
Sejak semalam Lisa pulang bersama orang tuanya ke rumah, dimana dulu rumah ini tempat dia di besar kan dengan penuh kasih sayang serta tidak pernah kekurangan apa pun semua tercukupi dengan mudah.
Rumah yang ibarat pepatah, rumah ku surga ku.
Maka di rumah kita sendiri maka kita merasa tenang serta privasi kita terjaga.
Rumah yang damai serta nyaman namun sudah lama tidak pernah Lisa rasakan lebih kurang selama lima tahun ini.
Bukan waktu yang sebentar apa lagi jauh juga dari kota kelahirannya sejak insiden yang tidak pernah Lisa bayangkan atau hanya sekedar berkhayal.
Insiden yang merubah segala jalan cerita hidup Lisa sejak malam itu.
Mulai dari kejadian kelam itu, di benci serta di buang orang tua hingga kejadian naas yang hampir merenggut nyawanya kala itu.
Beruntung saat itu Lisa punya sahabat yang tidak pernah meninggalkan dia dalam keadaan apa pun termasuk saat dia berada di masa sulit serta terendah sekali pun.
Jauh dari orang tua serta orang terkasih mengharuskan Lisa buat kuat untuk bangkit serta membuktikan kalau dia tidak akan kalah walau sedang berada di bawah.
Di saat dia butuh pegangan serta perlindungan Iva ada bersama nya dan menjulurkan tangan meminta Lisa untuk bangkit.
Seolah berkata dengan tegas bangkit dan buktikan kalau kamu nggak akan kalah meski kaki kamu nggak bisa jalan lagi.
Cuma kata kata singkat yang bisa membangkitkan kobaran semangat Lisa dan lagi dia di uji saat kecelakaan yang menyebabkan koma selama satu tahun lebih.
Bukannya cobaan datang mengharuskan kita kuat dan membuktikan apakah kita sanggup melewati semua itu atau akan menyerah pada keadaan.
Kalau menyerah maka bersiap buat menyandang status lemah sebab baru di uji segitu sudah menyerah.
Semangat itu mulai bangkit lagi saat Lisa sadar dari koma dan menyaksikan tumbuh kembang janin yang dia kandung selama sembilan bulan kurang itu.
Ya Zio lahir sebelum waktu nya akibat kecelakaan yang menimpa Lisa.
Perkembangan Zio yang memberi Lisa semangat serta energi lebih buat bangkit.
Sejak Lisa bangun dia selalu menerima video atau foto Zio yang Iva kirim dengan tujuan agar Lisa segera bangkit dan tunjukkan kalau dia baik baik saja setelah sekian lama.
Butuh waktu lama buat sembuh dan kembali ke Negara awal kehancuran hidup nya maka di sana pula Lisa akan bangkit.
Sebab buat membuktikan kalau kita baik baik saja dengan kembali pada tempat kehancuran kita untuk membuktikan kita sudah melupakan masa itu.
Kembali dengan menerima kenyataan anak sendiri memanggil tante, sakit itu yang Lisa rasakan saat itu.
Sesak nya sampai sulit bernafas, anak yang di kandung serta bertaruh nyawa malah menganggap kita orang lain.
Pertemuan kembali sama Bang Endra yang tidak lain ayah kandung Zio serta mereka yang menjalin hubungan kembali itu sungguh sulit bagi Lisa.
Panda serta manda Zio yang menolak kehadiran Lisa.
Sejak dulu selalu seperti itu tanpa alasan yang jelas hingga hubungan mereka di restui.
Dan malam ini puncak perjuangan Lisa di lamar secara dramatis serta bertemu orang tuanya lagi.
__ADS_1
Ya perjuangan tidak akan menkhiani hasil dan Lisa sudah melewati serta merasakan itu.
Jika di tanya seperti apa rasanya makanya jawaban nya adalah nano nano.
Dan jika ingin tau lebih jawaban itu maka rasakan sendiri seperti berada pada posisi Lisa dulu.
Pagi ini Lisa keluar dari kamar yang dulu dia tinggalkan, tidak ada yang berubah dari kamar itu sejak Lisa tinggalkan dulu.
Semua masih sama hanya alas ranjang yang berbeda sebab selalu di ganti.
"Sini sayang sarapan, mama udah buat kan sarapan kesukaan kamu," Menarik lengan Lisa supaya duduk di samping ah bukan di samping tapi lebih tepatnya di antara kedua orang tuanya.
"Iya ma," Lisa hanya bisa menurut duduk di antara papa dan mamanya.
Dari mata keduanya masih tersirat rasa bersalah serta rindu mendalam sama seperti Lisa.
Mama Lisa mengambil sarapan buat Lisa.
Bukan makanan mewah atau apa hanya menu sederhana yang sudah lama tidak Lisa makan atau bisa saja dia sudah lupa rasanya.
"Makasih ma," Seru Lisa tulus.
Ini yang dia impikan sejak lama, perhatian orang tuanya.
Kasih sayang yang tulus serta kehangatan yang juga sudah lama hilang dalam hidup nya.
Mereka makan dengan tenang, Lisa makan dengan lahap.
Hanya mamanya yang bisa lakukan itu bahkan jika orang belajar sama dia belum tentu rasanya sama.
Terdengar berlebihan tapi itu tak masalah bagi Lisa.
Selesai sarapan.
"Papa nggak ke kantor?" Tanya Lisa saat mendapati papanya hanya menggunakan pakaian santai tidak ada tanda tanda mau ke kantor.
"Papa mau di rumah aja, mau menghabiskan waktu sama princess apa ini," Papa Lisa sudah memutuskan tidak masuk kantor.
Dia masih kangen sama anak semata wayangnya yang sudah lama tidak berjumpa.
"Kan masih bisa nanti malam pa, Lisa juga ada mau kemana mana juga," Lisa hanya tidak mau papanya mengabaikan pekerjaan demi dia.
Masih banyak hari lain fikirnya.
"Nggak apa sayang, kerjaan papa juga lagi sibuk dan juga nggak ada rapat penting," Mengelus kepala Lisa seperti Lisa waktu masih kecil.
Ya selamanya bagi orang tua walau sudah sebesar apa pun anak mereka atau sudah jadi orang tua sekali pun tapi tetap bagi mereka dia adalah putri kecil mereka yang akan selalu di manjakan.
"Ya udah kalau papa maunya gitu," Lisa mengalah, toh tidak ada guna berdebat menyuruh papanya ke kantor kalau dia sendiri sudah memutuskan buat di rumah aja.
Biarlah mereka menghabiskan waktu seharian di rumah saja serta melepas rasa rindu.
__ADS_1
Mereka bercerita banyak hal dengan sesekali tertawa kala ada cerita lucu, hingga.
"Sayang jadi cucu mama mana?" Ya mereka belum tau Zio cucu mereka walau semalam hadir di sana.
"Ada, bahkan semalam juga ada di pesta," Jawab Lisa.
"Kok mama nggak tau," Ya mana tau kan tidak ada yang memberi tau.
"Mama ingat anak kecil yang nempel sama Iva dan setelah itu sama bang Endra?" Mengingatkan Zio yang selalu nempel sama Iva sebab dia tau Iva mommy nya bukan Lisa meski sudah memanggil Lisa mama.
"Iya, bocah menggemaskan itu.
Saat liat dia rasanya mama mau bawa pulang," Ya siapa yang tidak akan tertarik sama tingkah polah Zio yang lucu di mata semua orang.
"Ya itu anak Lisa ma," Keduanya kaget mendengar jawaban Lisa
Tidak menyangka cucu mereka akan setampan itu.
Cucu yang dulu mereka tolak kehadiran nya bahkan sampai mengusir Lisa.
Dan kini lahir dengan sangat tampan, ada rasa sesal di hati mereka.
"Kenapa nggak bilang semalam, kalau tau gitu pasti mama ajak pulang," Ah jadi menyesal sekarang tidak bertanya semalam sebab larut dalam kebahagiaan mereka.
"Mama nggak nanya," Tidak salah Lisa menjawab demikian.
"Lagian ya ma, nggak semudah itu membawa Zio sesuka hati," Jelas Lisa lagi, mengingat Zio banyak yang punya.
"Kenapa? Zio kan cucu mama," Tidak terima Lisa bicara gitu.
Walau gimana pun Zio cucu mereka anak Lisa jadi mereka berhak membawa Zio bersama mereka.
"Zio memang cucu mama anak Lisa, tapi jangan mama lupakan yang Zio tau Iva mommy nya dan papa Syakil dan mama Ila opa omanya.
Kita nggak bisa memaksa Zio ikut kita gitu aja kalau dia nggak mau.
Zio besar sama mereka sejak kecil hingga sekarang tidak pernah tau kalau Lisa mamanya.
Bahkan pertama kali Lisa bertemu Zio dia manggil Lisa tante mama bayangkan gimana hancur hati Lisa ma, anak sendiri manggil tante sama kita bahkan buat dekat aja harus butuh waktu lama.
Jadi mama nggak bisa seenaknya bisa membawa Zio ke rumah ini dengan mudah.
Dan jangan lupakan juga orang tua bang Endra pasti tidak mau jauh sama cucu mereka.
Sekarang Zio punya trio opa oma jadi sebagai opa dan oma yang baik maka kalian harus punya jadwal masing masing jika ingin bersama Zio,"
Ujar Lisa panjang lebar, Zio sekarang sudah seperti orang penting ah bukan orang penting lagi tapi sangat penting bagi mereka semua.
Benar kata Lisa kalau mau bersama Zio maka mereka harus punya jadwal temu agar tidak ada yang saling rebut atau mencuri star untuk membawa Zio bersama mereka.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Bersambung,,,