
Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam dan Iva terbangun karena perut lapar sebab baru makan satu kali hari ini.
Iva mengerjabkan mata buat bangun dan kondisi kamar yang remang remang sebab hanya lampu di atas meja kecil yang hidup.
Zefan tidur dengan memeluk Iva yang sama sama belum mengenakan baju hanya di tutupi selimut saja.
"Mas bangun Iva lapar," Iva menggoyangkan tangan Zefan yang melingkar di perut polosnya.
"Udah jam berapa Zi?" Tanya Zefan dengan suara serak bangun tidur.
"Jam sebelas mas, Iva lapar," Mengusap perut dekat tangan Zefan yang masih melingkar.
"Tunggu bentar ya biar mas pesan makanan dulu," Menghubungi petugas hotel buat memesan makanan yang bisa di bilang makan malam yang telat.
Kalau ibarat mobil yang ngerem kelewatan dari tempat tujuan.
Iva pergi ke kamar mandi buat bersih bersih dan gantian sama Zefan.
Tidak mau bersama walau di ajak Zefan takut khillaf halal lagi kan brabe bisa bisa Iva besok pagi tidak bisa jalan.
Tidak lama makanan datang dan mereka makan dengan lahap.
Masa makan dalam satu hari ini cuma dua kali sama seperti Zefan yang menggempur Iva dua kali juga.
"Mau tidur lagi atau lanjut yang tadi?" Menaik turunkan alis menggoda Iva yang seketika memasang wajah cemberut dengan memajukan bibir ke depan.
Dengan cepat Zefan mengecup bibir Iva sekilas.
Dengan Iva memajukan bibir ke depan itu sama saja meminta Zefan untuk mengecup begitu kira kira penafsiran Zefan yang seenaknya sendiri menyimpulkan.
"Kok di cium sih ah, jangan nakal ya mas.
Kalau mas mupeng Iva yang jadi korban," Kesal Iva menutup bibir nya menggunakan tangan.
"Jadi korban kok begitu menikmati, mau lagi ngak?" Suka menggoda Iva dan bisa saja ini akan jadi kebiasaan baru Zefan.
"Tapi Iva masih capek mas, besok lagi ya.
Kasih Iva istirahat malam ini," Ucap Iva memelas supaya Zefan melepaskan dia malam ini itu pun kalau Zefan tidak khilaf.
__ADS_1
"Nggak ingat apa kata papa Zi, kita nggak boleh pulang tanpa ada hasil, ingat itu," Ck ancaman macam apa itu, di kira buat anak seperti masak mie, rebus air langsung jadi.
Tidak sesederhana itu juga kalau lupa.
"Ya udah kita tinggal di sini aja, lagian kita pulang nggak tinggal di rumah mereka kan punya rumah sendiri," Alasan Iva masih berharap buat bisa bebas.
"Emang mau tiap hari di teror bahas anak, mending kita usaha lagi supaya cepat dapat hasil," Kekeh Zefan ingin mengulang lagi.
"Itu mah maunya mas," Kesal Iva yang berusaha Zefan kecoh.
"Emang iya," Menggiring Iva menuju ranjang.
Dan mengulang kejadian tadi hingga mereka sama sama melepaskan hasrat yang menggebu tiap kali bersentuhan
Pagi menjelang Iva bangun lebih dulu dengan badan remuk habis di jajah Zefan tadi malam.
Bahasanya di jajah tapi mendesah penjajahan macam apa itu.
Iva segera mandi takut kalau Zefan keburu bangun yang ada bakal di serang lagi dan badan minta di antar ke tukang urut.
"Mending mandi lagi ya sebelum mas Zefan bangun," Berjalan pelan menuju kamar mandi tidak lupa Iva kunci dari dalam.
Setengah jam Iva keluar dengan badan segar dan memakai baju yang rapi sebab hari ini akan mengajak Zefan jalan jalan.
"Mas bangun udah pagi," Membelai pipi Zefan pelan tidak lupa memandang dada bidang Zefan yang terekpos sebab selimut yang di gunakan sudah melorot sampai pinggang Zefan.
Pemandangan yang indah di pagi hari buat menyegarkan mata.
"Mas ayo bangun udah pagi, kita jalan jalan yuk," Mengguncang bahu Zefan hingga yang di panggil nama menggeliat meregangkan otot yang terasa tegang di karenakan olahraga semalam.
"Pagi, istri mas udah cantik aja," Menyapa Iva yang sudah rapi sedangkan dirinya masih belum apa apa bahkan tidak mengenakan apa pun di balik selimut tebal itu.
"Pagi mas, mandi gih kita sarapan habis itu jalan jalan yuk," Titah Iva.
Zefan duduk tidak lupa mengecup sekilas bibir yang Iva yang memanggil buat di cium, modus.
Berjalan ke arah kamar mandi dengan percaya diri padahal tidak memakai apa pun, Iva menggeleng kepala saja lalu merapikan tempat tidur yang di jadikan tempat bertempur semalam namun tidak ada yang menang atau kalah, keduanya sama sama menang.
Iva menunggu sambil mengirim chat sama orang rumah yang sudah sejak semalam menanyakan kabar tapi belum sempat Iva balas.
__ADS_1
Hingga sebuah benda kenyal menempel di pipi Iva dan Iva menoleh lalu tersenyum.
"Lagi apa sih, suami udah tampan gini nggak sadar," Duduk di samping Iva dengan sudah rapi menggunakan baju yang Iva siapkan.
"Balas chat Rara sama Lisa juga melihat video Zio yang nangis nanyain Iva.
Lucu Zio ya padahal ada orang tua kandungnya tapi masih suka nangis kalau Iva nggak ada," Menonton lagi video Zio yang merajuk tidak ada Iva di sana.
"Yang Zio tau kan Zizi orang tuanya bukan Lisa dan bang Endra.
Tapi saat Zio besar nanti akan mengerti juga jadi buat sekarang jangan terlalu di paksakan," Mengecup puncak kepala Iva lalu mereka berjalan keluar dengan bergandengan tangan.
Sebelum jalan jalan mereka sarapan dulu tapi tidak di restauran hotel tapi mencoba tempat baru buat menukar selera agar tidak itu itu saja.
Hari ini khusus Zefan berikan buat memanjakan Iva akan segala hal yang di mau.
Zefan hanya menuruti saja tapi semua itu tidak gratis akan ada imbalan yang harus Iva bayar nanti malam.
Puas jalan jalan satu harian Zefan mengajak Iva kembali ke hotel dengan beberapa kantong belanjaan yang di tenteng Zefan.
"Capek hm?" Iva hanya mengangguk sebagai jawaban dan tidak lupa senyum manis yang mengembang di wajah cantik itu ya Iva makin cantik di mata Zefan bahkan bertambah tiap saat sejak setelah menikah.
"Capek sih mas, tapi Iva juga senang," Memeluk Zefan dari samping.
Kini mereka lagi bersantai di sofa saja sambil duduk dekat jendela kaca memperhatikan keluar setelah mandi tadi.
"Yang penting Zizi bahagia apa pun akan mas lakukan," Membalas pelukan Iva tidak kalah erat.
Seakan pelukan itu tidak mau di lepas atau tidak rela buat di lepas.
"Tapi itu semua nggak gratis," Bisik Zefan tidak lupa menggigit pelan daun telinga Iva hingga Iva merasakan seperti ada aliran listrik di tubuh nya.
"Iva udah nebak mas, mana ada yang gratis coba," Pasrah Iva siap buat di jajah Zefan lagi.
Di jajah tanpa harus melapor tanpa merasakan penderitaan yang ada hanya kenikmatan.
\=\=\=\=\=
Tbc.
__ADS_1