My Handsome Daddy

My Handsome Daddy
Pagi Ngeselin.


__ADS_3

Iva memasuki kamar yang dia tempati sama Zefan sejak mulai malam tadi.


Tapi yang Iva pandang penampilan Zefan masih sama seperti turun tadi memakai baju tidur dan kini duduk di ranjang sambil memainkan tab buat memantau perkembangan perusahaan selama dia pergi honeymoon.


Iva cuek aja melewati Zefan yang masih sibuk, tujuannya hanya ingin menyegarkan badan yang terasa lengket habis bikin sarapan.


"Mas tungguin kok malah lewat gitu aja," Tegur Zefan saat Iva sudah mau masuk kamar mandi.


"Mas kan lagi sibuk, makanya Iva mandi duluan ya udah lengket mas," Mengibaskan baju yang udah lembab karena keringat.


"Nggak mau nambah keringat dulu?" Menaik turun kan alis menggoda Iva.


Iva yang tau maksud ucapan Zefan hanya menggeleng tidak habis fikir sama fikiran suaminya yang bertravelling pagi pagi pada kegiatan iya iya.


Ini masih pagi dan tolong hargai para gadis bisa saja berfikir jelek masa mandi lama amat itu mandi atau nunggu matahari terbenam, bisa saja mereka mikir gitu.


"Jangan aneh aneh mas ini masih pagi," Masuk ke kamar mandi yang di susul Zefan.


Menaruh gitu aja tab yang di pegang, urusan satu ini tidak boleh di lewatkan.


Selagi ada kesempatan maka jangan pernah di lewatkan.


"Bukannya yang aneh aneh itu lebih enak," Seru Zefan ikut buka baju dan ikut mandi di bawah shower sama Iva.


"Mas!" Iva sebenarnya tidak mau mandi bersama kalau pagi hari akan lama selesai apa lagi ada adegan tambahan.


Mau nolak dosa, mau di tolak tapi badan juga menginginkan, di tolak udah terlanjur menikmati ntar dikira pura pura nolak lagi.


Ya sudah ikuti saja.


"Sebentar aja," Biarlah pagi pagi cari pahala.


Dapat plus lagi, siapa yang tidak mau.


Zefan melancarkan aksi nya yang bisa di bilang tidak terlalu lama hanya sekitar setengah jam selesai.


Selesai sama urusan iya iya nya keduanya mandi dan berpakaian rapi mau ke rumah orang tua mereka yang sudah bisa di pasti kan akan dapat omelan.


Sudah rapi keduanya keluar kamar menuju meja makan buat sarapan.


"Pagi," Sapa Iva yang duduk di kursi sebelah kanan Zefan sedangkan kursi biasa Iva di tempati suaminya.


"Pagi, ngapain di kamar kok lama? dan ini lagi kok masih basah," Lisa melirik rambut Iva yang masih setengah basah.


Bodoh pertanyaan apa itu? tidak tau apa pengantin baru.


"Ya kali kalau mandi nggak basah, gini nih kalau kelamaan di gantung berfikir terlalu jauh," Balas Iva.


Lalu mengambil makanan buat Zefan baru di ikuti Lisa dan Rara.

__ADS_1


Mereka sarapan dengan tenang hingga selesai.


"Kalian abis ini mau kemana?" Sarapan telah selesai kini hanya makan cemilan penutup sambil menunggu makanan turun.


"Nggak ada," Lesu Lisa tidak ada ajakan keluar.


"Kalau mbak nanti ada kelas jam sepuluh," Giliran Rara yang jawab.


"Di jemput mbak?" Rara kadang di jemput kadang juga tidak.


"Nggak kak, kak Satyia ada ngajar pagi.


Paling pulang di antar," Rara masih menggunakan pakaian santai sedangkan Lisa masih memakai baju tidur, berarti dia tidak mandi hanya cuci muka saja.


"Kakak mau kemana udah rapi?" Lanjut Rara.


"Ke rumah tuan dan nyonya besar," Saut Iva yang sudah punya panggilan baru buat orang tua dan mertuanya.


"Tubes dan nyobes nggak tuh," Sela Rara yang merasa lucu sama nama panggilan itu.


"Kenapa nggak sekalian tubles," Timpal Lisa mendengar kata tubes.


"Ban kendaraan kalau tubles," Kekeh Rara sedikit di bumbui tawa.


"Fan kenapa diam aja? kecapekan ya tadi di kamar," Zefan hanya diam jadi pendengar saat ketiga gadis itu bicara.


Eh tapi cuma satu yang gadis asli kalau dia ya tau lah apa maksudnya.


Ketar ketir nggak tuh dengar nya, abis masih abu abu lagi status.


"Bisa tidak jangan di perjelas," Kesal Lisa, masa baru tadi saat sarapan Iva yang ledek sekarang suaminya juga ikutan.


"Kayak nggak pernah aja Sa," Cetus Iva tidak merasa berdosa.


Bahwa yang dia katakan bukan aib hanya sebuah candaan yang sebenarnya tidak perlu di ucapkan.


"Itu masa lalu Va dan cuma sekali gue aja udah lupa gimana rasanya," Sabar Ra obrolan orang kurang kerjaan ya gitu suka ngelantur.


"Kan orang nya masih hidup bisa di replay dong," Ya kali kawin lagi di nikahin kagak, ayam ah.


"Nggak nggak ada ya gitu, enak aja," Tolak Lisa tidak terima, usul macam apa itu.


"Emang enak," Pukul jangan itu kepala.


"Bisa nggak bahas yang lain?" Sela Rara yang sudah tidak sanggup mendengar obrolan mesum pagi pagi.


"Nggak bisa, makanya minta nikahin sama pak dosennya," Bener juga kata Iva, tapi kan.


"Sebelum di minta udah ngajak kak, nggak kayak dia yang nggak peka," Sindir Rara pada Lisa yang langsung memasang wajah masam.

__ADS_1


Kena lagi, gerutu hati Lisa.


Sama aja mereka berdua, seperti SMS dia yang artinya senang melihat orang susah.


"Sindir aja terus sampai puas, udah ah mau mandi," Harus lebih cepat pergi dari sana dari pada tekanan batin.


"Ngapain mandi kak? yang ngajak jalan juga nggak ada," Rara sedikit teriak sama Lisa.


"Usir jangan nih Va mbak Rara nya?" Balas Lisa yang sudah mulai naik tangga.


"Usir aja kalau itu dia mau pergi," Iva tersenyum.


Ini yang di rindukan debat hal yang tidak penting dan saling sindir.


"Sial," Lirih Lisa masuk kamar lalu mengunci pintu dari dalam.


Di meja makan.


"Kakak pergi duku ya, baik baik di rumah," Pamit Iva pada Rara di balas anggukan.


Iva dan Zefan berjalan keluar menuju mobil yang sudah parkir depan pintu.


Mobil melaju membelah jalanan yang tidak terlalu ramai.


Tujuan mereka pertama kali ke rumah orang tua Zefan atau mertua Iva.


Tidak lama mereka sampai.


"Liat siapa yang datang," Bang Endra yang lagi santai di teras melihat kedatangan pasangan baru itu.


"Ngapain nanya bang, kita kan udah kenal," Ucap Zefan sambil membukakan pintu buat Iva.


"Yang ngajak kenalan siapa? masuk yuk," Ajak bang Endra yang duluan jalan.


Keduanya mengekor di belakang dengan tangan saling bertautan.


"Kayak mau nyebrang aja gandengan," Panas ya liat yang gandengan halal.


Bang Endra sudah duduk duluan di sofa.


"Dari pada nggak di gandeng ntar di gandeng orang lain kan nyesal eh nyesek," Ingat perdebatan mereka di ruang makan tadi.


"Mana berani dia," Tau maksud ucapan Zefan.


"Siapa bilang nggak brani? perempuan butuh kepastian bukan janji doang," Hingga debat itu harus terpaksa di hentikan mendengar suara seseorang dari tangga.


"Mana pesanan kami?"


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2