__ADS_1


Iva berfikir biar lah mereka segera bertemu dan menyelesaikan masalah yang sudah lama ini.


Bagi Iva tidak baik masalah itu terlalu larut.


Iva juga kasian sama Lisa yang sudah tak di anggap sama keluarga dia sejak beberapa tahun silam.


Setidaknya kalau mereka baikan dan bersama kembali Lisa ada yang lindungi selain dirinya dan memulai hidup baru.


Masalah kedua perempuan itu hampir sama yaitu kendala sang mama pria mereka hanya saja masalah Lisa sedikit rumit dan ada rahasia.


"Semoga dia bisa membuat kamu bahagia Lisa. Iva harap dia masih sama seperti cerita kamu," Iva hanya ingin yang terbaik buat Lisa.


Sebagai sahabat Iva ingin sahabatnya juga ikut mendapatkan kebahagiaan sendiri setelah sekian lama.


"Kamu juga Lisa kenapa ngak mencari dia juga padahal dia selalu mencari kamu, seperti permainan petak umpet tau satu mencari dan satu sembunyi," Geram sama tingkah Lisa yang seolah menerima garis takdir buat dia.


Ingin dia kembali tapi tidak mau berusaha mencari hanya menunggu, kalau kelamaan dia juga lelah dan menyerah.


Sampai kantor Zefan, Iva memarkirkan mobil lalu berjalan meja resepsionis.


"Pagi mbak, pak Zefan nya ada?" Tanya Iva dengan nada ramah.


"Ada mbak dan mbak sudah di tunggu," Balas dia tak kalah ramah.


Bekerja di perusahaan itu memang harus ramah pada siapa saja tanpa kecuali.


"Makasih ya mbak," Iva berjalan menuju lift.


Resepsionis itu juga sudah tau kalau Iva punya hubungan sama bos nya.


Dan berita pertunangan Zefan dan Iva hampir semua orang kantor sudah tau dan mereka semua senang kalau yang menjadi tunangan Zefan bukan Vani melainkan Iva yang sering datang kesana.


Kalau Vani yang jadi tunangan Zefan akan seperti apa hari hari mereka bekerja disana mempunyai tunangan bos yang suka seenaknya.


"Pagi mbak Ana," Sapa Iva sebelum masuk.


"Pagi mbak Iva, silahkan masuk mbak sudah di tunggu pak Zefan," Siapa yang tidak suka sosok Iva yang ramah dan tidak suka membedakan orang lain.


"Makasih mbak Ana," Iva masuk ruangan itu tanpa mengetuk pintu dulu.


Zefan juga tidak masalah bukan tidak sopan tapi itu juga Zefan yang memberi izin.


Baru dua langkah masuk kesana sebuah tangan kekar sudah melingkar di perut Iva.


Zefan sudah tau kalau Iva tiba makanya menunggu dekat pintu hingga Iva masuk bisa langsung di dekap.


"Eh mas, bikin Iva kaget aja," Kaget Iva untung tidak sampai teriak.


"mas kangen tau," Menelusukkan wajahnya pada leher Iva.

__ADS_1


"Masih pagi mas jangan manja.


Tuh liat kerjaan mas masih banyak," Menunjuk meja Zefan yang masih menumpuk berkas.


"Mas butuh energi Zi," Hah sejak kapan butuh energi seperti ini.


"Tadi katanya kangen sekarang butuh energi, yang benar apa mas?" Zefan menuntun Iva menuju meja kerjanya lalu dia duduk di kursi dan menarik Iva hingga duduk di pangkuan nya.


"Mas Iva duduk di sofa aja ya," Walau sudah pernah beberapa kali posisi seperti ini tetap Iva merasa tidak nyaman.


"Mas mau seperti ini," Posisi mereka saling berhadapan dengan dada Iva tepat di depan Zefan.


Posisi yang cukup membuat Iva risih tapi tidak bisa beranjak.


Iva hanya diam tidak mau banyak bergerak sebab nanti bisa saja tanda bahaya nyala kan bisa gawat.


Zefan cukup kuat bisa mengontrol diri dengan posisi seperti ini, jika dia lelaki brengsek mungkin sudah sering memanfaatkan situasi.


Tapi dia tidak mau merusak perempuan tersayang nya.


Tanpa aba aba bibir Zefan langsung menubruk bibir Iva dan bermain disana dengan sangat lembut hingga Iva tanpa sadar membalas ciuman itu.


Cukup lama mereka berciuman hingga bunyi notif hp Zefan menghentikan kegiatan mereka berdua.


"Siapa mas?" Tanya Iva dengan masih posisi seperti tadi.


"Bang Endra," Melihat kan siapa yang chat.


Mereka membaca berdua hingga tanpa sadar wajah iva bersemu merah setelah membaca isi pesan itu.


"Mas Iva malu," Bangkit dari duduk dan menuju sofa.


"Kenapa malu?" Itu pertanyaan bodoh macam apa, jelas malu lah kepergok ciuman sama calon abang ipar sendiri di kantor lagi.


"Ih mas ngak ngerti, nanti dia mikir yang tidak tidak lagi tentang Iva," Sungguh Iva merasa malu sekali.


Mau di tarok di mana wajah dia nanti bertemu abang Zefan.


Kenapa dia bisa ceroboh.


"Ngak apa, dia mungkin juga pernah seperti tadi sama kekasih nya atau bahkan bisa lebih," Sesantai itu jawaban Zefan tidak ada malu sama sekali.


Memang ya lelaki itu sifat cueknya sudah mendarah daging dari dulu hingga kejadian tadi bersikap biasa.


"Tau ah mas nyebelin," Kesal Iva membuang wajah ke arah samping tidak mau melihat Zefan lagi.


"Nyebelin atau ngangenin," Fiks ini lelaki yang pantas di tabok pake sapu eh jangan pake sapu juga pake bibir gitu, itu mah maunya Zefan di tabok pake bibir.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Bersambung👌👌


__ADS_2