
"Daddy tante tadi siapa?," Zio masih ingin tau lagi siapa sebenarnya Vani itu.
Tadi Zefan sudah menjawab pertanyaan Zio bahwa Vani teman Zefan namun kenapa Zio bertanya lagi.
"Teman daddy Zio, kenapa Zio ingin tau?," Zefan fokus menyetir sambil sesekali melihat ke samping di mana Zio duduk.
"Ngak apa daddy, Zio hanya ngak mau nanti daddy pergi seperti daddy Zio juga," Lirih Zio menunduk.
Bagaimana Zefan mau meninggalkan Zio yang sangat menggemaskan ini dan juga away bertemu saja Zefan sama sekali tidak tertarik sama Vani atau hanya sekedar sreek saja tidak.
"Zio tenang saja, daddy ngak akan ninggalin Zio, daddy janji sama zio," Jika di suruh memilih di antara dua itu sudah pasti Zefan memilih Zio tanpa fikir panjang.
Selain Zio yang menggemaskan juga Zio lebih baik dari Vani yang seperti cicak bertemu dinding tidak lepas dari Zefan bawaannya nempel terus membuat Zefan risih.
"Iya daddy," Zio tersenyum lagi.
Zio hanya merasa sudah dekat sama Zefan dan juga bisa merasakan kasih sayang seorang Ayah yang selama ini zio inginkan.
Zio juga tidak pernah bertanya lebih mengenai dimana daddynya? di usia dini ini Zio cepat mengerti apa saja yang Ziva bilang.
"Zio mau beli makanan buat di kantor daddy nanti?," Sebentar lagi mereka akan sampai.
"No daddy Zio sangat kenyang," Tolak Zio, selain masih kenyang di rumah Ziva juga mengajarkan untuk tidak membeli makanan selagi masih kenyang karena akan tidak akan termakan dan mubazir.
"Nanti kalau Zio mau makan bilang sama daddy ok," Mobil Zefan sampai depan kantor.
Menggendong Zio keluar mobil, gerakan Zefan itu menjadi pusat perhatian karyawan kantor.
"Pak tolong di parkirkan ya," Pinta Zefan pada satpam yang lagi jaga.
"Siap pak," Menjalankan perintah Zefan memakirkan mobil Zefan di parkir khusus petinggi perusahaan.
"Liat pak Zefan bawa siapa itu?,"
"Anaknya gemesin banget,"
"Gantengnya,"
"Apa itu anak pak Zefan,"
__ADS_1
"Pak Zefan kapan nikah? kok udah punya anak saja mana ganteng lagi mirip sama pak zefan,"
Banyak lagi bisik bisik para karyawan Zefan yang melihat Zefan membawa anak kecil ke kantor karena ini pertama kali.
"Selamat siang pak," Sapa mereka yang setiap kali Zefan lewati.
"Zefan," Balas Zefan yang memang jarang menjawab banyak tapi itu sudah cukup bagi mereka dari pada di jawab dengan senyuman saja atau menganggukkan kepala.
Menjawab sapaan tanpa suara kadang orang suka menyalah artikan ada yang bilang sombong, angkuh, irit bicara atau tidak level bicara sama yang lebih rendah statusnya.
"Daddy gaji di kantor daddy dikit ya?," Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Zio.
"Kenapa Zio tanya seperti itu?," Zefan heran mana ada gaji di kantor dia kecil, bahkan gaji di sana bisa di bilang di atas standar dari gaji kantor lain.
"Ngak ada daddy, hanya saja tadi Zio lihat baju tante depan meja sama seperti baju tante di caffe, apa baju tante itu belum di cuci yang daddy terus pinjam baju adiknya," Zio bicara seperti tanpa dosa gitu mengomentari baju karyawan Zefan.
Baju yang di maksud Zio adalah baju yang kekecilan, ketat, sempit dan jangan lupa bagian dada yang seperti isinya ingin melompat karena tidak kuat karena sesak berada di dalam sana.
"Nanti daddy bilangin sama tante depan ya, sekarang Zio duduk di sini sambil main," Menyerahkan iPad pada Zio buat jadi mainan supaya tidak bosan menemani Zefan bekerja.
"No daddy kata mozi belum boleh makai ini, Zio pinjam pena sama buku aja daddy," Tolak Zio yang tidak mau menggunakan iPad itu.
Selain akan ketergantungan juga bisa menyebabkan mata akan cepat rusak.
"Ini Zio, sekarang daddy mau kerja dulu ya.
Kalau bosan bilang sama daddy biar daddy ajak keliling kantor," Kini dua laki laki tampan itu sibuk sama kegiatan masing masing.
Ruangan itu kini sepi karena mereka tidak saling bicara, Zefan yang asik berkutik sama laptop dan Zio entah apa yang di tulis pada kertas itu.
Tok...
Tok...
Tok....
"Masuk," Perintah Zefan dari dalam.
"Peemisi pak, ini ada berkas yang harus bapak periksa dan tanda tangani," Seorang perempuan cantik dan berpenampilan sama seperti tante di depan tadi.
__ADS_1
Tadi pagi Zefan tidak datang ke kantor atas perintah sang mama buat memastikan jika Zefan akan bertemu anak temannya siang hari.
Makanya sekarang baru bisa di kerjakan pekerjaan tadi pagi.
"Tarok di sana saja," Zefan melihat sekilas lalu melanjutkan pekerjaan.
Perempuan itu berjalan mendekat ke meja Zefan lalu menundukan badan sengaja menggoda Zefan dengan memperlihatkan buah dadanya di depan Zefan tanpa menyadari kalau ada anak kecil di dalam sana.
Zefan cuek saja karena tingkah sekretarisnya itu masih di batas wajar, kalau cuma sekedar menggoda Zefan seperti itu sudah sering dia lakukan hanya saja Zefan sama sekali tidak tertarik walau di kasih gratis sekali pun.
"Ini pak," Mengeluarkan suara seperti desahan supaya Zefan terpancing itu pun kalau iya terpancing kalau tidak maka bisa di ulangi di lain waktu karena anda gagal silahkan coba lagi, seperti acara game saja ha ha.
Ingin rasanya Zefan marah dan menyuruh sekretaris itu keluar tapi ingin lihat sampai sejauh mana dia bertindak.
"Daddy ada ular ya? kok seperti ada suara ular?," Zio yang fokus menulis terganggu mendengar suara lucknat yang di keluarkan sekretaris itu.
"Ngak ada ular Zio, mungkin Zio salah dengar kali atau suara cicak ke jepit kali Zio, " Lah si bapak ngikutin anaknya mengejek sekretaris itu.
"Kalau gitu saya permisi dulu pak," Berjalan cepat keluar ruangan itu dengan menahan emosi.
"Mana ada daddy seperti itu suara cicak," Bantah Zio merasa tafdi itu suara ular.
Melenceng jauh prediksi keduanya dan berhasil membuat sekretaris itu di permalukan sama anak kecil.
"Dasar bocah sialan gara gara dia jadi gagal, padahal tadi pak Zefan hampir tergoda," Gerutunya saat sudah berada di luar ruangan Zefan.
Waktu terus berjalan tidak terasa sudah sore dan Ziva sudah meminta alamat kantor Zefan buat menjemput Zio pulang.
"Zio sekarang kita turun yuk, mozi sudah jemput di bawah," Membereskan meja yang sedikit berantakan.
Zio menurut tidak lupa membuang kertas yang jadi mainan selama menemani Zefan bekerja.
"Siap daddy," Zio berjalan duluan keluar ruangan Zefan dengan berjalan pelan.
"Dasar bocah sialan, tunggu saja urusan kita belum selesai," Pandangan tidak suka dia lontarkan saat melihat Zio keluar ruangan Zefan.
\=\=\=\=\=
Tbc.
__ADS_1