My Handsome Daddy

My Handsome Daddy
Kepulangan Si Bontot.


__ADS_3

Benar saja selang dua hari berikutnya Seorang lelaki tampan dengan tampilan trendi turun dari pesawat hanya membawa sebuah ransel di punggung tanpa ada koper besar seperti orang yang baru pulang dari luar Negeri.


Dia berjalan dengan cool menuju pintu keluar lalu mencari orang jemputan yang dia minta sebelum berangkat.


"Mana orang yang jemput kok ngak keliatan telinganya," Mengedarkan pandangan segala arah siapa tau cepat bertemu.


Terus berjalan hingga benar benar sampai luar.


Ada sepasang mata yang memperhatikan dia dengan menggunakan masker agar wajahnya tidak keliatan.


"Mana sih yang jemput lama amat, awas aja kalau datang ntar langsung gue pecat," Berdecak kesal plus malas harus menunggu dulu.


Seharusnya orang itu yang menunggu bukan sebaliknya.


Hingga sebuah tangan sudah bertengger did telinganya lalu menarik cukup kuat.


"Woh sialan sialan lo berani sama gue," Teriak dia cukup lantang dan juga menahan rasa sakit.


"Gue kenapa?" Suara itu terdengar jelas lalu dia membalikkan badan dan memastikan.


"Oh my sis kirain siapa," Nyengir dia menahan takut sudah berkata kotor tadi.


My sis panggilan dia pada orang yang sudah berani menarik telinganya dan orang itu adalah Iva.


Dan yang baru datang itu adalah Kemal adik bontot kesayangan keluarga mereka.


"Yuk pulang my sis gue udah kangen mapa (mama papa)," Menggandeng Iva pergi dari sana.


"Sayangnya mereka ngak kengen sama lo gimana dong," Mengikuti langkah itu menuju perkiran dan langsung di kemudikan oleh Kemal sendiri.


Dengan alasan kalau ada laki laki dan perempuan dalam satu mobil maka yang laki wajib mengendarai sebab nanti laki laki calon imam maka mulai lah dari hal kecil.


Bijak banget kalau bicara sih Kem.


"Iya gue tau my sis mana pernah kangen sama gue kecuali kangen nistain aja," Menyebalkan memang tapi tak dapat di pungkiri kalau dia sangat menyayangi perempuan kedua di keluarga mereka.


"Emang iya, buat apa ngangenin lo buang waktu," Cuma di mulut berkata itu namun di hati juga berbeda.


Siapa yang tidak kangen sama saudara sendiri apa lagi jarang bertemu maka rasa kangen itu tidak terelakkan lagi.

__ADS_1


Sampai rumah Kemal langsung berlari masuk ke dalam rumah setelah memberhentikan kuda besi itu melupakan Iva yang masih duduk.


"Mama papa aku kangen," Itu lah mereka akan bicara sopan sama orang tua dan tadi lihat saja saat bicara sama Iva pakai lo gue.


"Anak mama udah tambah tampan ya," Memeluk putra bontot mereka dengan sayang.


Kemal akan selalu pulang ke rumah kalau lagi libur kuliah meski tidak aja acara keluarga.


"Iya dong, anak siapa dulu? anak papa," Bangga papa Syakil menyombongkan diri.


"Papa memang yang paling tampan," Timpal Iva yang baru masuk ke dalam rumah dan ikut duduk bergabung bersama mereka bertiga.


"Zio mana my sis?" Tidak melihat Zio sejak dia masuk rumah tadi.


"Sama orang tua mereka," Jawab Iva dan juga tidak masalah bagaimana pun keluarga kecil itu cepat atau lambat harus bersatu.


"Yah kok di usir my sis, kan aku kangen tau," Mual Iva melihat wajah menjijikkan itu, tidak cocok sama wajah tampan nya.


"Siapa yang ngusir coba, dia pergi sama orang tua sendiri ngapain di larang, kadang otak mu ngak nyampe sana mikirnya," Menoyor pelan kepala yang entah mikir apa.


Mana ada anak sendiri di usir, ngada ngada saja tuh isi kepala.


"Mana tau kan seperti mama yang ngusir aku," Nah aneh lagi, kan udah di bilang mana ada orang tua yang tega ngusir anak sendiri.


"Kalau kamu bukan mama usir ya tapi mama buang, kamunya aja yang ngak tau diri hingga berani balik lagi," Sanggah mama Ila pada Kemal.


Kenapa ucapan itu terasa menyakitkan ya terdengar ada luka tak kasat mata yang di torehkan, sakit tau.


"Mana ada ngusir seperti itu, saat minta di jemput langsung datang.


Bilang aja ngak bisa jauh dari anak mama ini, iya kan pokoknya harus iya ngak boleh tidak," Maksa Kemal yang tidak mau mendengar kata tidak, dasar pemaksa.


"Ngak tau diri, mana boleh seperti itu.


Emang mau apa bahagia di atas kebohongan," Ini yang Iva rindukan kalau lagi ngumpul debat bersama yang sudah jarang terjadi.


Sejak mereka bertiga terpisah pisah maka jarang buat bersama maka setiap kesempatan yang ada maka di manfaatkan.


Ck manfaatkan kesempatan buat melepas rindu bukan buat melepas ocehan yang tertahan selama berpisah, dasar saudara komplek.

__ADS_1


"Pokoknya harus, wajib, kudu, mesti ngak boleh nolak," Nyemplungin ke empang nih anak atu boleh tidak ya kalau tidak dosa.


Geram sama tingkah dia yang tidak mau ngalah sama sekali.


"My sis, my bro apa kabar?" Lanjut Kemal lagi.


"My bro, siapa?" Beo Iva yang tidak mengerti.


"Itu calon suami my sis, kan kalau my sis lawannya my bro ya kan," Ada ada saja perlawanan kata yang di gunakan, tapi iya juga.


"Suka suka kamu lah Mal," Jengah Iva yang melihat tingkah adiknya ini, sejak kuliah jauh kosa kata yang dia gunakan suka aneh sama kayak tingkahnya.


"Jangan panggil Mal, ngak enak di dengar dan takut salah arti nanti panggil Mal Mal eh malah di kira pusat perbelanjaan," Tolak Kemal yang tidak suka di panggil Mal lebih baik panggil Kemal dari pada Mal.


"Iya juga ya nanti di kira orang pusat perbelanjaan yang banyak di kunjungi orang padahal mah enggak, kan jomblo," Ejek Iva yang tau adiknya masih sendiri sampai sekarang.


Tidak tau juga, apa dia yang pemilih atau para gadis yang tidak tertarik sama dia tapi kalau iya harus di periksa tuh mata orang.


Enak saja ketampanan adiknya yang tiada duanya itu eh bukan tiada dua tapi nomor tiga itu tidak ada yang suka, katarak tuh mata orang.


"Yey my sis jangan bawa bawa jabatan suka ngak enak kalau dengar," Ringis Kemal yang selalu merasa tertampar kalau di bahas jomblo.


"Jabatan apa coba, jembatan kali eh bukan jembatan juga tapi cobaan yang harus di terima sebab masih jomblo sejak cebong," Puas Iva meledek wajah tampan di depannya.


"Wah parah aku di katai cebong, berarti mama sama papa dong kodoknya.


My sis durhaka sama orang tua, kwalat nanti," Pintar sekali mencari pembelaan saat merasa dirinya sudah terpojok.


"Ngarang nih anak kata in orang tua sendiri kodok.


Mau kamu di kutuk jadi kodok beneran," Membalikkan keadaan sebelum tatapan horror Iva dapati.


"Udah udah jangan debat terus ngak capek apa? kalau lama ngak bertemu itu melepas rindu bukan melepas cabe masing masing.


Bontotnya mama sekarang istirahat dulu ya kan capek perjalanan jauh dan Iva juga mending bantuin mama masak makan malam," Lerai mama yang mulai bosan sama perdebatan yang tidak ada manfaat sama sekali.


Hingga akhirnya mereka membubarkan diri dengan Kemal masuk kamar sesuai titah kanjeng mami dan Iva membantu memasak makan malam buat mereka bersama serta papa Syakil membaca koran dengan di temani segelas teh oleh mama Ila.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2