
Ziva terdiam mendengar akan pertanyaan yang Zefan ajukan.
Kini dia bingung akan perasaan yang dia rasakan terhadap Zefan, apakah kedekatan mereka selama ini hanya karena Zio, sekedar rasa nyaman biasa atau memang sudah menaruh rasa pada Zefan.
Bingung, ke bingungan yang Ziva rasakan takutnya rasa itu hanya sebatas teman bukan perasaan sebagai lawan jenis dan juga ucapan mama Zefan kemarin masih terngiang di telinga dan ingatan Ziva yang mengatakan kalau Ziva seorang janda beranak satu dan itu tidak pantas buat Zefan yang notabennya seorang ceo di sebuah perusahaan terkenal.
Masih banyak orang yang lebih pantas buat bersanding bersama Zefan termasuk Vani anak teman mamanya.
"Jawab Va, mas akan terima apa pun jawaban kamu walau menyakitkan sekali pun," Desak Zefan yang bingung akan bungkamnya Ziva.
Banyak yang dia fikirkan atau sudah punya pilihan sendiri, entah Zefan tidak tau kalau Ziva tidak angkat bicara.
"Sekarang tatap wajah mas, jangan mengalihkan pandangan mu," Menarik dagu Ziva agar pandangan mereka bertemu.
Tatapan mata menyejukkan yang tidak bisa di pungkiri oleh siapa pun termasuk Zefan.
Tatapan teduh yang selalu Zefan rindukan tiap hari bahkan tiap saat.
"Jawab mas, apa kamu punya perasaan sama mas atau ngak.
Jawab jujur aja mas ngak apa walau sakit," Menatap dalam mata Ziva yang fokus juga menatap balik.
"Iva ngak tau mas," Lirih Ziva yang masih menatap Zefan tanpa bisa mengelak.
__ADS_1
"Apa yang Iva rasakan saat kita bersama?" Kenapa dia sulit sekali bicara? Apa ada keraguan di hati Ziva atau terpengaruh sama kejadian kemarin.
"Iva nyaman bersama mas, jantung Iva ngak bisa diam jika kita dekat seperti saat sekarang, tapi Iva takut akan mama mas yang membenci Iva bahkan saat kita belum bertemu.
Apa Iva salah? kalau Iva menghindar dari mas sebelum semuanya terlanjur jauh," Kini mata teduh itu berubah sendu menandakan ada kesedihan di dalamnya.
Kenapa dia bisa berfikir buat menjauh kalau berjuang akan jauh lebih indah nanti hasilnya.
Semua hubungan tidak ada yang berjalan mulus, bahkan saat semua saling bisa terima termasuk orang tua maka akan ada orang ketiga yang menguji cinta mereka maka intinya berjuang bersama akan menghempaskan siapa saja yang berniat memisahkan mereka.
"Jangan pernah berfikir buat menjauh, ini terakhir kali mas dengar kata kata menjauh.
Iva salah besar kalau menjauh akan membuat semua menjadi mudah,"
Hubungan kita belum terlanjur jauh maka kalau sekarang buat mengakhiri ngak akan merasa sakit mendalam," Jujur Ziva meski hati dia tidak rela dan berdoa dalam hati supaya Zefan menolak usulan Ziva barusan.
Sebagai perempuan kadang kita kebanyakan gengsi di mulut bilang tidak padahal di hati menjerit mau maka tugas sebagai lelaki harus meningkatkan rasa peka sebelum kena amukan yang tidak jelas.
"Stop bicara yang ngak mungkin, sekarang kita berjuang bersama buat mendapatkan restu mama mas.
Jangan jadikan status sekarang sebagai jalan buat menjauh itu ngak ngaruh buat mas,"
"Mas beneran ngak bakal menyesal nanti? dengan memilih Iva yang mas tau sendiri kalau Iva hanya orang biasa berbeda jauh sama mas.
__ADS_1
Atau mas udah siap suatu hari kalau keluarga mas membenci mas karena lebih memilih bersama iva?" Menatap Zefan serius karena jika Zefan menjawab iya maka Ziva tidak akan ragu lagi menerima Zefan dan menempatkan Zefan dalam hatinya serta memiliki tempat spesial dalam hati dan hidup Ziva.
"Mas ngak peduli apa pun itu Va, kalau nanti mas harus melepas jabatan mas demi kamu akan mas lakukan cuma satu ngak akan mas lakukan yaitu melepaskan mu, percayakan semua sama mas jangan pernah ragu jika mas sudah melangkah maka mas ngak akan mundur walau selangkah pun," Menarik Ziva ke dalam pelukan menandakan kalau dia sangat senang sama jawaban Ziva.
"Makasih karena mas udah memilih Iva dan Iva janji akan berjuang bersama mas.
Dan juga kita harus saling terbuka akan hal apa pun, jangan pernah mendengar cerita orang tentang Iva yang berusaha menjelekkan Iva pada mas, jangan mudah percaya misal suatu hari ada orang yang mengirimi mas foto atau hal semacamnya tentang Iva jangan ambil kesimpulan sendiri karena sekali aja mas menyakiti Iva maka kesempatan kedua itu ngak ada mas," Mendongakkan kepala yang masih berada dalam dekapan Zefan.
Kini pilihannya mantap akan mempercayakan hati dan perasaan pada Zefan yang dari awal perasaan itu sudah mulai tumbuh hanya saja Ziva terus menyangkal semua itu dan kini Ziva yakin akan perasaan yang di miliki sekarang.
"Makasih Zizi," Ucap Zefan mengecup kening Ziva lembut.
"Zizi," Beo Ziva menautkan alis mata.
"Panggillan sayang mas sama Iva, kenapa ngak suka ya? Kalau ngak suka mas ganti," Takut panggillan itu membuat Ziva tidak nyaman.
"Iva suka mas," Tersenyum manis dan senyuman ini mampu mengalihkan dunia Zefan terfokus pada Ziva seorang.
Perlahan wajah mereka mendekat mengikis jarak di antara keduanya hingga beberapa saat bibir itu bertemu dan bermain disana saling ******* dan menghisap meresapi rasa manis yang ada.
\=\=\=\=\=
Tbc.
__ADS_1