
Selesai makan malam Rara mengajak Satyia buat jalan jalan keliling kampung sekalian memperlihatkan pemandangan kampung pada malam hari.
Tadi sebelum makan malam, Rara membangunkan Satyia buat bersih bersih sebelum kumpul di meja makan.
Cukup lama Rara mengetuk pintu kamar yang Satyia tempati namun tidak ada jawaban hingga Rara memberanikan diri membuka pintu buat memastikan keadaan Satyia yang tidak terdengar suara dari dalam.
Rara masuk saat pintu tidak di kunci.
"Pules banget tidur mu kak," Mendekat pada ranjang yang Satyia tiduri.
"Kak bangun udah malam," Menggoyang tangan Satyia agar mau bangun.
Namun Satyia tetap diam tidak ada pergerakan.
Pules banget sih kak, jadi pengen ikut baring juga di samping kakak tapi belum halal gimana dong.
Masa ikut baring terus di liat bapak sama ibu malu dong, anak gadis ganjen tidur di samping pacarnya yang lagi bobok kan nggak lucu kak.
Kekeh Rara membayangkan lagi tiduran lalu di grebek orang tuanya kemudian di kuliahi dari malam ke malam lagi dengan judul dan isi ceramah yang sama sampai di replay entah ke berapa kali.
"Kak bangun," Dengan berani Rara mengusap pipi Satyia pelan penuh kelembutan dan dalam hati Rara berkata tidak apa sesekali dan tidak ada yang lihat juga.
Itu namanya ambil kesempatan dalam kelegaan Rara.
Tapi pacar sendiri ini tidak yang melarang juga.
Tidak lama Satyia membuka mata saat merasa pipi nya ada yang memegang.
"Yang," Panggil Satyia dengan suara serak khas bangun tidur.
Berasa udah nikah saja pas bangun tidur langsung melihat bidadari hati.
"Udah malam kak, mandi abis itu kita makan malam," Seru Rara menggeser duduk agar berjarak sama Satyia.
"Kamu udah berani megang megang yang?" Menatap Rara penuh selidik.
"Siapa yang megang, tadi Rara cuma mau bangunin kakak aja," Kilah Rara.
"Kalau bangunin bisa goyangin tangan kenapa harus megang pipi, mau cari kesempatan?" Mendesak Rara agar mau jujur.
Megang juga nggak apa kekasih sendiri kecuali orang lain baru marah.
Tapi mengerjai sedikit tidak apa, kapan lagi coba sejak mereka menjalin hubungan sifat Satyia pada Rara berangsur berubah tapi catat hanya pada Rara sendiri.
"Tadi udah goyangin tangan kakak tapi nggak bangun juga.
Lagian siapa yang mau cari kesempatan coba kalau kesempatan itu sendiri udah ada di depan mata," Benar bukan, kesempatan itu ada saat Satyia tidur maka Rara bisa mengusap pipi Satyia jadi jangan salah kan Rara yang memegang tapi salah kan Satyia yang sulit di bangunkan.
"Sekarang udah pintar ngejawab ya, pacar siapa sih ini?" Mengusap pelan kepala Rara, ya hanya sebentar sebab gemas sama jawaban Rara.
"Pacar dosen pak Satyia, yang ngajak di kenalin sama orang tua supaya terhindar dari perjodohan padahal cuma alasan, pacar pak dosen yang maksa pengen cepat nikah padahal pacar sendiri belum selesai kuliah pas di kasih alasan bilang nya tidak serius sok ngancem emang sanggup pisah.
Pacar pak dosen yang suka cari kesempatan buat berdua di kampus walau hanya sebentar dengan alasan mengantar tugas sebenarnya bukan tugas pacarnya, hm apa lagi ya?" Mengetuk dagu menggunakan telunjuk seperti berfikir mau bilang apa lagi.
__ADS_1
Sekarang Satyia mulai berfikir kenapa kekasih sejak sampai rumah sifat nya mulai menyebalkan apa ini sifat asli dia yang selama ini tidak dia tau.
Mulai mengenalkan dia kepala orang tuanya cuma status sebagai dosen dan sekarang membahas hal yang pernah dia bilang dulu.
Ok kalau kebohongan dia tentang perjodohan palsu itu tapi kalau soal nikah cepat semua itu masih bisa di bicara kan lagi asal jawaban nya yang bisa Satyia terima misal enam bulan atau satu tahun setelah dia lulus.
Tapi saat dia bahas lagi ingin rasanya Satyia membungkam bibir yang gerak gerak itu menggunakan bibir dia juga tapi sadar belum halal.
"Karena semua benar maka nilai seratus kakak berikan, ayo bilang lagi masih ada nggak? atau mau di tambah tambahi juga boleh," Bukan marah juga sebenarnya tapi ingin merangkul badan mungil yang hanya sebatas dada Satyia itu.
Ya Rara emang lebih pendek dari Satyia jadi sudah dapat di pasti kan kalau mereka sudah halal dan sifat Rara menyebalkan maka ketek Satyia yang menyelesaikan dengan cara menjapit kepala Rara di sana.
"Udah ah kak capek Rara ngomong," menutup mulut menggunakan tangan.
Satyia menghela nafas.
"Badan kakak pegal pegal semua yang," Adu Satyia bukan maksud menyinggung tempat tidur yang keras hanya saja dia tidak nyaman saja.
"Maaf ya kak cuma ini yang kami punya, kakak kan tau kami hanya orang biasa nggak bisa beli tempat tidur yang bagus," Lirih Rara menundukkan kepala.
"Setelah kakak tau keadaan keluarga Rara seperti ini apa kakak masih mau melanjutkan hubungan kita? semua Rara serahkan keputusan sama kakak,
Ya udah kakak mandi dulu nanti kita bahas ini lagi," Rara berlalu dari kamar itu dengan perasaan gundah.
Mendengar Satyia bicara seperti itu ada tamparan keras buat dia seolah secara tidak langsung bilang kalau mereka berbeda dan perbedaan itu nyata terlihat.
Dan di dalam kamar Satyia merasa bersalah mengucapkan kata kata itu.
"Bodoh banget sih Sat, gimana bisa asal bicara gitu sih tuh liat dia sedih kan.
Kalau mama tau calon menantunya sedih pasti ngamuk sama kamu punya mulut kenapa bisa jadi lemes gini," Memukul pelan mulut yang asal bicara.
Lalu Satyia mengambil baju dan perlengkapan mandi supaya segar baru nanti jelas kan lagi sama calon menantu kesayangan mamanya.
Berasa jadi anak tiri kalau sudah Rara di antara dia dan mama.
"Yang kamar mandi mana?" Menghampiri Rara yang lagi duduk.
"Sini kak, buruan mandi ya ntar tambah dingin," Mengantar Satyia hingga depan pintu kamar mandi lalu setelah itu pergi.
Canggung itu yang mereka berdua rasakan.
Seperti orang baru kenal.
Rasa bersalah itu makin Satyia rasakan saat Rara bicara seadanya pada dirinya.
Hingga saat makan malam Rara hanya bicara sekedar nya saat di meja makan.
Orang tua Rara yang menyadari itu menyuruh Rara mengajak Satyia keliling dekat kampung.
Dan di sini mereka berada jalan jalan malam tapi masih saling bungkam.
"Yang maafin kakak ya, bukan maksud kakak nyindir tadi beneran kakak cuma malu di bahas masa lalu memalukan itu," Membuka suara tapi Rara masih belum ada reapon.
__ADS_1
Rara tidak menjawab dan seperti nya roh sama badannya lagi tidak nyatu dan terbukti saat Satyia menghadang dari depan Rara menabrak.
"Kakak ngapain jalan depan Rara, di samping kan bisa?" Tersadar saat wajahnya menabrak dada bidang Satyia.
"Kamu kakak ajak bicara malah nggak jawab," Jawab Satyia.
"Rara lagi menikmati pemandangan malam yang sudah lama nggak pernah Rara rasakan," Kilah Rara padahal bukan itu tapi memikirkan keputusan apa yang bakal Satyia ambil dan juga menunggu itu.
"Kamu nggak pintar bohong yang," Menarik Rara duduk di sebuah beton mirip tempat duduk tanpa sandaran.
Kalau di kampung memang identik sama tempat duduk dari semen tanpa senderan itu biasa nya bisa kita temukan dia tepi jalan yang ada parit atau depan rumah orang pas jalan masuk ke halaman.
Emang ada tulisan lagi bohong nya apa?"
Mengusap kening sendiri.
"Nggak ada tulisan lagi bohong di sini," Mengusap kening Rara juga.
"Mikirin apa? jujur sama kakak," Memegang tangan Rara.
"Kan udah Rara jawab kak," Jawab singkat Rara.
"Kalau bohong yang kreatif yang, kakak tau kamu gala ukan mau kakak tinggalin?" Goda Satyia.
"Siapa yang galau juga sih kak, percaya diri sekali," Membuang muka ke sebelah.
"Kakak minta maaf sama ucapan kakak tadi bukan maksud kakak menyinggung kamu yang hanya saja kakak malu kalau bahas yang lalu lagi.
Dan kalau soal kamu berfikir kakak akan berubah fikiran tentang keadaan kamu dan mengakhiri hubungan kita maka semua itu nggak akan pernah terjadi.
Kalau kata pepatah ya nafas itu menggunakan hidung bukan mulut maka seperti itu juga hubungan kita," Jelas Satyia sedikit panjang.
"Tunggu kak itu pepatah tahun berapa? siapa yang mengeluarkan? dari daerah mana? jangan ngarang deh kak," Cuma pepatah itu yang Rara tangkap jelas.
"Kakak yang buat khusus buat kamu, tapi memang benar nafas menggunakan hidung," Tidak ada yang salah tapi kurang tepat aja.
"Kurang pas kak, nafas menggunakan paru paru ya melalui hidung," Perjelas Rara lagi.
"Kan udah tau kenapa percaya aja?" Tersenyum senang saat Rara membalas ucapan nya.
"Nggak ya kak siapa yang percaya," Jujur Rara yang tidak sepenuhnya percaya sama pepatah konyol Satyia tadi.
"Jadi jangan mikirin yang macam macam soal kakak lagi, kakak bukan orang seperti itu.
Kakak cuma mulai sekarang harus belajar tidur di tempat seperti itu kalau kita sudah nikah dan nginap di rumah mertua jadi kakak sudah biasa," Satyia tidak mau kesalah pahaman mereka berlangsung lama.
"Iya kak, maafin Rara juga udah buruk sangka sama kakak," Jika salah maka minta maaf lah tidak perlu malu.
mengakui kesalahan bukan prilaku jelek yang harus kita tutupi.
\=\=\=\=\=
Bersambung,,,
__ADS_1