
Tidak seperti biasa yang Zefan lakukan, pada hari Minggu ini dia pergi mendatangi rumah Ziva yang sebelumnya belum pernah kesana walau Ziva pernah mengasih alamat rumahnya sama Zefan.
"Ini beneran rumah Ziva, kok aku sedikit tidak percaya ya dia yang bekerja sebagai pelayan restaurant dan OB di kantor bisa punya rumah semewah ini atau jangan jangan dia kerja juga di sini?," Zefan baru sampai di depan pagar rumah itu, masih memperhatikan rumah mewah itu dari luar pagar ingin masuk tapi ada sedikit keraguan di dalam hatinya
"Memangnya siapa sebenarnya Ziva ini? apa masih ada yang belum aku ketahui tentang dia selama kami saling kenal," Zefan membunyikan klakson mobil hingga seorang satpam menghampiri dia.
"Maaf bapak cari siapa ya?," Seperti peraturan di rumah itu, kalau ada yang mau bertamu harus di tanyai dulu sebelum di persilahkan masuk.
"Apa benar ini rumahnya Ziva sama Zio?," Begini lebih baik dari pada berdiri di depan tanpa tujuan antara masuk atau balik.
"Iya benar, ada apa bapak mencari mereka berdua?," Ziva melakukan ini hanya berjaga jaga saja dari perbuatan orang yang tidak bertanggung jawab.
"Sama mau bertemu Zio bisa panggilkan bilang saja daddy Zefan datang," Seperti mau bertemu orang penting saja harus melalui serangkaian pertanyaan dulu.
"Maaf pak, tunggu sebentar ya," Meninggalkan Zefan menuju posnya buat menghubungi orang di dalam kalau lagi ada orang yang mencari Zio.
"Silahkan masuk pak, sudah di tunggu di dalam," Membukakan pintu buat Zefan untuk masuk.
"Besar juga rumah ini hampir sama besar sama rumah papa," Mobil Zefan sampai di depan pintu besar berwarna hijau muda itu.
Disana sudah ada anak kecil yang menunggu Zefan dengan senyum manisnya yang selalu di tujukan buat orang terdekat saja.
Saat mengetahui Zefan datang, Zio langsung berlari keluar menunggu sendiri buat menyambut Zefan.
Ini yang Zio mau, kedatangam Zefan ke tempat tinggal dia yang sudah lama Zio nantikan.
"Daddy," Langsung melompat ke pelukan Zefan saat sudah berdiri di depannya.
"Anak daddy apa kabar?," Menggendong Zio yang sudah merasa rindu sama bocah menggemaskan itu.
Di tambah kemarin dirinya sibuk jadi tidak bisa bertemu makanya sekarang datang langsung buat melepas rindu.
"Zio ajak dong daddynya masuk, masa mau ngobrol di luar saja," Ziva nongol dari dalam rumah dengan memakai daster karena itu kebiasaan Ziva kalau berada di rumah.
__ADS_1
"Ayo daddy kita masuk," mengikuti langkah Ziva masuk ke dalam.
"Silahkan duduk mas, Iva buatkan minum dulu.
Tampan duduk di sofa aja kasihan daddy capek gendong Zio," Zio menurut duduk di sofa.
Ziva pergi ke depur buat menyiapkan minuman dan cemilan untuk Zefan.
"Zio kangen sama daddy tau, kata mozi kemarin daddy sibuk makanya ngak jemput Zio ke Sekolah," Memasang wajah cemberut dan bersandar di sofa.
"Maafin daddy ya, sekarang daddy sudah sama Zio disini masa masih cemberut aja.
Kalau cemberut gini daddy pulang aja," Giliran Zefan yang pura pura merajuk dan bersiap buat berdiri.
"Ih daddy ngak asik, kalau Zio ngambek itu di bujuk jangan di tinggalin," Rajuk Zio.
"Udah sini daddy peluk, mana ada orang ngambek itu bilang bilang," Tambah gemas saja sama tingkah Zio.
"Duh duh pelukan nih ceritanya mozi ngak di ajak," Menaruh nampan yang di bawa.
"Ngak Zio aja," Mana mau Ziva ikut pelukan sama orang lain yang bukan suami atau saudaranya.
"Tapi mozi jangan ngambek ya seperti Zio," Zefan sudah ikutan seperti Zio memanggil mozi juga pada Ziva.
"Ngak ya mozi bukan anak kecil yang suka ngambek," Memandang Zio seperti mengejek.
"No mozi Zio bukan anak kecil lagi ya," Tolak Zio melepas pelukan mereka yang lagi lengket.
"Daddy tunggu di sini ya, kemarin Zio beli mainan baru," Meninggalkan dua orang dewasa itu di ruangan tamu.
"Ini rumah kamu Va?," Zefan masih penasaran sama pemilik rumah ini.
"Menurut mas?," Ziva bertanya balik.
__ADS_1
"Mas kan nanya kamu Va," Ditanya malah menjawab pertanyaan dengan pertanyaan balik kapan dapat jawaban coba.
"Ngak Iva kerja disini," Jawab Ziva ingin tau ekpresi wajah Zefan jika Ziva bekerja di rumah itu.
"Ngak mau cari kerjaan lain gitu, kamu cantik ngak cocok kerja seperti ini," Tidak menyangka Ziva bekerja di rumah besar itu merasa tidak cocok saja dengan wajah cantik Ziva.
"Jadi mas merasa Iva cantik ya? apa pun pekerjaan kita yang penting halal mas," Ziva tidak perlu malu sama pekerjaan apa pun yang dia tekuni asal halal dan tidak mencuri itu sudah cukup.
"Iya kamu cantik," Jawaban Zefan membuat wajah Ziva bersemu merah mendengar pujian itu.
"Mas bisa aja," Seketika jantung Ziva berdetak lebih kencang.
"Va saya mau bicara serius sama kamu," Kini raut wajah Zefan tidak seperti tadi yang lagi sedikit becanda.
"Mau bicara apa mas?," Kenapa? sekarang suasana tiba tiba jadi tegang Ziva rasakan.
"Sejak pertama pertemuan kita dan seiring berjalannya waktu kita yang saling mengenali saya merasa nyaman bersama kamu.
Rasa saya buat kamu semakin hari kian tumbuh, izinkan saya memasuki kehidupan mu dan izinkan saya mengenal kamu lebih dekat lagi.
Saya suka dan sayang sama kamu, apa lagi dengan adanya Zio yang sudah Saya anggap seperti anak saya sendiri," Jelas Zefan panjang lebar menuturkan isi hatinya pada Ziva dan apa yang dia rasakan selama mereka dekat.
"Mas tau kan status Iva seperti apa? apa mas ngak akan menyesal jika memilih Iva? apa kata keluarga mas nanti dan menilai Iva jika kita bertemu? pikirkan lagi mas jangan buru buru mengambil keputusan, Iva takut nanti mas akan menyesal," Ziva cukup kaget mendengar kejujuran Zefan pada dirinya.
Sebagai perempuan dia cukup tersanjung sama kejujuran Zefan, namun balik lagi pada kondisi sekarang yang merasa tidak mungkin berpihak sama mereka berdua.
"Ini pilihan saya Iva tidak ada yang bisa merubahnya, kamu cukup membuka diri buat saya supaya kita saling mengenal dan untuk keluarga saya biar saya yang bicara nanti," Zefan tidak mau jika Ziva merasa dirinya tidak pantas buat Zefan.
"Mas bisa mencari perempuan yang lebih baik dari Iva, yang single, sederajat sama mas dan pastinya keluarga mas sutuju.
Iva rasa hubungan kita cukup seperti ini saja mas, Iva ngak mau memperburuk keadaan jika kita bersama maka maaf mas Iva ngak bisa," Tolak halus Iva supaya zefan tidak tersinggung.
"Tapi yang saya mau kamu Iva bukan yang lain," Suara tegas Zefan membuka sekujur tubuh Iva menegang karena ini pertama kali Zefan mengeluarkan suara seperti itu sejak mereka kenal.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Tbc.