My Handsome Daddy

My Handsome Daddy
Malam Yang Haru.


__ADS_3

Sampai malam pesta makin meriah dengan kehadiran para kalangan muda tidak seperti tadi siang yang di khusus kan buat para orang tua.


Malam ini semua kenalan kedua pengantin, bang Jidan, bang Endra bahkan semua teman mereka dulu tidak luput menerima undangan.


Dan berita pernikahan mereka jadi viral karena bersatunya kedua perusahaan besar, sudah bisa di pastikan kalau akan memajukan perusahaan masing masing.


Tidak lupa juga Vani dan Renzi juga ikut datang bersama putra kecil mereka Vino.


Vani sudah menikah satu minggu yang lalu sama Renzi.


"Selamat ya Fan, Va maaf atas kesalahan aku selama ini semoga samawa ya dan cepat nyusul seperti kami udah punya anak kalau bisa cewek ya," Kekeh Vani yang ingat saat dia berusaha merebut Zefan namun nyata jodoh nya bukan Zefan.


Sekeras apa dia berusaha tetap tidak bersama jika memang tidak jodoh.


"Ya setidaknya kalau kita nggak, siapa tau mereka yang jodoh tapi tenang aku juga nggak maksa," Lanjut Vani dengan candaan.


Jodoh kan tidak ada yang tau, siapa tau anak mereka yang jodoh tapi jangan ikuti langkah salah Vani yang suka memaksa kehendak.


"Makasih ya, biar aja anak anak kita yang nentuin nanti.


Udah ah ngapain bahas jodoh mereka kita aja baru nikah masih lama juga," Balas Iva yang sambil berjabat tangan.


Kedua keluarga kecil itu tampak bahagia serta tidak ada dendam yang tersirat di antara mereka.


Dan juga tidak ada guna menyimpan dendam hanya akan merusak hati serta fikiran.


Jika dendam kita simpan buat apa ada kata maaf, memperbaiki diri, memberi kesempatan berubah atau sama sama koreksi diri.


Hidup akan indah jika kita saling memaafkan serta saling menyadari kesalahan.


Kini keluarga kecil itu turun dan duduk mengisi salah satu kursi kosong dengan Vani mengambil makanan buat kedua pengeran nya.


Sedangkan di sudut ruangan yang sama dengan acara itu.


"Yang," Panggil bang Endra pada Lisa yang asik sama makanan di ambil tadi.


"Hhhhmmmm," Gumam Lisa membalas tidak jelas sebab mulut nya penuh sama makanan.


"Nanti kalau kita nikah pesta nya mau kayak mana?" Itu pertanyaan serius kan? tidak becanda? atau cuma mau menyenangkan sementara.


Lisa menelan cepat makanan yang baru di kunyah dengan bantuan air, bahkan ia sempat memukul pelan telinga berharap tidak salah dengar.


"Nikah?" Beo Lisa ingin memastikan lagi kalau tidak salah dengar.


"Iya nikah," Ulang bang Endra.


"Nggak tau bang, yang ngajak nikah juga nggak ada jadi belum kefikiran sampai sana," Balas Lisa santai dia malas bahas hal yang belum pasti.


Nanti ibarat mimpi hanya indah di hayalan namun kenyataan pahit, yang ada nyesek.


"Nanti kamu juga tau yang, sabar ya," Mengelus kepala Lisa dengan sayang.


Dia juga mau segera menghalalkan Lisa, tidak mau kalah sama Zefan.


"Aku mah selalu sabar bang, bahkan saking sabarnya mau nikah sama orang lain," Itu bukan sabar namanya tapi menguji kesabaran.


Dada bang Endra bergejolak mendengar ucapan Lisa, ingat sampai kapan pun dia tidak rela dan tidak akan pernah melepas Lisa apa pun alasan atau rintangan.


Bukannya sudah cukup mereka selama ini berpisah masa mau beneran berpisah dan bersama orang lain.


Lakukan lah jika tidak mau di hari bahagia mereka bang Endra kirim om di acara pesta mereka.


Kejam sekali bang.


"Sebelum itu terjadi maka orang itu badan dan nyawa nya sudah berpisah, abang janji itu," Tegas bang Endra, tidak semudah itu merebut apa yang sudah jadi milik nya.


Ingat, sekali dia memiliki maka jangan pernah berfikir buat merebut.


Dia bukan penjahat tapi bisa berubah jahat jika milik dia di usik.


"Ih abang jangan gitu ah aku takut," Memeluk erat lengan bang Endra, tidak bisa membayangkan jika itu terjadi.


"Abang kan tau seluruh hati, jiwa, perasaan serta cinta ku hanya buat abang," Mual tidak sih mendengar nya, Lisa yang mengucapkan saja merasa geli.


Apa tidak berlebihan bicara seperti itu terkesan lebay tidak.


"Abang udah tau, kamu mana berani berpaling dari abang.


Nggak ada ya yang lebih tampan dari abang," Narsis, mana ada seperti itu.


"Ada kok bang," Sanggah Lisa yang tidak mau mendukung kenarsisan bang Endra takut nglunjak.


"Siapa?, bilang sama abang biar abang kurangi ke tampanan dia," Berani nya orang itu mengalahi dia.

__ADS_1


"Tapi abang ngak bisa melawan dia, gimana dong," Kekeh Lisa yang suka melihat wajah kebakaran jenggot meski dia tidak punya jenggot.


"Seberani apa dia hah, siapa orang nya?" Apa dia belum tau siapa dirinya rupanya.


"Tuh orang nya," Tunjuk Lisa pada seseorang yang lagi asik makan di temani pasangan muda yang habis main drama tadi siang.


Bang Endra melihat siapa maksud Lisa dan seketika dia langsung terdiam.


"Kenapa bang? tadi katanya berani," Lucu juga wajah bang Endra, ingin Lisa tertawa tapi tidak mau takut kena hukum.


Ya walau hukuman tidak berat juga sakit tapi dia tidak mau di manfaatkan saat di hukum.


"Kalau itu beneran abang nggak berani, bukannya takut tapi dia banyak pendukung abang belum seberani itu," Lirih bang Endra.


Tau siapa yang di maksud Lisa, dia adalah Zio anak kecil yang banyak menyayangi dia akhir akhir ini bahkan kedua orang tua bang Endra makin lengket sama Zio.


Zio banyak pendukung dari orang sekitar jika sedikit saja salah bicara dia bisa membalikkan keadaan dengan wajah memelas minta di kasihani serta menuduh jika dia yang di nistakan pada kenyataan dia yang menistakan seseorang, kurang hebat apa coba.


Dia melakukan itu tau semua orang tidak berani marah sama dia meski orang tau dia yang salah dan Zio malah memanfaatkan keadaan mencari keuntungan.


"Masa sama anak sendiri takut," Sindir Lisa dengan terus makan.


"Bukan takut tapi pendukung dia serem," Lebih baik menghindari buat masalah sama Zio ketimbang kena masalah.


Obrolan itu terus berlanjut dengan sesekali saling ledek atau menyindir.


Mari kita telusuri tempat lain dari pesta ini.


Terus berjalan hingga bertemu keluarga yang sedikit bermasalah tentang kejadian pagi.


"Papa tau kan kakau Vio udah lama suka sama Zefan," Viola masih ingin merebut Zefan dari Iva walau mareka sudah menikah.


Entah apa isi kepala Vio yang jelas ambisi Vio merebut Zefan begitu besar.


"Jangan sampai papa tau Vio, dan kamu makin kena masalah," Nasehat mama Vio tegas, kenapa Vio sulit di beri tau.


Masih banyak lelaki lain di luar sana yang single serta kaya kenapa harus milik orang dan itu sepupu dia sendiri.


Papa Vio orang yang tegas serta keras, siapa saja yang berani menentang ucapan dia maka dia akan melakukan tindakan tegas walau anak sendiri.


Bukan tidak sayang anak hanya saja dia tidak mau anak nya salah langkah dan merusak masa depan dia juga orang lain.


"Kalau mama nggak bilang mama papa juga nggak tau," Siapa bilang seperti itu.


"Kamu nggak tau papa Vio, bahkan kamu bicara seperti ini aja papa udah tau.


Yang jelas mama udah memperingati jadi kalau papa marah jangan bawa bawa mama," Mama Vio angkat tangan jika menyangkut suaminya.


Sayang dia sama keluarga tapi jika di tanya ketegasan maka hampir sama dengan papa Syakil.


Meniru sitat papa Syakil atau memang sudah pembawaan seperti itu.


"Kalau bukan mama yang bela Vio, siapa lagi ma? Vio kan selama ini cuma mama yang Vio andalkan," Vio selalu bisa aman dari kemarahan papa nya sebab di bela sang mama.


"Mama membela jika di rasa kamu tidak salah sepenuhnya tapi ini beda Vio.


Kamu mau merusak hubungan sepupu kamu sama suaminya.


Kalau iya Zefan melirik kamu dan mau sama kamu kalau tidak? kita akan di jauhi keluarga besar dan ingat Vio om Syakil bisa saja mengasingkan jauh kita semua," Bagaimana lagi mau menjelaskan pada Vio, apa yang dia lakukan salah dan harus di akhiri.


Keluarga mereka bangkit karena dapat bantuan dana maupun yang lain dari Syakil.


Kekuasaan Syakil tidak bisa di anggap remeh.


Mentang keluarga jangan di kira dia tidak tega bertindak tegas.


"Om Syakil kan udah ngasih semua perusahaan sama Iva jadi dia nggak bisa bertindak sesuka dia lagi," Kekuasaan seseorang tidak bisa hanya di ukur dari perusahaan atau jabatan tinggi saja.


Kekuasaan itu murni dari dalam diri, kekuasaan tidak bisa di bandingkan gitu aja sama perusahaan sebab orang punya perusahaan besar pun tidak mau meyalah gunakan kekuasaan.


"Kamu jangan lupa Vio, darah mereka sama dan Iva bisa lebih kejam dari papa nya jika kamu lupa.


Ingat diamnya seseorang jangan pernah di usik jika tidak mau kena masalah," Mama Vio pergi dari sana.


Tidak mau ikut campur sama urusan yang satu ini.


Vio terdiam mencerna ucapan terakhir mamanya.


Benar juga, seperti kejadian semalam Vio kira Iva tidak tau.


Justru dia salah besar malah dia yang kena imbas dan juga malu tadi pagi.


Bermaksud merusak gaun Iva dan pernikahan kacau.

__ADS_1


Acara berjalan lancar tanpa gangguan, mengancam Iva juga tidak mempan justru di tantang balik.


"Kamu renungkan apa kata mama sebelum papa benar benar mengirim kamu dan jangan pernah berharap bisa balik," Papa Vio mendekat lalu menepuk bahu Vio pelan.


Entah dari mana datang papa Vio, benar kata mamanya papa nya punya mata dan telinga dimana mana.


Padahal sejak tadi dia sudah yakin hanya berdua sama sang mama.


Namun dari mana datang papa nya dan tau isi pembicaraan mereka.


"Kamu cantik sayang, jangan rusak hidup mu dengan menyandang gelar sebagai pelakor.


Jika kamu menyukai lelaki lajang dan dia nggak menyukai mu maka papa sendiri yang akan memaksa dia tapi keadaan sekarang beda.


Papa sayang kamu dan papa juga mau kamu bahagia tapi bukan dengan cara merusak kebahagiaan orang.


Sampai sini papa harap kamu mengerti," Memeluk sebentar Vio lalu pergi dari sana.


Biarkan Vio memikirkan sendiri apa keputusan yang mau dia ambil.


Dia sudah dewasa maka setiap tindakan yang di lakukan maka dia sudah tau juga apa akibatnya.


Benar jika berhasil pun Vio merebut maka belum tentu Vio bahagia juga.


Cinta sepihak akan terasa sangat menyakitkan apa lagi kita hanya mencintai tanpa di cintai.


Raga dia sama kita tapi hatinya tertuju pada orang lain.


Sekarang kita intip sedikit pak dosen sama mahasiswi nya yang habis melakukan drama tadi siang.


Kini pasangan muda itu lagi duduk sedikit menjauh dari yang lain.


Dan juga mereka sudah berganti seragam tapi masih couple.


Kenapa Satyia memilih hadir juga pada peata malam ini.


Bukan segan sama Iva ya, kalau itu kan tadi siang sudah datang tapi kenapa sekarang masih hadir juga.


Ya karena pujaan hati dan karena bukan waktu seperti ini mereka akan jarang menghabiskan waktu bersama dengan alasan tidak mau ada yang tau hubungan mereka.


Seperti takut ketahuan selingkuh.


"Kakak mau makan nggak? biar Rara ambilkan," Tawar Rara sebab di depan mereka tidak ada apa apa hanya minuman saja.


Kalau banyak minum yang ada hanya kembung.


"Boleh deh tapi jangan yang manis ya," Mengiyakan tawaran Rara.


"Tunggu sebentar ya kak," Rara beranjak dari duduk di samping Satyia.


Satyia hanya melihat setiap langkah Rara yang menghampiri satu persatu stan makanan dengan nampan yang di pegang.


Satyia tersenyum melihat Rara, dia sudah tidak sabar menunggu Rara selesai kuliah dan mempersunting gadis pujaan nya secepat mungkin takut di salip orang.


Kenapa Satyia juga betah sama Rara hari ini salah satu alasan adalah bisa melihat wajah cantik Rara yang di make up itu terlihat sangat cantik dan Satyia tidak mau melewati momen ini.


"Nih kak," Rara datang meletakkan makanan yang di bawa hingga membuyarkan lamunan indah Satyia.


"Makasih sayang," Tersenyum manis yang hanya Satyia tunjukan pada orang spesial saja salah satu nya Rara.


"Sama sama kak," Mereka mulai makan sesekali Satyia menyuapi Rara mumpung ada kesempatan romantis sama pujaan.


Rara dengan senang hati menerima suapan itu.


Kapan lagi coba bisa seperti ini tanpa ada rasa takut atau gangguan sebab di sekitar mereka tidak ada mahasiswa kampus.


Makanan yang di ambil Rara sudah berpindah tempat dalam waktu sekejap.


"Tadi kakak udah ngasih tau mama kalau sayang udah mau nikah dalam waktu dekat dan mama sangat senang mendengar," Saat Satyia pulang buat bersih bersih tadi.


Langsung memberi tau kabar gembira itu dan mama Satyia sangat senang sama seperti Satyia.


Rara diam, semoga keputusan dia yang terbaik dan tidak dia sesali kemudian hari.


Ini keputusan dia tanpa paksaan dan semoga langgeng sampai akhir.


"Rara ikut apa kata kakak aja dan semoga kita berjodoh sampai akhir ya kak," Ini baru gadis nya.


Tidak perlu takut mengambil keputusan jika sudah ada orang yang bahagia akan keputusan dia.


Satyia senang Rara mau menjalin hubungan serius sama dia dan buat Rara ingin berkarir saat mereka sudah menikah tidak akan Satyia larang hanya saja tidak boleh bekerja sama orang maka Satyia akan membukakan usaha buat Rara agar tidak terikat sama tuntutan kerja.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2