
Vani sampai rumah sakit dengan keadaan anaknya belum sadarkan diri.
Dokter disana segera menangani agar dapat pertolongan pertama supaya cepat tergolong.
Vani, jangan di tanya lagi perasaan sudah bercampur aduk antara sedih, takut juga kwatir.
Sedih akan keadaan anak yang belum tau apa yang terjadi.
Bagaimana kalau ada penyakit yang slama ini tidak dia ketahui.
Takut, jika nanti Ayah dari anaknya tau keadaan Vino maka Vani tidak tau apa yang akan dia terima nanti.
Vani juga sudah sering di peringati oleh ayah Vino hanya saja Vani anggap angin lalu.
Vani terduduk di kursi depan ruang Vino, sampai sekarang belum ada tanda tanda dokter keluar hingga Vani tidak tau keadaan Vino sekarang.
"Maafin mommy Vino," Lirih Vani nanar melihat kearah pintu yang masih tertutup rapat itu.
Raut wajah sedih Vani tidak dapat ditutupi lagi, hingga dia mengabaikan tatapan aneh setiap orang yang melintasi dia.
Baginya hanya Vino bukan yang lain.
"Ini salah mommy yang terlalu berambisi pada sesuatu hingga melupakan bahwa mommy udah memiliki segalanya.
Kalau seperti ini buat apa mommy miliki segalanya kalau kamu gak berdaya seperti ini," Kini air mata itu tidak bisa di bandung lagi.
Air mata itu jatuh bebas membasahi pipi mulus itu dengan deras.
Jika orang yang melihat pasti merasa kasihan tapi jika tau kejahatan apa yang baru dia perbuat maka orang akan ikut kesal juga.
Ingatan Vani terbayang akan pembicaraan dia sama ayah Vino.
Waktu itu.
"Van kapan kamu akan berhenti melakukan hal yang sebenarnya bukan milik kamu?" Tegur dia saat Vani lagi siap siap menjalankan rencana yang sudah di susun sama mamanya.
"Kalau kamu datang ke sini hanya buat ceramah maka kamu salah tempat," Hardik Vani yang sudah mulai jengah seolah tidak ada apa kata selain itu.
"Yang kamu lakukan nggak bener Vani, kamu fokus sama dunia kamu sendiri dan melupakan anak kita," Dia sebenarnya lelaki baik hanya obsesi cintanya pada Vani tidak bisa di cerna akal sehat.
Cintanya pada Vani melebihi cintanya pada diri sendiri hingga melakukan apa saja buat mendapatkan hati Vani serta mengikuti apa yang Vani inginkan.
Gila memang tapi dia menikmati kegilaan itu.
Di bilang tidak waras maka dia tidak peduli selama itu tentang Vani.
Ada yang bilang masih banyak perempuan di luar sana yang lebih dari Vani tapi hatinya hanya mau Vani.
"Apa kamu bilang anak kita, bukannya kamu yang memaksa hingga dia hadir ke dunia ini.
__ADS_1
Aku benci kamu, benci kamu," Memukul lengan orang yang di ajak bicara tapi tak bergeming atas pukulan Vani, hanya menikmati saja seolah itu hanya usapan saja.
"Aku melakukan ini karna aku cinta kamu Van, kapan kamu akan sadar akan hal itu.
Buka hati mu buat aku Van, sekali aja," Pinta dia lirih menggenggam tangan Vani yang memukul tubuh kekar itu.
"Aku ngak cinta sama kamu dan sampai kapan pun akan sama maka cinta kamu selama ini hanya sia sia," Vani ingin pergi tidak betah lama lama berada di sana.
Udaranya sudah terasa sesak sulit buat bernafas.
Vani tidak ingin di paksa pada hal yang tidak dia suka.
"Tunggu," Cegah dia menghampiri Vani yang saket langsung berhenti mendengar suara itu.
"Kalau kamu ngak bisa membalas cinta ku maka izinkan aku memeluk mu untuk terakhir kali dan anggap selama ini aku ngak pernah mencintai kamu.
Dan juga aku ngak akan menganggu kamu selain tidak ada sangkutan sama Vino.
Jika kita bertemu di lain tempat anggap kita ngak kenal dan jaga diri mu baik baik.
Aku hanya akan menitipkan Vino kalau aku ada tugas luar Negeri.
Semoga kamu bahagia sama pilihan mu dan dia juga membalas cinta mu,"
setelah mengucapkan kata kata itu, dia berjalan duluan meninggalkan Vani yang masih berdiri mematung di tempat belum beranjak.
Dia bilang akan menjauhi Vani mulai sekarang tapi bukannya munafik Vani sudah mulai terbiasa sama yang dia lakukan selama ini tapi saat dia bilang akan berhenti ada perasaan tidak rela Vani rasakan.
"Dia dia akan pergi," Hanya itu mampu Vani ucapkan.
Berjalan cepat menuju pintu buat menyusul tapi naas yang di kejar tidak ada lagi bahkan mobil yang di tumpangi sudah tidak terlihat lagi.
Vani luruh terduduk di lantai dengan perasaan marah.
Vani sudah mulai terbiasa sama perlakuan yang dia dapat tapi setelah orang itu pergi Vani tidak rela.
"Dia beneran pergi," Segera masuk ke dalam baut mengambil tas dan kunci mobil.
Melajukan mobil itu kencang buat mengejar dia menuju kantor, sebab ini masih jam kantor pasti dia berada di sana.
Tapi sayang sampai disana Vani menanyakan pada resepsionis yang mengatakan kalau dia akan perjalanan bisnis selama dua minggu dan sekarang di perkirakan sudah ada di pesawat.
Ada perasaan sedih di hati Vani tapi dia belum bisa melepaskan obsesinya buat mendapatkan Zefan.
"Aku benci kamu,"
Sejak saat itu Vani tidak pernah bertemu dia lagi, dan kalau akan menitipkan Vino maka hanya lewat orang kepercayaan nya saja.
Bahkan dia bisa menyewa jasa babysitter tapi dia tidak mau hanya saja dia tidak percaya pada orang lain kalau menyangkut Vino.
__ADS_1
Maka setiap dia pergi jauh maka dia menitipkan Vino pada Vani.
Back rumah sakit.
"Vin jangan buat mommy sedih.
Maafin mommy yang selama ini ngak perhatian sama kamu," Sudah satu jam lebih tapi dokter belum keluar juga.
Menambah kekalutan hati Vani, dan Vani ingat belum mengabari ayah Vino.
Dan Vani hanya mengabari lewat pesan saja dan bisa di pastikan akan di buka kalau itu Vani yang mengirim meski hanya pesan kosong.
Konyol memang tapi bagi dia tak masalah.
Vani sudah siap menerima segala konsekwensi yang di terima.
Apa itu Vani siap, karna ini memang salah dia yang tidak bisa menjaga amanah dengan baik.
Drt,,,
Drt,,,
Hp Vani bergetar menandakan ada panggilan masuk tapi Vani takut buat mengangkat.
Hingga panggilan kedua baru Vani angkat dengan tangan gemetar.
"Ha hallo," Lirih Vani gemetar.
"Menjaga dia sebentar aja kamu ngak bisa.
Ibu macam apa kamu.
Ini terakhir kali kamu bertemu Vino,"
Yang menelpon Vani adalah ayah Vino di seberang sana.
"Aku mohon jangan pisahkan aku sama Vino,"
Mohon Vani dengan suara lirih dengan isakan pelan.
"Bukannya kamu ngak pernah menginginkan Vino, maka biarkan aku membawa Vino pergi,"
Mematikan sambungan itu sebelum Vani menjawab.
Vani sebenarnya bukan orang jahat hanya saja sebuah tuntutan kehidupan yang mengakibatkan dia harus melakukan itu.
\=\=\=\=
Tbc
__ADS_1