
Sesuai kesepakatan semalam dan juga Zefan sudah mengabari Iva kalau dia sekeluarga akan datang nanti malam buat membahas kelanjutan hubungan mereka yang pernah melakukan pertunangannan sepihak tanpa di hadari keluarga Iva.
Karna acara datang dadakan maka hanya keluarga dekat dari tinggal Iva saja yang bisa hadir dalam acara ini termasuk di bungsu Kemal yang pulang karna libur kuliah.
"Papa sama daddy jangan tampan tampan ya nanti Iyo kalah Iyo ngak mau," Nih anak mulai lagi rusuhnya.
Dia lupa apa kalau ketampanan dia dapat dari papa dan daddy, maka jangan salah kalau mereka dandan tampan, apa lagi sang daddy yang mau melamar mozinya.
Kalau tidak rapi nanti di kira lamar jadi kang kebun lagi, kan tak cocok.
Masa pasang niat mau lamar malah di terima jadi kang kebun, kan tak lucu.
"Daddy harus tampan dong Zio, kalau tidak nanti mozi ngak mau nerima daddy.
Kalau Zio tampan siapa yang mau nerima coba, kan masih kecil," Ini pujian buat diri sendiri sekaligus sindiran buat Zio.
Hellow buat apa Zio harus dandan tampan tampan kalau tanpa dandan juga tetap tampan, jadi tidak perlu merasa tersaingi.
"Udah ah suka suka daddy aja, kalau Iyo bukan anak mozi pasti Iyo yang nikahin mozi bukan daddy," Ucap Zio tanpa berfikir dulu apa yang sudah dia ucapkan barusan.
"Kelamaan mozi nunggu Zio besar buat nikah, nanti Zio di kira nikah sama nenek sendiri lagi," Ledek Zefan pada Zio yang seketika memasang wajah andalan buat cari perlindungan.
"Papa daddy jahat, hhhuuaa," Pura pura nangis sebab Zio tau dia sudah banyak punya tempat berlindung jadi dari pada dapat terus ledekan mending mengadu biar yang dewasa saja menyelesaikan.
"Anak papa kenapa nangis? ntar tampan nya hilang," Memeluk Zio yang pura pura nangis itu, coba saja bang Endra tau apa yang Zio tampilkan di balik punggung kokoh itu.
"Daddy jahat papa dia bilang Iyo nikah sama nenek," Kenapa jadi beda gitu ngadunya coba.
Belajar dari siapa? dapat membalikkan atau mengurangi cerita hingga menjadikan sang daddy jadi tersangka.
"Fan!" Panggil bang Endra sedikit berteriak memanggil Zefan.
"Apa sih bang? jangan triak kayak di hutan," Menghampiri asal suara karena merasa namanya di panggil.
"Lo jadi daddy udah gila ya, masa anak sendiri lo doain nikah sama nenek nenek," Hardik bang Endra sarkas padahal dia tidak tau apa yang terjadi sebenarnya.
"Lo ngomong apa sih bang, jangan ngada ngada ya, siapa yang bilang gitu?" Merasa tidak pernah bicara sama Zio seperti itu.
"Zio yang bilang gitu, lo doain dia nikah sama nenek nenek," Boleh tidak nampol mulut abang tersayang yang mudah percaya sama anak kecil.
__ADS_1
Bukan tidak percaya sama Zio hanya saja apa yang di tuduhkan itu tidak benar adanya.
"Lo mau aja di begok in sama anak kecil sih bang, lo tau ngak apa yang kita bahas tadi?
Zio bilang kalau Iva bukan mozi nya maka dia mau nikah sama Iva, terus gue jawab kalau nunggu Zio besar maka Zio di kira nikah sama nenek sendiri," Jelas Zefan agar kesalah pahaman ini selesai.
Emang Zefan sejahat itu apa sama anak sendiri.
"Zio lain kali ngak boleh bohong ya sama orang tua.
Sebab walau mozi bukan mommy Zio belum tentu juga mozi mau nikah sama Zio," Tadi mendukung sekarang menjatuhkan dalam selokan udah bauk malu lagi.
Papa tidak pengertian sama sekali, tidak niat sekali ndukung sih.
Zio memanyunkan bibir ke depan, papa tersayang tega sekali sama Zio.
"Daddy sama papa sama aja, kakek papa sama daddy jahat," Berlari ke arah kakek yang baru keluar dari kamar dan seketika langsung di gendong.
"Kakek papa sama daddy jahat," Adu Zio pada kakek yang lagi menggendong serta wajah andalan dia yang selalu membuat siapa saja tertipu.
"Iya sayang, cerita sama kakek dan nenek kenapa daddy sama papa jahat," Sudah bisa bicara lembut sama Zio.
Ternyata kuliah yang papa berikan buat mama bisa masuk dalam hati dan fikiran mama sehingga berubah begitu cepat dalam waktu singkat.
Kayaknya semakin banyak orang yang sayang Zio maka dia punya kesempatan besar buat mengadu domba mereka agar ribut.
Kepintaran yang tidak dapat apresiasi sama sekali.
Tolong itu siapa punya anak bisa jemput tidak kesini dan kurung saja dalam rumah agar tidak meresahkan orang banyak.
Mana ada anak yang berani mengadu domba orang tua sendiri sampai ke kakek nenek juga.
Prestasi yang membanggakan sekali patut dapat perhargaan.
"Wah ngak bener ini, masa cucu kakek yang tampan ini di doakan nikah sama nenek nenek sih.
Nanti kakek kasih pelajaran daddy sama papa ya Zio.
Sekarang jangan sedih lagi," Mengusap punggung Zio pelan menenangkan yang sebenarnya tidak ada sedih sedih nya sama sekali yang ada sedang tertawa dalam hati.
__ADS_1
Mereka bertiga pergi ke tempat daddy dan papa yang doain anaknya tadi.
"Kalian ini apa apaan sih, sama anak sendiri gitu amat," Bentak papa pada mereka berdua yang lagi duduk menunggu.
"Maksud papa apa?" Tanya mereka kompak.
"Kenapa kalian doain Zio nikah sama nenek, masa cucu papa yang tampan nya ngalahin kalian di doain kayak gitu.
Sekarang minta maaf dari pada batal berangkat," Pinta papa sebab dia tidak yoga tega melihat cucu nya bersedih.
"Pah gini ya cerita sebenarnya," Zefan mulai menjelaskan dimana duduk perkara masalah nikah sama nenek nenek tadi hingga berakhir drama tidak jelas yang di buat Zio.
"Oh gitu, sekarang Zio yang minta maaf sama daddy dan papa," Malah ke balik perintah itu sekarang.
Biar anak kecil tapi tidak boleh mengajarkan hal yang tidak baik dan mengajarkan hal hal kecil sejak dini seperti minta maaf.
"Sorry daddy papa Zio sengaja," Ampun deh.
Tolong yang merasa kehilangan anak jemput segera sebelum di ceburin ke dalam bak mandi.
Mana ada orang jujur sengaja mau ngadu orang di depan orang nya lagi.
Nyali besar buat Zio dan kasih tepuk tangan.
"Udah jangan bahas lagi, lebih baik kita berangkat sekarang sebelum kakek bener bener nikahin sama nenek nenek," Lerai kakek yang tidak sanggup melihat drama gratis ini.
Pusing kepala melihat mereka yang akur serta banyak bicara menjadikan rumah terasa ramai.
Aku terlalu egois selama ini, bahagia mereka hanya dengan pilihan mereka sendiri.
Maafin mama.
Batin mama terharu melihat wajah bahagia di antara kedua anaknya.
"Nikah sama nenek ya kek? terus kakek sama siapa? kalau Iyo nikah sama nenek," Tolong antar secepatnya anak ini sebelum meraja lela kepolosan yang tiada dua tiga dan seterusnya.
Zio sekarang ibarat kita nitip ubi tapi sampai sama orang lain udah jadi kolak.
(Ah jadi pengen bikin kolak ubi).
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Tbc.