
Seseorang lagi berusaha melakukan hal yang sama tapi ada sedikit perbedaan yang dia buat, dia ingin orang yang bermain main itu merasakan hal yang setimpal atau setidaknya dia tau apa itu di sakiti jangan hanya tau menyakiti saja.
Apa yang ada di dunia bukannya harus seimbang agar tidak berat sebelah.
Ibarat kata kalau ingin menyubit orang maka lebih dulu cubit diri kita, kalau sakit kita rasakan maka jangan pernah sesekali melakukan itu pada orang lain.
Kita tidak bisa asal menyakiti orang atau melibatkan yang tidak bersalah atau tidak tau apa apa kena imbas juga.
Ibarat kata pepatah orang yang makan nangka kita yang kena getah.
Dan juga kata pepatah minang tempat asli author yang mengatakan dapek katan ndak bakarambie ( dapat ketan tidak ada kelapa) rasanya hambar tidak ada rasa.
Kayak kata lagu bunda inul daratista seperti sayur tanpa garam.
"Bagaimana apa sudah dapat yang saya perintahkan?" Dia menelpon orang di seberang sana buat memastikan tugas yang di kasih berjalan lancar serta tidak ada kendala.
"Sudah tuan, dan besok sudah bisa kita jalankan rencana kita dan juga nona besok baru bergerak," Lapor orang itu mengatakan kalau tugas yang di berikan sudah di lakukan tanpa cela.
Memang setiap tugas yang di berikan tidak pernah sekali pun mengecewakan atau berkata sebentar lagi selesai.
Setiap ada telpon masuk maka tugas itu sudah selesai dan juga kecepatan melakukan tugas serta gaji yang di dapat sangat lah seimbang.
"Bagus, besok sebelum nona datang kalian harus sudah ada di sana dan pastikan kalau sudah di tukar," Mematikan sambungan sesuka hati.
Iya lah sesuka hatinya, kalau sesuka orang seberang sana lalu siapa yang akan menggaji dia kalau bukan yang di sini.
"Kamu tunggu saja besok, jangan kamu kira bisa berhasil gitu saja.
Bukan karena saya selalu di tolak saya tidak peduli sama dia,"
"Ah kalau bahas masalah di tolak kok saya merasa miris ya.
Terasa nyesek tapi bukan asma.
Apa yang kurang coba tampan sudah pasti, kaya jangan di tanya lagi, baik sudah pasti, pengertian kurang ngerti apa lagi coba, setia kalau tidak setia mana mungkin sampai sekarang masih sendiri.
Ah sudah lah memang kita tidak jodoh kali ya, semoga kamu bahagia sama pilihan mu,"
Duduk di kursi ruang kerja yang terletak dekat jendela sambil melihat keindahan malam serta menikmati kerlap kerlip bintang yang bertaburan menghiasi langit malam yang cukup bagus cuaca malam ini.
"Huh merepotkan sekali dia, apa kurang kerjaan apa? kalau tidak ada kerjaan tuh club lagi butuh wanita penghibur sebab semakin ramai pengunjung.
Dia pantas nya hanya jadi wanita penghibur cocoknya, lihat saja pakai baju kurang bahan atau dia pakai baju adiknya ya.
Cih saya saja sebagai lelaki malas melihat cara berpakaian dia yang terkesan murahan.
Pantas kamu tidak memilih dia dan memilih perempuan yang tepat dan sayang yang kamu pilih perempuan yang saya suka juga, sialan kamu,"
__ADS_1
Berdecak kesal kalau sudah memikirkan hal itu, bagaimana bisa dia kalah sama orang baru yang datang dalam hidup perempuan yang dia suka.
Merasa kalah telak, dia yang sudah lama kenal dan menyayangi tapi orang lain yang mendapatkan namun setidaknya dia mendapat orang baik tidak salah pilih.
\=\=
Di sebuah taman dua orang yang baru bersama kembali tapi di beri ujian yang cukup berat bagi mereka.
Baru sebentar merasakan kebahagiaan tapi malah kembali di uji dengan kehilangan anak yang selama ini dia rindukan.
Kenapa kebahagiaan yang sudah lama sirna di antara mereka kembali lagi tapi lagi lagi harus lebih bersabar lagi.
"Bang Zio gimana keadaannya?" Tanya Lisa yang entah sudah keberapa kali di tanyakan pada Endra.
"Berdoa aja semoga anak kita baik baik aja ya.
Udah jangan nangis terus ntar tambah jelek lo," Itu menghibur atau meledek sih.
Tapi lebih berat ke meledek seperti nya ucapan Endra dan tidak ada unsur menghibur sama sekali.
"Abang jangan becanda napa sih, aku lagi sedih tau," Memukul pelan lengan Endra yang lagi merangkul bahu Lisa.
"Siapa yang becanda sih, mau di kasih kaca biar tau seberapa jelek nya sekarang," Sudah tidak perlu di kasih tau juga sudah tau.
"Lalu kalau jelek abang akan berubah fikiran dan pergi lagi gitu?.
Kesal tidak memberi solusi sama sekali hanya ledekan atau mengatakan hal yang bikin tambah kesal saja.
Untung sayang.
Kalau tidak masih sayang mana mungkin mau menerima lagi bahkan setelah sekian lama.
Memang cinta sejati akan tau kemana akan pulang.
"Sepertinya begitu," Hingga mendapatkan tabokan yang lebih keras lagi dari tadi.
Perempuan kalau lagi marah punya tenaga lebih buat memukul hingga sisa tabokan itu mengesan.
"Ya udah pergi aja sana, jangan balik lagi," Huh bagaimana bisa dia berkata tanpa berfikir dulu.
Apa dia tidak tau akan ada hati yang tersakiti karena ucapan dia.
"Becanda sayang," Memeluk Lisa erat.
Mana mau dia pergi tanpa bersama Lisa dan Zio.
Kebahagiaan Endra sekarang adalah dua penyemangat hidupnya dan merupakan tujuan hidup dia juga.
__ADS_1
Tanpa dua orang itu maka hidup dia tiada guna lagi.
Sudah cukup sekali melakukan kesalahan dan tidak ada dua kali atau tiga kali atau kali kali yang lain.
Cukup satu kali dan rasanya kelelep tapi tak tenggelam.
"Abang jahat tau ngak, jelas anak kita ngak tau dimana tapi abang malah santai gini aja.
Ngak sayang apa sama Zio atau abang udah punya anak lain di luar sana," Menatap tajam Endra yang masih memeluknya itu.
Kalau sampai itu terjadi maka hari ini adalah hari terakhir mereka bertemu.
Lagian kalau itu benar maka Lisa tidak mau merusak kebahagiaan orang lain dan mengorbankan kebahgiaan dia sendiri.
Hidup tidak boleh terlalu egois dan harus memikirkan orang lain juga tapi asal jangan berlebihan juga.
"Maaf seperti kamu harus kecewa kali ini," Tutur Endra dengan suara lemah dan sedikit sedih.
Apa maksud dia harus kecewa? apa benar dia sudah menikah dan punya anak sama perempuan lain.
Lalu tujuan dia mengajak balikan lagi apa? mau mempermainkan atau menyakiti lagi buat kedia kali gitu.
Tidak, itu tidak boleh terjadi tapi kalau benar bagaimana.
Lisa terdiam tidak tau mau menjawab apa.
Pelukan Lisa di badan kekar Endra perlahan mengendur dengan raut wajah sedih.
"Maksud kamu apa," Dengan suara terbata Lisa bertanya.
Apa benar itu atau hanya mimpi.
Tapi Lisa berharap itu hanya mimpi sebab kalau nyata terlalu sakit buat dia.
"Iya aku udah punya anak," Jeda Endra lalu melihat Lisa yang hampir mau menangis dan melanjutkan.
"Tapi sama kamu lagi nanti," Menghujami wajah Lisa dengan ciuman tanpa satu pun terlewat.
Mengerjai Lisa sungguh menyenangkan.
Wajah yang hampir menangis serta aura kecewa yang terlihat jelas.
Lisa bernafas lega, dia kira beneran tapi hanya di kerjai saja.
Sungguh tidak lucu fikir Lisa
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Tbc.