
Kerisauan hati Vani tidak dapat terbendung lagi.
Vani tidak tau apa yang harus dia lakukan.
Bagaimana harus menghadapi dia jika datang tiba tiba.
Vani harus apa sekarang? tapi tangan dia sudah terlaniur mengabari dia mengenai keadaan Vino.
Dia, dia dan hanya dia dalam ingatan Vani, hanya menunggu waktu saja kapan dia datang.
"Aku harus apa sekarang? aku harus terima segala resiko tapi kalau untuk berpisah sama Vino aku ngak sanggup,"
Racau Vani tidak jelas.
Setelah dokter keluar ruangan menjelaskan keadaan Vino yang hanya terkena sesak nafas akibat terlalu lama di bekap kepalanya.
"Maafin mom Vin, maaf,"
Lirih Vani merasa sangat bersalah.
Kerena obsesi dia yang terlalu besar pada Zefan hingga harus mengorbankan anak yang tidak tau apa apa.
Sekarang Vani lagi duduk menggenggam tangan Vino kecil yang masih betah memejamkan mata.
"Bangun Vin,! jangan buat mom terus merasa bersalah.
Cepat bangun jangan sampai daddy membawa kamu pergi dari mommy.
Apa kamu mau berpisah sama mommy hm?"
Vani terus mengajak Vino bicara meski tak ada Jawaban.
"Mom,"
Cukup lama Vino tertidur hingga waktu pertama bangun malah dirinya yang di panggil padahal Vani jarang memperhatikan Vino tapi saat sadar dirinya yang di panggil.
Vani merasa tertampar sama panggilan itu.
Rasa bersalah terus menyeruak dalam hatinya.
"Iya sayang ini mommy,"
Memeluk Vino saat memanggil dirinya.
Rasa bahagia Vani rasakan saat ini.
Vani melupakan tentang Zefan yang perlu bagi Vani hanya Vino bukan yang lain.
"Ino ngak mau pisah sama mommy lagi,"
Segitu kejam kah Vani selama ini.
Apa dia mommy yang jahat sampai mengabaikan anak yang di lahirkan sendiri.
"Ngak sayang, mommy ngak akan ninggalin Vino lagi.
Mulai sekarang kita akan selalu bersama, Vino mau kan?"
Sudah Vani putuskan buat membesarkan anaknya mulai sekarang.
Buat apa punya segalanya kalau ada yang di korbankan.
"Mau mom mau, Ino mau tinggal sama mom,"
Jawab cepat Vino mendengar Vani mengajak dia tinggal bersama.
"Tapi janji dulu sama mom harus sehat dulu, abis itu kita liburan mau?"
Ini pertama kali melihat Vino tersenyum bahagia.
Jika bahagia sesederhana ini Vani dapat kan buat apa dia menghalalkan berbagai cara buat bahagia.
Jika bahagia kita rasakan semudah ini maka buat apa bersusah payah.
"Baik mom, Ino akan cepat sembuh,"
Senang Vino, sudah lama dia ingin bersama mommy nya tapi baru sekarang dia terima.
"Sekarang makan dulu ya, biar cepat sembuh,"
Menyuapi Vino makan dengan telaten selesai makan menyiapkan obat Vino setelah itu menidurkan Vino agar istirahat.
__ADS_1
Dengan cepat Vino terlelap setelah minum obat.
Tidak lama seseorang membuka pintu ruangan rawat Vino dengan pelan.
Vani menoleh ke arah pintu melihat siapa yang datang.
Badan Vani menegang melihat siapa yang berdiri di pintu.
Apa yang Vani fikirkan kini orang itu sudah berada di sana.
Tidak butuh waktu lama buat dia sampai di sana.
"Renzi,"
Lirih Vani melihat badan kekar itu melangkah pelan ke arah Vino berbaring.
Orang yang bernama Renzi itu cuek seolah tidak melihat ada Vani dalam ruangan itu.
"Anak daddy cepat sembuh ya, biar bisa ikut daddy lagi,"
Membelai pelan kepala Vino.
"Kenapa harus anak daddy yang menanggung atas apa yang tidak Vino tau,"
Bicara seolah menyindir Vani.
Apa aku seburuk itu.
Di dalam ruangan itu ada tiga orang hanya saja satu orang lagi tidak di anggap keberadaannya.
"Ren,"
Panggil Vani setelah lama di diami Renzi.
"Ino cepat sembuh ya, disini seperti nya ada penunggu ruangan ini,"
Tidak menjawab panggilan Vani malah mengajak Vino bicara.
"Ren maafin aku,"
Memegang tangan Renzi sebab tidak di gubris panggilan nya.
"Tuh kan No ada penunggu ruangan ini,"
"Ren maafin aku, aku menyesal,"
Suara Vani terdengar berat menahan tangis.
"Aku tau, aku salah Ren.
Maafin aku Ren, jangan hukum aku seperti ini,"
Vani luruh di kaki Renzi memegang kaki Renzi dengan air mata sudah jatuh terjun bebas.
"Beri aku kesempatan buat menebus semuanya Ren.
Aku tau salah Ren, aku ingin memperbaiki semuanya,"
Pinta Vani mendongak kepala ke atas.
Memandang dengan tatapan penuh penyesalan serta air mata ketulusan sebab dia mengakui kesalahan selama ini.
Renzi hanya memandang datar tanpa mau menjawab hanya melihat saja.
"Saya sudah punya mommy pengganti buat Vino, jadi kamu jangan kwatir akan di susahkan Vino saat saya titipkan jika saya keluar Negeri,"
Tegas Renzi yang hanya itu ingin dia sampai kan.
"Ngak, ngak kamu ngak boleh melakukan itu.
Aku mommy nya sampai kapan pun ngak mau di gantikan oleh siapa pun,"
"Aku mohon jangan hukum aku sesakit ini.
Jangan pisahkan aku sama anak ku Ren,"
Pinta Vani sangat memohon.
Akan apa jadi hidupnya harus berpisah dari anaknya.
Vani sudah menyesali semuanya, apa harus dia bayar dengan berpisah dari anaknya yang sejak lahir dia abaikan.
__ADS_1
"Itu sudah jadi keputusan saya, kamu jangan pernah menghalangi bukannya ini yang kamu ingin kan selama ini.
Jauh dari anak yang tidak pernah kamu harapkan kehadirannya,"
Menyentakkan kaki hingga pegangan Vani terlepas.
Berjalan ke sofa meninggalkan Vani yang masih terduduk di lantai.
"Aku mohon Ren, izinkan aku menebus semuanya.
Aku akan berusaha membalas perasaan kamu dan dan aku,"
Terbata bata mengucapkan kalimat itu walau tidak sampai.
"Aku apa?"
Dari sekian banyak yang di ucapkan Vani hanya kelanjutan kata Vani yang di harapkan.
Masih mengharapkan Vani membalas perasaan dia dan mereka bisa bersama.
"Aku, aku sebenarnya sudah mulai sayang sama kamu.
Hanya, hanya aja aku terlalu takut buat mengakui itu sebab aku udah terlalu banyan mengecewakan my Ren,"
Jujur Vani pada Renzi dengan suara pelan.
Malu sudah pasti Vani rasakan, masih mengharapkan orang yang selama ini dia tolak.
Tapi dia tidak mau menyesal buat yang kedua kali.
"Apa saya tidak dengar apa yang kamu bilang,"
Sengaja menggoda Vani padahal dengan jelas Renzi dengar kalau Vani membalas perasaan dia.
Dasar Renzi suka jail.
"Udah ah aku benci kamu,"
Berdiri dari duduk di lantai lalu berdiri masuk ke dalam toilet.
Merapikan penampilan yang terbilang cukup kusut itu.
Mana Vani yang selalu tampil sempurna.
Keluar dari toilet sudah ada tangan kekar yang menyambut Vani dengan melingkar di perut mungil itu.
"Kalau udah bicara itu, jangan pernah berfikir buat bisa lepas dari aku lagi,"
Suara berat itu terdengar jelas di telinga Vani.
Vani merinding mendengarnya, tapi ada rasa bahagia Vani rasakan.
Inikah yang namanya bahagia, sederhana sekali, fikir Vani.
"Udah sana lepasin, aku berubah fikiran,"
Menyingkirkan tangan itu namun malah makin kuat melingkar.
"Bener nih di lepas?"
Melonggarkan pelukan itu meski belum lepas.
"Ya,"
Jeda Vani lalu melanjutkan.
"Ya jangan,"
Dasar perempuan bicara jujur saja sulit sekali lebih sulit dari ujian nasional.
"I love you,"
Bicara tepat di telinga Vani.
Belum sempat Vani menjawab sudah di potong Renzi.
"Iya aku tau kamu juga cinta aku,"
Percaya diri sekali anda tuan.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Tbc.